Membayangkan Hidup di Kasembon Malang: Sebuah Catatan Perjalanan (2)

0

Artikel ini adalah lanjutan dari tulisan saya sebelumnya. Masih di hari pertama perjalanan dari Malang ke Solo. Karena ditulisan pertama saya terlalu berkonsentrasi mengulas pengalaman menaiki Tambangan, saya jadi lupa dengan hasil pengamatan sederhana saya saat melintasi kawasan pelosok di Kabupaten Malang.

Mau tidak mau, saya mengakui untuk dua minggu ke belakang dan minimal enam bulan ke depan, saya termasuk orang yang tinggal di kawasan pelosok Kabupaten Malang. Cuma saja, tempat tinggal saya ada di sebelah utara Malang. Rasanya tinggal di sana itu sulit, untuk kami para mahasiswa yang sudah empat sampai lima tahun tinggal di sekitaran kampus.

Untuk cari makan, kami harus mengendarai sepeda dengan jarak hampir dua kilometer. Berhubung belum ada beras, terpaksa kami selalu mencari makan di warung. Paling-paling, sekalipun terpaksa, kami menghabisan persediaan mie instan yang dimasak menggunakan heater.

Untuk ke kampus, setidaknya kami harus menempuh jarak 20 menit sampai 30 menit, tergantung kecepatan. Mencari koneksi wifi, kami harus menuju griya telkomsel di Karangploso. Dari tempat biasa kami ngopi, tidak usah ditanya, sepertinya kami akan berpikir dua kali untuk ngopi sampai dini hari. Bagi sebagian orang, mungkin jarak tersebut sudah biasa ditempuh. Apalagi orang-orang yang tinggal di ibu kota, mereka pasti sudah biasa hidup di jalanan karena macet. Namun, ya itulah kami, karena sudah terbiasa pergi ke kampus hanya dengan 5-10 menit.

Dengan kondisi seperti itu, saya yang baru beberapa hari menyelesaikan perjalanan Malang-Solo melalui sisi lain dari Kabupaten Malang, berpikir bilamana saya tinggal di kawasan paling Barat dari Kabupaten Malang, Kasembon.

Pengandaian ini bermula ketika sebuah argumen yang keluar dari mulut Henry, teman seperjalanan saya. Ia menyatakan, “Malang itu luas ya?” saat melalui Kecamatan Kesambon, wilayah paling Barat di Kabupaten Malang itu. Ya, betul sekali, Malang, terutama Kabupatennya memang sangat luas. Hampir 2 jam perjalanan saya dari kawasan utara Malang saya habiskan untuk keluar dari batas wilayah Kabupaten Malang di Barat, tentunya juga melalui Kota Batu. “Jauh ya? Terus bagaimana kalau warganya mau mengurus ini itu?” lanjut Henry melontarkan pertanyaan sembari berkonsentrasi di jalan yang meliak-liuk. Pertanyaan itu pun memicu saya untuk berandai-andai, bagaimana saya yang berada di posisi masyarakat Kasembon.

Bila itu adalah realita, maka saya dan ketiga penghuni kontrakan lainnya akan lebih kesulitan untuk mencari warung makan. Sehingga, terpaksa kami harus menambah persediaan beras. Untuk sayur dan lauk-pauk, otomatis harus ada yang rela meluangkan waktunya untuk berbelanja di pasar. Mau belanja di supermarket tidak mungkin. Jangankan supermarket, kantor kecamatan saja jauh dari lokasi tempat tinggal kami. Belum lagi waktu masak, sepertinya tetap harus ada jadwal masak untuk anak-anak di kontrakan kami. Tentunya ini akan memotong waktu kami untuk mengerjakan skripsi dan mengurus blog ini.

Oh iya, belum lagi kalau hari bimbingan sudah tiba. Kami harus ke kampus paling lambat dua jam sebelum waktu bimbingan berakhir. Ya tapi tetap menanggung risiko kalau dosennya ada “halangan” untuk bimbingan.

Oh iya, itu kalau kami mengontrak dan menyandang status mahasiswa. Kalau kami sejak lahir tinggal di daerah tersebut, mungkin kami akan lebih sibuk mengurus sawah dibandingkan mengurus blog ini. Mungkin juga, setiap malam saya sedang nongkrong di pinggir sawah untuk menunggu pengendara motor yang bagus lewat, lalu bersama-sama dengan teman-teman membegal dan membawa kabur motor orang. Terus, berita di media massa jadi booming deh, abis itu berhasil deh jadi pengalihan isu. Kami bakal lebih berjasa untuk membuat pembodohan ke masyarakat, dibandingkan harus jadi mahasiswa, yang cuma berjasa buat kantong-kantong pejabat kampus.

Untuk sekolah, kami cuma berniat sampai SD atau SMP aja. Sekolah SMA juga syukur-syukur kalau punya dana. Dalam melihat mahasiswa sekarang, pasti sangat ‘wah’ , pasti pintar dan punya duit, bisa nih diplorotin. Kami tidak akan sadar, bahwa ada mahasiswa-mahasiswa yang kere dan rela mencari kontrakan di pelosok demi dapat harga yang murah. Uang jajan tidak perlu banyak-banyak, karena kami akan lebih banyak menghabiskan waktu untuk bersosialisasi.

Apakah saya salah bila berbuat seperti itu? Sepertinya tidak, karena setelah saya kuliah di jurusan psikologi, saya jadi meyakini apa yang menjadi karakter orang sekarang sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekitar, termasuk sistem. Nah, sistem ini yang membuat orang-orang di pelosok tak bisa merasakan pendidikan layak, sehingga perilaku mereka juga akan menjadi seperti itu. Bila kami tinggal di pelosok, mungkin kami tak bisa mengenal buku seperti sekarang. Mana bisa kami mencerna apakah Setya Novanto atau Sudirman Said yang benar? Itu akan sulit, apalagi untuk mengenal apa itu MKD? Kalau misalnya orang-orang di kampung saya bilang saya anak pintar, bukan berarti saya bisa jadi pintar kalau tinggal di Kesamben, karena saya cuma korban ketidakmerataan pembangunan.

Barangkali anda juga suka