Evan Dimas dan Sertifikat Halal Sarung Menpora

0

Kabar kepergian Evan Dimas Darmono ke Spanyol untuk berlatih bersama salah satu kontestan La Liga, RCD Espanyol, akhir-akhir ini ramai dibicarakan. Beberapa media online berbasis olah raga, bahkan seakan tak ingin melewatkan sedikit pun perkembangan terbaru terkait topik tersebut, meskipun (mungkin) tak ada satu pun dari media-media itu yang turut memberangkatkan wartawannya ke Spanyol untuk meliput secara langsung.

Pokoknya, jangan sampai ada informasi yang terlewat. Cari sumber berita sebanyak-banyaknya soal Evan Dimas, nggak peduli sumbernya twitter, ataupun instagram milik pacar Evan Dimas. Tapi ya, kalau bisa dapat sumber primer dari si Evan, meskipun kamu harus nunggu lama balasan pesan singkat yang benar-benar singkat. Dua atau tiga kata sudah cukup lah untuk kutipan dan bisa jadi berita. Pokoknya harus tahu di sana Evan tinggal di tempat yang seperti apa, dan Sholat Jumat-nya di mana. Titik.

Kalimat itu adalah dugaan saya tentang apa yang ada dalam benak redaktur dan/atau wartawan yang ramai-ramai ingin mempublikasikan informasi tentang Evan Dimas. Karena hanya dugaan, jadi sebaiknya jangan terlalu ditanggapi serius, apalagi sampai bikin penelitian untuk membuktikan kebenaran dugaan saya. Sebab itu hanya buang-buang waktu, terlebih jika kalian adalah mahasiswa tingkat akhir seperti saya, alangkah lebih bijak segera menyelesaikan skripsi, ketimbang menambah beban dengan penelitian baru yang tidak penting.

Dari banyaknya berita yang beredar, ada satu berita yang menurut saya penting, yakni informasi tentang Evan Dimas yang dibekali sarung oleh Menpora RI, Imam Nahrawi. Mengapa penting? Sebabnya adalah menurut saya itu penting. Karena, sarung adalah sebuah benda yang banyak memiliki manfaat. Misalnya apa? Misalnya, benda itu ialah yang pernah membantu Dahlan Iskan dalam menjalani kehidupan masa kecilnya dulu, tatkala kehabisan stok pakaian bersih.

Sayangnya, saya tidak menemukan berita yang mengulas status sarung dari Menpora itu di mata MUI. Padahal, halal atau haramnya sarung itu menjadi penting, mengingat MUI juga telah merasa perlu memberikan sertifikat halal pada salah satu produk jilbab. Label halal pada sebuah brand yang mengklaim sebagai jilbab pertama yang bersertifikat halal MUI itu juga ramai dibicarakan di media sosial.

Saya khawatir orang-orang dan Tuhan tidak merestui kiprah Evan Dimas, jika ternyata sarung itu belum halal untuk dipergunakan sebagaimana mestinya. Saya tidak peduli jika kalian berpendapat bahwa kekhawatiran saya berlebihan. Sebab kalian tidak tahu bagaimana hubungan batin saya dengan Evan, sebagai sesama manusia pecinta sepak bola, sebagai sesama Arek Suroboyo, dan sebagai sesama pribumi yang mencintai bangsa Indonesia.

Saya begitu terenyuh membaca pesan terakhir Evan Dimas kepada Menpora sebelum berangkat ke Spanyol beberapa waktu lalu. “Teman-teman se-angkatan saya di Timnas U-19 menginginkan bisa bermain di kompetisi,” pinta eks binaan Mitra Surabaya itu, seperti dilansir Bola.net.

Pernyataan itu diungkapkan Evan justru ketika Menpora menuturi Evan agar selalu ingat pentingnya menjunjung tinggi merah putih; manakala Evan disabda untuk setia membayangkan bola sebagai kebanggaan Indonesia agar semangat juang dalam berlatih makin terpacu. Sementara, Menpora sendiri lupa bahwa di Indonesia iklim sepak bola saat ini masih belum jelas.

Menurut saya, Menpora tidak perlu lah mengajarkan nasionalisme kepada Evan. Ini bukan tanpa dasar. Sebab saya tahu persis bagaimana kecintaan Evan terhadap negeri ini. Saya melihat sendiri perjuangan keras Evan Dimas dkk, ketika berlatih sangat keras dalam TC sebelum helatan Piala Asia 2014 di Myanmar lalu.

Kalimat demi kalimat yang keluar dari mulutnya saat saya wawancarai, masih terngiang sampai sekarang, dan membuat saya hampir menitihkan air mata ketika menulis berita kala itu, ketika saya masih bekerja di sebuah surat kabar. Perasaan itu sama seperti yang saya rasakan sekarang, manakala membaca permintaan Evan kepada Menpora.

Seperti perjuagan Evan dulu, permintaannya kali ini tidak hanya mewakili teman-temannya se-angkatan di Timnas U-19. Lebih dari itu, ucapan Evan mewakili seluruh insan sepak bola Indonesia; mewakili pengusaha hotel dan perusahaan otobus yang menjajakan jasanya ketika sebuah klub bermain away dalam kompetisi; mewakili PKL yang menggantungkan hidupnya dari jualan atribut tim; mewakili calo tiket dan tukang parkir stadion; mewakili rakyat miskin yang haus hiburan murah berupa sepak bola; juga mewakili mahasiswa tingkat akhir seperti saya ini, yang kadang jenuh dengan rutinitas pengerjaan skripsi dan harus memanjakan diri sejenak dengan menikmati sepak bola.

Atas kenyataan itu, status halal-haramnya sarung dari Menpora menjadi sangat penting. Harapan jutaan orang yang ingin melihat kiprah Evan Dimas melejit, bisa hanya tinggal harapan jika Tuhan murka hanya karena sebuah sarung yang belum mendapat sertifikat halal dari MUI. Maka, menurut saya MUI perlu menelurkan fatwa dan menerbitkan kejelasan status terhadap sarung Evan Dimas pemberian Menpora itu.

Namun, saya tidak akan  menyarankan Evan untuk kembali lagi ke Indonesia untuk mengurus sertifikat halal di kantor MUI. Ada baiknya, Evan memberi kesempatan kepada MUI untuk mengajukan proposal keberangkatan ke Spanyol guna mengkaji langsung faktor-faktor terkait sarung tersebut, hingga nantinya bisa ditetapkan status sarung itu.

MUI punya beberapa peluang kepada siapa proposal keberangkatan ditujukan, karena sepak bola sangat bertalian dengan berbagai aspek yang sangat luas. Yang paling sederhana, proposal bisa diajukan kepada PSSI, Kemenpora, AFC, FIFA, atau BOPI yang terancam bubar. Selain itu, MUI juga relevan jika mengajukan proposal itu kepada Kemendikbud atau Kementerian Pariwisata, sebab sepak bola sudah sangat layak jika disebut sebagai kebudayaan dan objek wisata.

Tapi, jika semua instansi tadi menolak proposal itu, kalau sudah kepepet banget, MUI masih berpeluang mengajukan proposal kepada jaringan Bandar Judi Internasional. Pokoknya, segala cara harus diupayakan agar sarung Evan Dimas pemberian Menpora memiliki sertifikat halal. Jangan lupa, dalam proposal yang diajukan harus ada anggaran jalan-jalan dan ngopi santai biar ndak grogi, mumpung lagi di Spanyol.