Para Calon Gubernur DKI, Contohlah Deadpool dan Tawan

0

I ain’t super, and I’m no hero. But when you find out your worst enemy is after your best girl, the time has come to be a fucking superhero” – Wade Wilson, Deadpool Movie

Pembaca artikel ini mungkin sebelumnya sudah membaca review film Deadpool di banyak situs internet. Kalau belum, coba googling saja (dengan menampilkan hanya situs-situs dari Indonesia), pasti hasil pencarian google menampilkan situs-situs dengan judul yang hampir seragam. Deadpool memang kocak, menghibur, anti-hero dan apalah itu.

Deadpool memang beda. Dia tidak ingin dianggap superhero. Mendengar frasa “Film Deadpool” ini, saya justru teringat I Wayan Sumardana, alias Tawan. Kenapa? Orang-orang memang lebih kenal Tawan sebagai Iron Man karena tangan robotnya. Tapi saya tidak, sosok Tawan tidak secongkak Tony Stark. Netizen yang gencar menuliskan bahwa “Tawan, Iron Man asli dari Indonesia” karena semangat hidupnya, itu sama saja melecehkan pria asal Bali tersebut.

tum.phpTawan, lebih cocok disepadankan dengan Deadpool. Karena ia sama-sama humoris dan memiliki kesadaran diri yang tinggi. Sadar gak sih, hampir di setiap adegan pada filmnya, Deadpool mencoba berinteraksi dengan para penonton. Malah, dia sempat menggeser kamera, karena dia pikir adegan yang mengandung unsur kekerasan nan menjijikan akan tidak layak dipertontonkan. Adegan semacam ini, menunjukkan bahwa Deadpool sadar kalau dia tokoh Marvel yang sedang bermain dalam film fiksi.

Kesadaran Deadpool sebagai tokoh dalam film, mirip dengan Tawan. Dia sadar kalau dirinya cuma seorang tukang las yang tangannya kena stroke. Kebetulan aja, dia membuat ‘robot’ yang bisa bikin tangannya bergerak lagi. Kebetulan juga, ada wartawan yang memberitakan dirinya dan akhirnya diikuti wartawan yang lain. Hingga akhirnya dia (kebetulan) menjadi terkenal, dipuji, kemudian dihujat oleh para (sok) kritikus teknologi robot, lalu sekarang diabaikan dan dilupakan.

Apalah si Tawan, dia loh sadar kalau dia cuma lulusan STM dari Bali. Tawan sadar, dia gak pantas diberitakan. Tawan juga sadar, masih ada langit di atas langit. “Sudah jangan diberitakan lagi. Di luar banyak yang jual dan menyediakan alat seperti ini, lebih bagus malah. Tidak seperti punya saya yang masih jelek begini,” begitu kata Tawan yang saya lihat di detik.com.

Komentar Tawan ini membuat hati saya terenyuh. Tawan sangat menunjukan bahwa dirinya sangat sadar diri. Ia enggan terkenal, ia lelah menghadapi wartawan. Meski, ujung-ujungnya wartawan ya tetep aja nyari si Tawan lagi dan lagi. Soal benar atau tidaknya kekuatan tangan robot si Tawan, itu urusan dia dengan Tuhannya. Rakyat Indonesia aja yang lupa daratan, sok-sok ilmiah tai kucing. Kenapa sih, sok-sokan bikin analisa ilmiah mengenai mesin yang dibuat Tawan. Kenapa gak berpikir aja, kalau ada kekuatan gaib di dalam tangan robot si Tawan. Toh, itu lebih adiluhur daripada berpikir keras bagaimana mekanisme robot sesungguhnya.

Tak hanya sadar diri, baik Deadpool, maupun Tawan, juga sama-sama memiliki sifat humoris. Meski seberat apapun cobaan yang menimpanya, mereka tetap tersenyum dan bercanda. Lah kita, nge-Jomblo setahun saja sudah sujud-sujud dan nangis-nangis minta ke Tuhan biar segera ditemukan jodohnya. Deadpool dan Tawan mah, cuma senyum-senyum sendiri di televisi dan membuat (spekulasi saya sih) siapa saja yang melihat videonya bakal ngebatin “Ini orang gila paling yak?”

Karakter Deadpool dan Tawan yang seperti inilah yang saya nilai perlu ditiru para calon gubernur Jakarta. Jelas, saya sebagai pria tampan kelahiran Jakarta yang merantau ke kota seberang, tidak bisa serta-merta merelakan kota yang ditinggali orang tua dan adik-adik saya, dipimpin oleh orang gila yang kata Freud lebih dikuasai ketidaksadaran. Jadi, saya juga harus benar-benar selektif.

Beberapa hari belakangan, berita pencalonan gubernur DKI 1 sudah mulai hangat diperbincangkan. Sekarang juga sudah ada beberapa nama di media nasional yang digadang-gadang bakal maju menjadi DKI 1, mulai dari Ahok, Kang Emil, yang mulia guru besar Yusril Ihza Mahendra, sampai Ahmad Dhani. Dari sekian nama itu, siapa yang paling sadar adalah orang yang berani mengatakan, “Saya memang lagi pencitraan, soalnya saya mau maju jadi DKI 1. Mana peduli saya sama kemacetan di Jakarta, banjir di Jakarta, krisis moral di Jakarta. Saya maju cuma mau cari duit sama cari nama, biar nanti waktu pemilihan presiden saya bisa maju juga. Kalau yang mau pilih saya, nanti dikasih duit 50 ribu sama tim sukses saya”.

Kalimat itu menunjukkan bahwa dia sadar, kalau dirinya saat ini sedang berpolitik ngehek. Dia sadar, kalau media-media massa zaman sekarang sudah terlalu mudah untuk dikelabuhi agar menjadikan sosoknya sebagai media darling hanya dengan mendatangi Kalijodo yang akan digusur. Dia juga sadar, kalau masyarakat Jakarta terlalu lelah beraktifitas untuk menilai mana calon pemimpin yang layak bagi dirinya. Dan yang paling penting, dia sadar kalau prioritas menjadi gubernur di DKI Jakarta, bukanlah untuk membenahi Jakarta, melainkan hanya sebagai batu loncatan untuk menjadi RI 1.

Nah, setelah sadar, barulah menjadi humoris. Wahai gubernur kami yang baru, please, cobalah menjadi Tawan dan Deadpool, yang meski sedang berada dalam kondisi terdesak dan tertekan, tetap bisa menebar senyuman dan melontarkan guyonan untuk membuat masyarakat di Jakarta tertawa. Meski nanti anda-anda sekalian akan dihujat, tetaplah bercanda dalam memimpin kota kecil ini.

Kami, warga Jakarta, mungkin sudah lelah menghabiskan separuh waktu kami di mobil. Jadi, buatlah kami tersenyum dengan aksi lucu kalian saat mencaci maki lawan main kalian di lapangan pesta politik tahun depan. Belajarlah dari humor caci maki di warung kopi. Itu lebih menghibur daripada berlagak suci dengan mengapresiasi dan mengizinkan lawan politik kalian menang, tapi ujung-ujungnya menghimpun barisan oposisi untuk mengganggu stabilitas negara. Eh, maap Om Bowo, saya gak maksud nyinggung KMD kok.