Potongan Keeksotisan Malang Selatan (2/habis): Dilema Eksplorasi Potensi Alam

0

Setelah pada tulisan berjudul Potongan Keeksotisan Malang Selatan (1): Menggauli Enam Pantai Sekaligus dijelaskan akses dan gambaran singkat mengenai  ‘Kawasan Wanawisata dan Bumi Perkemahan Pantai Mbantol’, sebagaimana yang saya janjikan sebelumnya, kini giliran saya membagikan ulasan yang sedikit lebih detil. Sebelumnya, saya ucapkan mohon maaf sekaligus terima kasih sebesar-besarnya kepada para pembaca Sediksi yang sabar menanti kelanjutan tulisan ini. Saya mohon maaf karena baru bisa mempublikasikannya, karena suatu alasan yang jika dijelaskan sejelas-jelasnya, bisa menjadi sebuah buku tersendiri yang kira-kira tebalnya ratusan halaman, haha (sori kalau bercandanya nggak lucu).

Mari kembali ke topik. Di kawasan yang memiliki enam pantai itu, pesona eksotis tersaji ketika kita memasuki satu per satu pantai. Saat mengunjungi tempat itu, saya tidak sampai ‘menghabiskan’ semua pantai. Hanya dua pantai yang sempat saya nikmati, yakni Pantai Mbantol dan Pantai Pulau Doro. Dua pantai itu merupakan pangkal dan ujung gugusan pantai di kawasan itu. Di antara dua pantai ini, terdapat sejumlah pantai lain yang nama-namanya sudah saya sebutkan pada tulisan sebelumnya.

image

Pantai-pantai ini dipisahkan oleh tebing. Untuk menuju ke masing-masing pantai, kita perlu menyusuri jalan setapak di belakang tebing, yang dikelilingi rawa, semak, dan berbagai jenis pohon. Jika berjalan tanpa istirahat, kira-kira hanya perlu waktu 20 menit, dari Pantai Mbantol menuju Pantai Pulau Doro. Saya menyarankan, setiap menemukan bibir pantai, periksa dan tanyakan pada orang (jika ada orang) tentang nama pantai itu. Jika tidak, niscaya kalian akan terus berjalan hingga ujung jalan setapak, yang buntu dengan hamparan hutan bakau dan rawa-rawa.

Saya juga menyarankan, bawalah bekal secukupnya, karena di sepanjang perjalanan dan di pantai-pantai tersebut tidak ada pedagang. Selain itu, kalian juga perlu menyiapkan lotion antinyamuk. Sebab, sepanjang perjalanan kalian bakal menemukan nyamuk yang senantiasa membawa teman-temannya untuk mencumbu kulit mulus kalian. Nah, jika sudah tiba di pantai-pantai itu, saya ucapkan selamat menikmati. Kalian juga bisa menyaksikan drama tenggelamnya matahari yang tampil begitu enerjik, di Pantai Pulau Doro.

 

Dari paparan keindahan yang sengaja tidak saya gambarkan terlalu detil itu, ada beberapa hal yang membuat saya dilema, sehingga saya terus menunda-nunda tulisan ini sebelum akhirnya saya putuskan untuk mempublikasikannya. Yang pertama, saya adalah orang yang percaya dengan kalimat: “Jika ingin keindahan alam terjaga, jangan kabarkan pada siapapun. Sembunyikan alam itu, agar manusia tak mampu menemukannya.”

Di sisi lain, saya ingin memberi tahu dunia bahwa tempat-tempat eksotis semacam ini, terlalu indah jika hanya dikunjungi, mengabadikan satu dua foto, lalu meninggalkan berbagai jenis sampah! Perlu pembaca Sediksi ketahui, selain menampilkan keindahan yang membuat pandangan mata ingin berlama-lama, sebagian dari pantai-pantai ini juga dipenuhi sampah berbagai jenis.

 

Sebagai wahana baru yang masih ‘perawan’, sangat bisa dimaklumi jika sarana kebersihan, seperti tempat sampah, belum banyak tersedia. Alasan ini yang mungkin membuat pengunjung nekat membuang sampahnya secara sembarang, dari pada repot-repot membawanya ke tempat sampah yang jauh dari bibir pantai. “Toh yang saya buang tidak banyak, hanya bungkus rokok dan beberapa plastik,” begitu pikiran yang saya duga ada di benak para pembuang sampah ini. Atau ada dugaan saya yang lebih ekstrem: “nanti pasti ada orang baik atau petugas yang bersedia memungut sampah saya ini, toh saya sudah membayar retribusi untuk masuk ke sini!”

image

Sungguh dua kalimat itu membuat saya cemas. Saya membayangkan jika semua orang memiliki pemikiran seperti itu. Bayangkan, berapa banyak sampah yang berserakan dari ‘sedikit demi sedikit’ hasil pembuangan sembarangan? Kenyataannya adalah, kawasan alam perawan semacam ini belum dikelola secara professional. Jangan membayangkan pantai-pantai ini seperti tempat wisata buatan seperti Jatim Park atau Trans Studio, yang sudah menyiapkan petugas kebersihan agar kenyamanan pengunjung senantiasa terjaga.

Dalam konteks ini, kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan pemerintah karena tidak mampu menyediakan tempat sampah dan membayar petugas kebersihan. Lagipula, pemerintah setempat juga pasti punya hal yang lebih penting untuk dipikirkan dan dikerjakan, misalnya menghitung peluang mendapat sekian persen dari proyek A, kebijakan B, atau menghitung kemungkinan menang di Pilkada periode berikutnya, termasuk memikirkan solusi sengketa pasca-Pilkada jika ada calon lain yang tidak terima dengan perolehan suara.

Mari merenung…

Barangkali anda juga suka