MEA Telah Tiba, Bersiaplah!

2

“Bersamaan dengan berhentinya alunan terompet pergantian tahun, sayup-sayup terdengar genderang MEA sudah mulai ditabuh”.

Bagi sebagian kalangan di negri kita, istilah ini sedang digaungkan mungkin masih terdengar cukup asing di telinga. Bahkan, bagi para generasi muda, kata EeAaa…, terindikasi masih lebih akrab didengar dan diucapkan dalam keseharian dibandingkan MEA.

Lalu apa beda EeAaa..dan MEA? (Bedanya, kata EeeA akan mengalami proses pendewasaan  berganti MEA pada waktunya) Ahh.. Sebelum tulisan ini ngelantur lebih jauh, ada baiknya kita menyeduh Kopi Luwak (Asli Indonesia), agar kita terlihat membaca dengan lebih serius.

Oke, kita kembali ke topik sesungguhnya. Pada dasarnya, perihal MEA sendiri beberapa waktu belakangan kerap  diangkat dalam berbagai kesempatan di setiap media tanah air. Di media cetak, kolom-kolom opini diberikan ruang kepada para pakar dan akademisi  untuk saling beradu teori tentang kajian kesiapan Indonesia dalam menghadapi MEA. Di saluran televisi, beberapa program berita ekonomi kerap mengundang narasumber stakeholder terkait, sembari sesekali waktu mengangkat profil sukses figur penggerak ekonomi berbasis Usaha Kecil dan Menengah (UKM), yang siap menyembut tantangan MEA. Tidak hanya itu, bahkan di saluran radio pun, Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (LPP RRI) kerap menyiarkan program  Asean In Action (AIA), guna  mengabarkan tentang pentingnya MEA dan mengenalkan masing-masing budaya negara Anggota ASEAN ke pelosok-pelosok tanah air lewat jejaring radio.

Namun, pada kenyatannnya dalam berita yang dikutip dari TEMPO online 4 Januari 2016, sebesar 30 persen masyarakat Indonesia masih belum memahami tentang MEA.   Selengkapnya.

Rasanya tak bijak sepenuhnya menyalahkan masyarakat atas ketidakpahaman tentang MEA. Karena  apa daya, harus diakui, sepertinya porsi tentang kisruh politik tanah air lebih banyak dan lebih seksi untuk  diangkat oleh media kita. Sehingga, masyarakat  (terpaksa) lebih familiar dengan MKD (Mahkamah Komedi Dagelan), daripada mengerti MEA.

Oke, pembaca yang budiman nan ceria, ada baiknya sebelum tulisan ini semakin panjang, kita gambarkan dulu tentang MEA itu sendiri. MEA adalah singkatan dari Masyarakat Ekonomi ASEAN, jika ditranslate  dalam bahasa inggris menjadi ASEAN Economy Community (AEC).

Sebenarnya, inisiatif pembentukan integrasi ASEAN telah muncul pada 1997. Saat itu, negara-negara ASEAN meluncurkan inisiatif pembentukan integrasi kawasan ASEAN atau komunitas masyarakat ASEAN melalui ASEAN Vision 2020  dalam KTT ASEAN di Kuala Lumpur, Malaysia. Inisiatif ini kemudian diwujudkan dalam bentuk roadmap jangka panjang yang bernama Hanoi Plan of Action, yang disepakati pada 1998. Setelah itu, pada Oktober 2003 saat KTT ASEAN diselenggrakan di Bali, Indonesia, disepakatii bahwa Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) menjadi tujuan dari integrasi ekonomi regional di kawasan Asia Tenggara yang akan diberlakukan pada tahun 2020.

Namun pada  KTT ASEAN ke-12 di Filipina 2007 yang melahirkan Deklarasi Cebu, salah satu kesepakatannya menyepakati tentang percepatan terwujudnya MEA pada awal   1 Januari 2015, namun kembali dengan beragam pertimbangan kesiapan dari masing-masing negara anggota ASEAN, akhirnya MEA disepakati diterapkan pada 31 Desember 2015, dan mulai diberlakukan pada 1 Januari 2016

Pada hakikatnya, MEA adalah pembentukan pasar tunggal antarsesama negara ASEAN, dimana dalam pelaksanaannya akan diberlakukan bebas tarif dalam setiap perdagangan barang, jasa, tenaga kerja, investasi dan modal.  Bisa dibilang liberalisasi perdagangan yang disepakati dalam kawasan. Jadi jangan heran, jika beberapa tahun setelah ini akan marak produk-produk buatan negara tetangga di pasaran kita, setidaknya bukan hanya jersey bola saja yang berlabel KW Thailand, SPG produk-produk ternama supermarket  bisa  jadi akan mempunyai  label yang sama. Hal ini cukup baik dalam perkembangan dinamika produk yang beredar, karena meminimalkan dominasi made in China atas setiap barang dan hal yang kita kenakan.

Jika mengacu pada realitas pasar, tentunya akan terjadi persaingan yang cukup ketat terhadap segala jenis  komoditas perdagangan barang dan jasa. Namun yang menjadi sorotan dan kajian, beberapa survei masih meragukan tentang kesiapan Sumberdaya Manusia (SDM) masyarakat Indonesia. Bahkan di beberapa kesempatan hasil survei Lembaga Kajian tanah air kerap menempatkan tingkat kualitas SDM Indonesia masih menempati papan tengah, dibanding negara ASEAN yang lainnya  macam; Singapura, Thailand, Malasyia juga  Vietnam.

Sebagai generasi pemuda yang lahir di era 90-an dan berjiwa Pancasila, dengan semangat Sumpah Pemuda, penulis mengajak segenap pembaca yang budiman untuk senantiasa optimis memandang dan menghadapi MEA yang telah tiba. Karena harus diakui, dengan letak Geografis dan keberadaan Sumberdaya Alam (SDA)  yang paling kaya dibandingkan negara ASEAN lain, sudah menjadi  keharusan generasi muda untuk mampu berinovasi dan memenagi  dalam setiap persaingan di kawasan ASEAN.

Rasa optimis yang sama juga diungkapan oleh Presiden kita. Seperti diungkapkan Jokowi dalam sebuah siaran televisi nasional, sepulang mengahadiri KTT ASEAN di Malaysia “Kalau kita yang takut, itu keliru. Mereka yang takut kita, kok kita jadi takut mereka”. Sungguh ini sebuah pernyataan yang amat bijak. Karena akan sangat naif jika seorang Presiden tidak memberikan nada yang positif dan optimis untuk membesarkan hati rakyat, di saat negara tengah dalam persaingan yang ketat. Namun jika kita merenungi  secara mendalam ucapan Pak Presiden, sangat benar adanya, MEA sudah tiba, jangan pernah takut pada mereka, namun takutlah pada Tuhan Yang Maha Esa dan Orang Tua!

Barangkali anda juga suka