Kisah Para Ksatria Ber(kuda)vespa

0

Siapa yang tidak kenal Lupus, film anak muda tahun 90-an yang diangkat dari novel karya Hilman Hariwijaya? Karakter Lupus terkenal dengan gaya khas rambut jambul, mengunyah permen karet, dan bervespa. Saat itu, gaya Lupus bisa dikatakan paling trendi jika dilihat dari vespa yang nyientrik dengan banyak spion. Tampil retro beut dah. Tak kalah keren nan beken dengan serial sinetron para pria ganteng dengan gigi bertaring penghisap darah wanita-wanita cantik. Yaps, serial sinetron GGS, Ganteng-Ganteng Sabar, Ganteng-Ganteng Sholeh, asalkan jangan Ganteng-Ganteng Sarjana. Bisa jadi, sebagian para penulis sediksi.com akan mengutuki saya, karena mereka gak ganteng dan belum sarjana. Haha.

Jika ditelusuri, mungkin gaya trend vespa saat ini bisa jadi karena film Lupus yang menampilkan ciri khas nyientrik dalam berkendara. Walaupun, sebenarnya di tahun 90-an vespa masih jadi kendaraan mewah nan mempesona dan masih digandrungi cewek-cewek cantik di sekolah. Itu dulu, sekarang? “Yaelah bang, adek cantik ga level pake vespa, kiloin aja” ujar jomblowati yang tak mau disebutkan namanya. Namun tak semua wanita tidak suka dengan barang antik ini, masih ada kok wanita yang suka dengan pria bervespa. Katanya, vespa itu bikin hati adik gemeter bang, kalau mogok bikin suasana lebih romantis. Seperti yang tertulis dalam meme-meme. In real life? Saya belum pernah lihat sih. Sekalinya pernah lihat, ceweknya jalan di depan dengan cemberut dan si cowok ngos-ngosan dorong vespa sambil dihujani kata “kamu tuh bla, bla, bla!”.

Beda vespa, lain nasib. Saya sendiri dulu saat masih duduk di Sekolah Menengah Atas juga salah satu pengendara vespa. Bedanya, beberapa kali mbonceng kawan cewek cantik jelita (hanya sebatas family zone sih, hiks) tak pernah mogok sekalipun. Entah karena si vespa pencitraan saja, atau karena yang saya tumpangi adalah cewek cantik jelita. Entahlah, mungkin itu yang dinamakan kehendak Tuhan. Walau beda nasib, guratan takdir para pengendara vespa tetap sama di tangan Tuhan. Mogok. Walhasil, vespa saya pun tak pernah jauh dari guratan takdir Tuhan. Herannya, istiqomah mogok di tempat yang sama dengan penyakit yang sama pula. Ya kalo ga busi item, kurang oli samping. Jika ujian materi mesin Tuhan ini tak mampu saya lalui, mau tak mau saya harus dorong sendiri vespa sampai rumah. Alhamdulillahnya, vespa saya ini mogok saat saya sedang sendirian ditengah kesendirian. Hiks. Tapi, seketika itu juga saya kembali ceria karena ada pria berkudavespa yang menawarkan pertolongannya.

Sebut saja pria bervespa itu abang Lupus. Pria yang tak saya kenal ini adalah pria bervespa yang tak sengaja lewat dan berhenti melihat saya menderita. Lantas, menawarkan pertolongan untuk mendorong vespa saya yang mogok dari belakang. “Pelan-pelan ya bang, dorongnya,” pintaku sedikit mendesah. Cepat saja saya sampai rumah dengan bantuan dorongan abang Lupus. Tak banyak cakap, abang Lupus hanya mengacungkan jempol saja saat saya ucapkan terima kasih atas pertolongannya. Owh, so misterious.

Hal itu beberapa kali saya alami saat touring, sepulang sekolah, dan selalu ditolong oleh pengendara vespa lain. Jika berpapasan dengan vespa lain, kami saling melambaikan tangan bertegur sapa. Walaupun mereka tidak mengenal satu sama lain. Apakah ini yang dinamakan family zone?

Vespa menjadi fenomena yang unik ditengah hiruk-pikuk kehidupan jalanan. Kenapa tidak, para maniak vespa ini membentuk komunitas vespa di setiap daerah dan menunjukan solidaritas yang kuat sesama pencinta vespa. Fenomena unik ini bisa dilihat dari kecintaan individu terhadap barang antik dan menjadi landasan ikatan kekeluargaan yang kuat. Sama halnya dengan komunitas pencinta Harley Davidson dan kendaraan roda dua lainnya. Mereka sama-sama menunjukan kualitas aksi solidaritas jalanan yang juga sama kuat dengan komunitas vespa. Misal kemarin, para pecinta Moge a.k.a Motor Toge (Tongkrongan gede bukan toket gede) Harley Davidson berkumpul menunjukan aksi solidaritas dan rasa nasionalismenya dalam peringatan Hari Kemerdekaan RI di Prambanan. Sungguh aksi yang patriotik. Sayangnya, motor yang dikendarai oleh para biker moge ini kebesaran badan, hingga memaksa menginjak pengendara lain dan merebut jalan raya milik fasilitas umum. Untung saja ada aksi solidaritas dari pesepeda yang peduli dan mengingatkan agar pengendara moge jangan terlalu maruk.

Kejadian di atas menunjukan jika aksi-aksi  itu adalah bentuk solidaritas semu yang muncul dari eksklusivitas dan strata sosial. Begitu pula dengan komunitas roda dua besutan pabrik-pabrik Jepang. Bisa saya katakan jika aksi solidaritas dari kedua komunitas ini masih bersifat eventual. Artinya, hanya pada event-event dan agenda-agenda tertentu saja. Dan aksi solidaritas di jalanan masih berada pada tataran konvoi dan kopi darat saja. Karena mungkin kendaraan mereka lebih sehat dan bagus. Sebab, aksi solidaritas yang muncul dari para pencinta vespa karena adanya senasib sepenanggungan.

Tidak heran, jika mayoritas dari pecinta vespa lahir dari kalangan menengah ke bawah. Jadi, saat anda melihat vespa berhiaskan sampah, anda jangan suudzon dulu. Mungkin sang pengendara vespa ini adalah pencinta vespa sekaligus pencinta lingkungan yang memungut sampah dijalanan yang anda kotori. Sengaja diangkut kedalam vespanya untuk dibuang ke tempat pembuang akhir. Atau jika anda melihat vespa dengan membawa plang “Sedot WC” jangan hinakan hal itu sebab mungkin sang pengendara mempromosikan gratis para pengusaha yang mencari rezeki soko silitmu. Sebab mereka tetap manusia yang ingin diakui keberadaannya dengan menarik perhatian dengan hal-hal menarik seperti itu. Walau begitu, saya selalu dirundung kesendirian tak punya pacar, karena mungkin selalu masuk dalam family zone. Apakah ini takdir dari pria-pria bervespa? Gebetan berakhir dengan kata dik atau kak? Kalau begitu, besok saya ganti ninja biar para cewek-cewek pada silau akan ketampanan motornya. Bukan saya. Hiks.

Barangkali anda juga suka