Berkisah Jalan Raya Pos dalam Segelas Kopi Pahit

0

“Karena perjalanan bukan hanya sekedar perpindahan dari tempat asal menuju tempat tujuan, lebih dari itu perjalanan adalah proses panjang yang menyimpan banyak catatan cerita dan goresan kenangan”

Mungkin tak semua perjalanan memunculkan sebuah cerita dan kenangan, dan juga sangat mungkin tak semua orang setuju dengan definisi perjalanan yang melankolis seperti yang tertulis diatas. Tapi untuk kali ini (saja), saya berharap (maksa) anda percaya pada arti dari perjalanan tersebut, karena saya tidak akan melanjutkan tulisan ini kalau anda sudah tidak mempercayai saya.

Oke mari kita lanjutkan perjalanan. Beberapa waktu yang lalu karena sebuah kepentingan kami melakukan sebuah perjalanan dari Kota Semarang menuju Kota Kudus. Perjalanan yang dilakukan oleh beberapa orang, saya dan kawan-kawan dari Jogja, Makasar, Pekalongan, dan Ternate. Sebelumnya kami memang tengah berkumpul di Semarang dalam sebuah agenda kegiatan. Ditemani langit mendung dan sedikit rintik gerimis, kami memutuskan untuk tetap melakukan perjalanan menggunakan motor. Karena kurang Afdhol akhirnya kami memutuskan untuk mengajak seorang kawan dari kudus. Selain sebagai penunjuk jalan, kami sengaja mengajaknya agar sepanjang perjalanan bisa mendapatkan informan valid tentang hal-hal yang kami temui selama di perjalanan. Berbekal motor pinjaman dan perasaan ceria karena kurang piknik, kami memulai perjalanan.

Perjalanan mengarah ke utara lalu ke timur keluar kota Semarang. Cuaca dan ruas jalan cukup bersahabat. Langit mendung dan Jalan lengang adalah perpaduan sederhana nan sempurna bagi setiap pengguna jalan. Layaknya nasi padang dan es jeruk manis. Maklum jika cuaca panas biasanya jalanan di kawasan pesisir cenderung  berdebu dengan intensitas yang cukup pekat.

Mengawali perjalanan, berkejaran dengan rintik yang kian rapat kami melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi hampir 80 km/jam. Hingga cepat saja keluar dari kota Semarang menuju batas sebelah utara dan masuk kota Demak. Sesampainya di Demak kami memasuki jalan yang amat besar, ruasnya terbagi menjadi dua lajur yang dibatasi plat baja panjang. Dan setiap lajurnya masing-masing memiliki diameter yang cukup luas. Cukup sulit memperkirakan ukuran pastinya, namun jika dibayangkan satu lajurnya saja cukup untuk menampung 100 mobil tamiya  balapan bareng.

Di tengah konsentrasi yang makin meninggi untuk menguasai setir dan angin, di saat yang sama kawan saya yang asli kudus itu nyeletuk “iki lho seng jenenge jalan Daendles”, dan seketika itu pula konsentrasi saya pecah. Pandangan saya tak lagi fokus mengemudi motor, menyapu apa yang ada di samping kanan dan kiri jalan. Pikiran saya pun melayang ke lampau jauh, ke bangku SD saat bu Darmi guru kelas 4 saya menerangkan tentang jalan Anyer-Panarukan, juga pada novel emosional Pram “Jalan Raya Pos, Jalan Daendles”

Ya, jalan raya pos daendles adalah jalan yang membentang lebih dari 1000 km. Dari ujung barat ke ujung timur pulau jawa. Jika dilihat di googlemaps dengan mode jalan kaki, membutuhkan waktu 17 hari 15 jam untuk di tempuh dengan kecepatan konstan. Tapi saya tak menyuruh anda untuk mencoba jalan kaki, saya hanya memaksa anda membayangkan betapa panjang dan ngerinya jalan ini. Terlebih dalam proses pengerjaannya. Katanya, dulu ribuan nyawa melayang dan banyak kisah cinta antara sepasang kekasih atau suami istri yang direlakan kandas karena sang lelaki mati dalam kerja rodi. Banyak kisah yang dituturkan dan berkembang di kalangan masyarakat, jika banyak wanita yang mendapati kepala lelaki mereka tergantung di pohon-pohon sepanjang jalan yang dikerjakan. Memang selama perjalanan di beberapa rentang kilometer, terkadang saya merinding sendiri. Tapi sebenarnya bukan karena saya takut gituan, hanya saja keadaan yang memaksa saya untuk merinding.  Gimana ga merinding membayangkan nyawa yang begitu mudah melayang, banyak truk dan kontainer yang berjalan bak pertandingan Rally Dzakkar, ngebut ugal-ugalan dan sesekali mengasapi dan memasiri pengendara lain. Apalah daya saya yang hanya sekedar pengendara motor pinjaman di ruas asing perjalanan.

Namun jika kita menikmati dan mencoba memaknai perjalanan di jalan pantura tidak ngeri-ngeri banget. Sepanjang perjalanan kita akan disuguhkan dengan kearifan masyarakat khas pesisir. Selain pohon-pohon trembesi yang berderet rapi di sisi kiri dan kanan yang meneduhkan, sesekali kita akan menemukan tambak-tambak ikan, juga sawah dengan padi gogo yang menguning. Bukan hanya itu di sepanjang jalan yang berhimpitan dengan pesisir, banyak bendungan muara yang memisahkan aliran sungai dan air laut. Disitu banyak warga yang menghabiskan sore dengan menebar jaring-jaring lebar mencari ikan. Setelah jaring terpasang mereka menunggu sambil menikmati kopi di warung-warung kopi yang banyak berdiri di sekitar. Semakin sore suasana akan  bertambah semarak. Banyak pekerja pabrik dengan seragam warna warni melintas di sepanjang jalan, kontras dengan teduh suasana sore saat matahari mulai tergelincir.

Ya suasana sepanjang jalan pos pesisir utara bagi saya cukup mengesankan, berbeda dari gambaran kawan saya dalam tulisan sediksi sebelumnya (link).

Walaupun begitu kalau boleh jujur perjalanan 60 km dengan jalan luruuuus rus tanpa belokan dan tikungan adalah perjalanan yang cukup membosankan. Ditambah hembusan sepoi angin yang melenakan dan kendaraan besar yang siap menggilas saat kita jatuh. Sungguh perjalanan yang menghadapkan pada dua pilihan, antara terlena menikmati keadaan dan mungkin terluka parah saat terjatuh. Atau mencoba untuk tidakpeduli pada keadaan konsentrasi dan cepat sampai pada tempat tujuan.

Ya, hal ini sempat kita diskusikan di warung kopi, ketika kita akhirnya sampai di kota Kudus. Hingga memunculkan sebuah kajian (tidak) ilmiah baru dengan studi kasus jalur pos pantura (jalan Daendles). Menurut teori yang muncul dari segelas kopi, jika diibaratkan sebuah hubungan cinta, hubungan yang lurus adalah hubungan yang membosankan. Tanpa lubang, tanpa tanjakan, tanpa belokan, tanpa tikungan dan tanpa putar balik. Sewaktu-waktu perjalanan sebuah hubungan yang lurus akan melenakan dan membuat seseorang tertidur tanpa usaha. Lha, disaat seperti itu masalah-masalah besar di sekitar akan siap menggilas dan membuat seseorang sakit sekali, hingga susah untuk kembali berdiri. (Haiiish ), itu hanya sekedar teori yang muncul dari beberapa kepala setelah meminum kopi pahit yang kurang gula. Namun apalah yang muncul dan terjadi, Jalur pos pesisir pantai utara telah menjadi saksi dan menggores kisah dalam masanya masing-masing.