Berharap Ada Tanda “Rawan Begal” Pada Google Map: Sebuah Catatan Perjalanan (3)

2

Mulanya dalam artikel ini saya ingin bercerita tentang perjalanan saya menuju Solo di hari kedua 31 Desember 2015. Namun, setelah melalui perjalanan panjang kembali ke Malang, saya jadi lebih tertarik untuk menceritakannya melalui artikel ini. Ya, saya memutuskan untuk mengabaikan pengamatan saya melintasi Nganjuk, Madiun, Ngawi, Sragen dan Solo.

Saya bersama teman dalam perjalanan, Henry, kembali menempuh perjalanan balik ke Malang menggunakan sepeda motor, Minggu, 3 Januari 2016 pukul 15.45 WIB. Sepanjang jalan kami mengikuti rute yang ditunjukkan oleh Google Map. Mulai Solo sampai Nganjuk, kami dituntun Google Map dengan sangat baik. Baru saat memasuki Kediri, kami mengalami kekhawatiran berlebih. Saat itu waktu menunjukkan 21.30 WIB.

Karena terlalu menurut dengan petunjuk dari teknologi itu, kami di bawa ke jalan kampung, dimana kondisi jalan di sana tanpa penerangan dan sangat jarang kendaraan berlalu lalang pada malam hari. Kondisi jalan pada siang hari, saya jadikan foto ilustrasi pada postingan ini. Sekalinya ada lampu yang sudah tampak dari kejauhan, sumbernya adalah sekumpulan orang yang sedang membantu evakuasi korban kecelakaan minibus dengan pohon.

Saat melaluinya, kami masih mendengar para korban yang berteriak kesakitan dan minta pertolongan. “Pak, tolong pak. Aduuuuh, sakit,” lirih korban kecelakaan itu dengan suara agak bergetar. Mau apalagi, kami tetap harus melanjutkan perjalanan dengan mengabaikan lirih para korban yang sedang dibantu oleh puluhan orang di sana.

Coba saya deskripsikan jalan yang saya lalui tersebut. Kami berbelok dari Jl Panglima Sudirman (disebut juga Jl Raya Kayen), Purwosari, Kediri, menuju ke jalan kampung yang menurut google map masuk dalam kawasan Bandar Kedung Mulyo, Jombang. Jalan pertama yang kami lalui setelah belok, adalah rumah-rumah warga. Penerangan masih ada, meskipun sangat minim. Jarak antara rumah satu dengan lainnya berjauhan. Sesekali kami menemukan sawah membentang di antara rumah-rumah warga. Lebar jalan masih cukup untuk dilintasi dua mobil.

Setelah melintasi jalan tersebut kurang lebih 8-10 kilometer dan kembali memasuki kawasan Purwosari, Kediri, barulah adrenalin kami mulai terpacu. Jalan mengecil, hanya selebar satu mobil ditambah satu motor. Jumlah rumah warga semakin berkurang, sampai jumlahnya nol. Yang ada hanya sawah dan pepohonan di kanan dan kiri jalan. Penerangan hanya bersumber dari sepeda motor yang kami kendarai. Jarak pandang tak lebih dari dua meter.

Jadi, ketika ada tikungan tajam, terkadang Henry yang mengendarai motor di kecepatan 60 km/jam sampai 80 km/jam kebablasan dan hampir tercebur ke sawah. Untungnya, jalan di sana mulus sehingga perjalanan kami tak harus terganggu dengan bebatuan yang memperlambat laju sepeda motor.

Jalan seperti itu kami lalui paling tidak 35 kiloeter (google map). Cukup panjang untuk sepeda motor yang melaju di malam hari, pukul 20.30 WIB. Saat itu yang ada di pikiran kami cuma do’a agar tak terjadi apa-apa, baik hal-hal yang mistis, ataupun kriminil. Saya hanya melampiaskan kekhawatiran saya dengan misuh-misuh, sedangkan Henry melampiaskannya dengan menakut-nakuti saya sambil mengakui kalau dia sebenarnya sama takutnya dengan saya.

Sekitar 30-45 menit kami melintasi jalur tersebut, tapi rasanya seperti dua jam. Maklum, jalur mencekam itu baru pertama kali kami lalui. Selain rasa takut, saat itu yang kami pikirkan adalah bagaimana cara menyalahkan google. map. Ketersediaan fasilitas ini sebenarnya sangat membantu kebanyakan orang untuk sampai ke suatu tujuan. Sayang, google map tidak memperhatikan faktor sosial budaya di Indonesia. Ini bukan pertama kalinya saya merasa dikelabuhi oleh google map.

Pertama, saat perjalanan menuji Solo di hari pertama, Rabu, 30 Desember 2015. Kami sempat dibuat bingung oleh google map lantaran kami ditunjukkan jalan kampung. Tidak ada masalah sebenarnya, karena saat melintasi jalan kampung setelah Tambangan itu, jam masih menunjukkan pukul 12.45 WIB. Tapi tidak, bila ternyata ada acara pernikahan yang mengharuskan jalan ditutup. Kami pun kebingungan, sambil bergumam “seandainya google map dibuat orang Indonesia, pasti kondangan jadi hal yang diperhatikan dalam melakukan navigasi”. Khayal memang, tapi tidak ada yang membantah banyak jalan ditutup karena dipakai untuk tamu-tamu berbatik yang lagi’ kondangan’.

Tak hanya itu, awal bulan Agustus 2015 lalu, adik saya sedang berkunjung ke Malang. Saya jelas mengajak adik saya jalan-jalan. Saat itu, Pantai Tiga Warna yang kami tuju. Berangkatlah saya, pacar saya dan adik saya menuju pantai itu menggunakan dua sepeda motor dengan wahyu dari google map. Sesampainya di kawasan Gedog Wetan, Kabupaten Malang, kami tiba-tiba diarahkan ke jalan yang menyimpang dari jalan utama menuju jalan kampung.

Dua kilometer pertama, kami masih berpikir positif karena kondisi jalan masih layak dilintasi dua sepeda motor yang ringkih itu. Namun, kondisi berubah saat jalan menjadi makadam. Jalan makadam itu, jalan berbatuan. Batunya tak sebesar kerikil, tapi besarnya seperti kepala salah satu penulis Sediksi, Moch. Choirul Anwar. Otomatis, kami hanya bisa mengeluh dengan kondisi tersebut. Mulai dari Gondanglegi, sampai komplek Pantai Tiga Warna dkk, kami melintasi Jl Makadam. “Huft”, kami pun hanya bisa menghujat google map. Kenapa kami terlalu yakin dengan fasilitas google map. Seandainya google map buatan orang Indonesia, pasti dia akan memberi pertanda bahwa jalur yang akan kami lintasi belum tersentuh pembangunan.

Seperti halnya jalan yang kami lalui Minggu, 3 Januari 2016 lalu, yang gelap dan sempit. Bila ada google map buatan orang Indonesia, pasti ada tanda bahwa jalur yang akan kami lalui dari Solo ke Malang itu,’horor dan rawan begal’. Sayangnya, orang Indonesia belum ada yang bisa membuat fasilitas yang menyamai google map. Atau saya yang terlalu awam sehingga tak tahu hal-hal semacam ini.

Meski pada akhirnya kami sampai pada daerah tujuan awal, namun tetap saja kami sedikit mengeluh dengan google map. Google map sudah menjebak kami dengan membuat kami melintasi jalan yang sungguh mencekam, ataupun mengganggu. Seandainya saja bukan Solo, Malang atau Pantai Tiga Warna yang kami tuju, namun surga, kami rela ditunjukkan oleh Google Map jalan yang bebatuan. Ya, google map belum bisa menyaingi agama-agama yang diklaim bisa menujukkan jalan yang benar. LOL.