The Spirit of Marvel: Antara Dosen dan Pejuang Skripsi

0

Film The Avenger: Age of Ultron berhasil menarik banyak penonton dari seluruh penjuru dunia. Aksi heroik Iron Man, Thor, Captain America, Hulk, Black Widow, Eagle Eye, serta dua hero baru, melawan sisi gelap Ultron berhasil membuat sekuel film besutan Marvel itu tampil menggelegar.

Boleh diakui, saya merupakan salah satu mahasiswa yang tidak ingin melewatkan satu pun film Super Hero dari negara Paman Sam itu. Bukan karena saya nilai itu film terbaik sepanjang masa. Tapi, karena setiap film yang dibuat oleh Marvel selalu menimbulkan tanda tanya: superhero apa lagi yang akan tampil di tahun berikutnya?

Soalnya kalau mau diperhatikan lebih spesifik lagi, film besutan Marvel tergolong monoton. Lihat saja, ada satu pola yang selalu ditampilkan oleh film-film heroik ini: Setiap tokoh yang menjadi musuh superhero Marvel ini selalu berasal dari kekuatan dahsyat (re: ilmu pengetahuan) yang disalahgunakan oleh sekelompok manusia biadab.

Ya, kekuatan itu sebenarnya bisa menjadi kekuatan untuk membuat kedamaian di dunia. Namun, karena jatuh ke tangan yang salah, ya malah dijadikan alat untuk menghancurkan dunia. Pledoinya, menghancurkan dunia adalah satu-satunya jalan untuk menciptakan kedamaian di dunia.

Nah, klaim saya atas film-film The Marvel ini, mengingatkan saya atas pengalaman-pengalaman saya selama menghabiskan detik-detik terakhir di dunia perkuliahan (amin). Pengalaman ini boleh dibilang juga mewakili pengalaman-pengalaman mahasiswa yang senasib dengan saya. Ya tapi juga jangan sampai senasib juga, miris tahu! Tapi lagi, kalau setelah baca artikel ini terus senyum-senyum sendiri sambil ngangguk-ngangguk tidak jelas, berarti anda termasuk mahasiswa kritis. (Di kampus saya, julukan mahasiswa kritis itu diberikan untuk mahasiswa yang IPK-nya tidak sampai 1).

Ingat film Iron Man 3? Musuhnya itu merupakan salah satu ilmuwan yang pernah menawarkan diri untuk menjadi partner Tony Stark, tokoh congkak nan manusiawi yang berada di balik jubah besi Iron Man. Karena penolakan Stark, akhirnya si musuh itu berkembang menjadi tokoh antagonis. Kemampuannya untuk mengembangkan teknologi manipulasi DNA, menjadi momok bagi Iron Man sendiri, maupun instansi-instansi keamanan di Amerika. Intinya, ya kemampuan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi yang disalahgunakan.

Ini kan jadi sama aja seperti dosen. Dia memiliki wewenang untuk menolak atau menerima konsul skripsi. Ada satu upaya administratif dari para dosen dengan membuat jadwal bimbingan skripsi bagi para mahasiswa. Nah, setiap hari bimbingan tiba, bisa dipastikan banyak mahasiswa yang antre di ruang dosen yang bersangkutan.

Sayangnya, menjadi dosen itu memang tidak mudah, sama sulitnya dengan menjadi tokoh antagonis di film Marvel. Ia harus memikirkan bagaimana mengatur waktu mengajar, memeriksa tugas dan jadwal bimbingan, serta proyek individunya (eh). Belum lagi di kampus saya, proporsi dosen dan mahasiswa tidak sesuai dengan ketentuan skripsi. Satu dosen, harus menghandel 30-60 mahasiswa. Efeknya menjalar ke mahasiswa bimbingannya.

Salah satu teman saya bercerita mengenai pengalamannya menjalani konsultasi skripsi ke dosen tertentu. Saat itu ia sudah menunggu di kampus karena hari bimbingan tiba. Namun, karena saat itu dosennya ada ‘halangan’. Alhasil, rencana bimbingan pupus dan harus menunggu sekian hari berikutnya untuk kembali konsultasi.

Ada sejumlah kemungkinan yang mungkin menjadi respon mahasiswa tersebut. Pertama, ia akan sabar menunggu hingga hari berikutnya agar tidak menjadi makhluk hijau besar seperti hulk, dengan tetap menanggung risiko di hari berikutnya si dosen kembali memiliki ‘halangan’. Kedua, si mahasiswa akan depresi seperti Captain America untuk beberapa hari, dan kembali bangkit menjadi pejuang skripsi di saat yang tepat, yakni saat hari bimbingan tiba.

Si mahasiswa juga bisa menjadi pemerintah Amerika yang cuma bisa bergunjing saat presidennya disandera musuh Iron Man di sekuel ketiganya, dan melakukan upaya antisipatif dengan meminta Iron Patriot mendampingi presiden selama perjalanan di pesawat. Padahal, Iron Patriot sendiri sudah diambilalih oleh pihak musuh. Bisa juga, ia akan berlatih memakai jubah Ant Man dan mengecil, menyelinap ke markas musuh (ruang dosen) untuk mengambil produk musuhnya (menyelipkan draft skripsi di meja dosen). Risikonya, si musuh ternyata sudah merencanakan penangkapan Ant Man dan justru mengunci Ant Man dalam sebuah tabung kecil (draft skripsi tetap tidak bisa dibaca).

Semua kembali ke pejuang skripsi itu, apakah bisa keluar dari cengkeraman wewenang dosen yang bisa digunakan untuk kemaslahatan umat atau ke luar kota melaksanakan proyeknya. Eh, ada sih satu cara lagi untuk melancarkan konsultasi skripsi. Caranya, dengan menjadi Iron Patriot yang menjadi bagian dari instansi keamanan negeri di Amerika dan selalu mengabdi (re: menjilat) presidennya.

Kesimpulannya, cerita heroik di film besutan Marvel terinspirasi dari kehidupan antara dosen dan pejuang skripsi. Yeah!!!

Barangkali anda juga suka