Kemungkinan Juara “Tim Setengah Musim”

1

Mourinho pernah mengolok Arsenal dengan menyebut mereka tim yang hanya bermain bagus di setengah musim. Biasanya, klub berjuluk Meriam London itu bermain bagus di akhir musim dengan serangkaian kemenangan beruntun. Sedangkan pekan-pekan selain akhir musim dihabiskan Arsenal dengan rangkaian cedera atau kecerobohan dalam pertandingan. Maka wajar jika bertahun-tahun Arsenal puasa gelar juara liga.

Musim ini Arsenal tidak seperti biasanya, mereka melesat sejak awal musim. Bersaing di tiga besar klasmen. Namun bulan Januari ini menjadi penurunan bagi Arsenal. Dari empat pertandingan yang dilakoni, mereka hanya memetik satu kemenangan melawan Newcastle. Sisanya adalah dua kali imbang dan sekali kalah melawan Chelsea semalam. Bekas klub Mourinho yang menemukan pola inkonsistensi Arsenal.

Pertandingan Chelsea 24 Februari 2016 malam lalu memunculkan tanda tanya kemungkinan Arsenal untuk benar-benar mewujudkan gelar juara, sekaligus menjawab masalah inkonsistensi mereka. Sedangkan Chelsea berupaya menegaskan merekalah juara bertahan Premiere League terlepas dari posisi klasmen.

Para fans berharap pertandingan seru malam tadi. Dan benar saja, sedari awal permainan berlangsung terbuka. Kedua tim saling adu serangan. Ada momen-momen ketika adu kreativitas antara Ozil dan Fabregas tersaji. Atau adu tajam antara Giroud dan Costa.

Namun menit ke-18, kartu merah yang diterima Mertesacker membuyarkan semua. Costa tampaknya paham betul bahwa pemain Jerman itu lemah dalam hal kecepatan. Kelemahan itu dieksploitasinya. Saat serangan balik berlangsung, umpan terukur Willian diarahkan pada Costa yang bersiap sprint di sebelah Mertesecker. Kalah mengejar bola, Mertesacker melakukan tackle dari belakang yang berbuntut kartu merah.

Lima menit kemudian, umpan silang Ivanovic disambar Costa dan berbuah gol. Dan sejak itu, pertandingan berjalan membosankan. Arsenal si calon juara, hanya membuat satu tembakan tepat sasaran dari sembilan upaya. Apalagi gol.

Hingga akhir, Arsenal tak mampu mengisi ruang kosong yang ditinggalkan Mertesacker. Menarik keluar Giroud dan memasukkan Gabriel Paulista, lalu memasang Ozil sebagai false nine tampaknya bukan keputusan yang benar. Terutama jika tujuan Arsenal adalah memetik setidaknya satu poin. Karena formasi itu tidak memperkuat serangan, meskipun pertahanan mereka sangat kokoh.

Selesai sudah pertandingan malam itu. Dengan poin kosong di kandang sendiri. Membiarkan Leicester melenggang diatas sana dengan selisih tiga poin pasca kemenangan 3-0 atas Stoke City. Sekaligus meneruskan catatan dua kali tanpa kemenangan.

Untuk tim yang berniat memenangi liga, catatan itu terbilang buruk. Terlebih kedua pesaingnya, Leicester dan Manchester City sama-sama belum belum terkalahkan bulan ini. Sementara Tottenham saat ini hanya terpaut dua poin dari Arsenal setelah memperoleh kemenangan kedua beruntun.

Pertandingan semalam menjelaskan bahwa permasalahan Arsenal yang selama ini menghambatnya menjuarai liga belum terpecahkan. Pertama tentunya kecerobohan-kecerobohan yang sering mereka perbuat. Di pertandingan itu ditunjukkan dengan lalainya pemain Arsenal menutup pergerakan Willian yang berujung kartu merah pada Mertesacker.

Kecerobohan-kecerobohan ini bukan semata kesalahan pemain. Tiap musimnya mereka diingatkan tentang betapa lama mereka tidak mengangkat gelar juara. Pengingatnya adalah media-media Inggris yang terkenal garang itu.

Tentu tidak mudah bagi mereka dan tim manapun menghadapi tekanan media dan fans yang sedemikian. Masih ingat tragedi Steven Gerrard yang terpeleset dua musim lalu, saat satu kaki Liverpool sudah di pintu juara? Itu salah satu akibat besarnya tekanan kepada pemain. Menjadikan mereka tidak mampu bermain lepas. Dan bagi Arsenal, mereka menghadapinya setiap musim.

Permasalahan kedua adalah cedera. Ozil dan Sanchez belum sepenuhnya bugar malam tadi. Mereka tidak bisa menunjukkan performa maksimal. Lalu seandainya Coquelin tidak cedera, dia yang seharusnya berada di posisi Flamini yang makin menua. Barangkali Coquelin tidak akan membiarkan Willian seleluasa itu melepas umpan terukur tanpa pengawalan pada Costa.

Lalu permasalahan terakhir adalah kurangnya gebrakan-gebrakan taktikal yang revolusioner dan radikal. Apa yang bisa kita harapkan dari Wenger selain bermain sangat berhati-hati dan cenderung mencari aman? Banyak tim yang mampu mengejar ketertinggalan dan setidaknya meraih hasil imbang saat kalah jumlah pemain. Mereka meraihnya dengan taktik permainan yang radikal dan mengejutkan lawan.

Seandainya Guardiola ada di posisi Wenger malam itu, kemungkinan dia akan menginstruksikan Flamini bermain sebagai bek tengah menggantikan Mertesacker. Bukannya mengganti Giroud yang merupakan pencetak gol terbanyak bagi tim. Toh, Ramsey yang juga dimainkan malam itu dapat berperan sebagai gelandang box to box yang mampu bertahan dan menyerang dengan baiknya.

Sedangkan dengan rapatnya pertahanan Chelsea, Arsenal butuh pemain yang pintar membaca ruang. Giroud tahu benar masalah ruang itu. Dan juga 22 umpan silang yang dilepaskan Arsenal menjadi sia-sia karena tak ada pemain di dalam kotak penalti yang siap menyambutnya lewat duel udara.

Lalu apakah ini pertanda dimulainya masa inkonsistensi Arsenal musim ini? Entahlah, hanya Wenger dan para pemain Arsenal yang tahu. Namun yang jelas, masih ada 15 pertandingan yang harus dilalui Arsenal. Sedangkan para pesaing semakin menemukan bentuk kemapananan dalam timnya.

Leicester baru saja menyelesaikan transfer bek tengah versatile yang dibutuhkannya untuk menjaga kedalaman skuad. Manchester City semakin menunjukkan konsistensi permainannya. Tottenham dan Pochettino tampak semakin padu. Maka apapun permasalahan yang dihadapi Arsenal harus segera terselesaikan. Atau Arsenal bisa kembali finish di peringkat ke-4, seperti biasanya.

Barangkali anda juga suka