Tahun Keemasan bagi Sarjana Psikologi dan Pengusaha Cokelat

0

Tahun ini seharusnya menjadi tahun keemasan bagi sarjana psikologi dan juga pengusaha cokelat. Sebab, Badan Pusat Statistik (BPS) nasional pada Januari 2016 kembali membuka data mengenai angka pengangguran di Indonesia.

Data itu menyebutkan, pada Agustus 2015, angka pengangguran di Indonesia meningkat menjadi 7,56 juta jiwa. Padahal, tahun sebelumnya, Agustus 2014, menunjukkan bahwa angka pengangguran di Indonesia berjumlah 7.24 juta jiwa.

Lalu, apakah ini pertanda buruk?

Kalau saya tipe orang pesimis, saya akan menjawab, ya. Tapi, lain hal bila saya merupakan orang bertipe optimis. Dengan berdiri tegak, sembari membusungkan dada, saya akan menjawab dengan lantang, tidak!

Sebenarnya pertanyaan ini bisa saya jawab dengan mudah. Tapi persoalannya, dalam artikel ini saya enggan membeberkan semuanya kepada para pembaca. Saya mohon, perkenankanlah, masalah saya tipe orang pesimis atau optimis, biar menjadi rahasia saya pribadi, pacar saya dan Si Empunya.

Jadi begini para pembaca Sediksi.com sekalian yang saya hormati dan saya cintai.

Kala Topik dalam senandungnya mengingatkan kita semua akan lima perkara sebelum lima perkara, saya dalam alam pikirnya ingin sedikit berbagi cerita. Kenapa peningkatan angka pengangguran di Indonesia merupakan keuntungan bagi para sarjana psikologi dan penjual cokelat?

Yup! Menurut saya, meningkatnya angka pengangguran berbanding lurus dengan meningkatnya jumlah orang-orang yang berpotensi mengalami stres. Tenaga kerja di bidang psikologi akan sangat dibutuhkan. Mereka merupakan aktor penting untuk membuat para pengangguran kembali bersemangat dalam menatap masa depan.

Peluang yang sama juga dimiliki oleh pengusaha cokelat. Pengusaha cokelat dengan kekuatan alamiah yang mampu meningkatkan mood orang-orang. Secara perlahan akan terus membunuh bakteri-bakteri penyebab stres pada para pengangguran. Sebab, cokelat mengandung molekul psikoaktif yang dapat membuat orang merasa nyaman.

Kemudian bagaimana bila kedua bidang ini digenggam oleh satu orang? Bukan emas lagi, tahun 2016 bisa menjadi tahun permata bagi orang tersebut.

Begini. Bagi warga dan para perantau yang sedang hijrah di Malang, barangkali tahu, di kawasan yang sejak dulu terkenal dengan hawa sejuknya ini, ada sebuah upaya dari seorang sarjana psikologi yang tengah menjalani rutinitasnya sebagai pengusaha cokelat.

Ia bernama Cokelatop. Saya tidak menyebutkan nama sebenarnya, karena nama Cokelatop jauh lebih populer dibanding nama aslinya. Buktinya, perbedaan yang cukup drastis pada follower instagram akun Cokelatop dan akun pribadi si empunya.

Cokelatop merupakan sebuah usaha yang dirintis oleh seorang wanita berparas manis, sejak ia duduk di bangku perkuliahan. Jauh sebelum merintis usaha cokelat, dia pernah berjualan pulsa, snack kentang berbentuk keripik, serta berbentuk stik pedas.

Waktu silih berganti. Usahanya berkembang pesat sejak keputusan berani yang ia ambil: memilih cokelat sebagai produk yang ia seriusi. Pemetaannya di awal cukup sederhana, Cokelatop yakin bahwa selera cokelat masyarakat tidak akan ada habisnya. Penggemar cokelat, bakal selalu ada dari waktu ke waktu. Dan itu pun terbukti.

Keputusan ini, menurut saya adalah keputusan yang sangat berat untuk diambil bagi mahasiswa seperti saya. Sebab, setiap bisnis pasti ada risikonya. Dan saya tipe orang pemikir, jadi pasti sebelum bertindak banyak mikir. Mirisnya, banyak mikir saya ini berujung pada kekosongan. Hasilnya pun nihil.

Dari sini, saya berkesimpulan, bisnis itu penuh risiko. Tapi, kebanyakan mikir dalam berbisnis memiliki risiko yang lebih konkrit, yakni nihil. Warning, dont try this at you!

Kalau saja artikel ini adalah artikel promosi atau motivasi, bisa saja saya beberkan semua hal tentang Cokelatop, mulai omzet, keuntungan, keunggulan produk, pelayanan, atau stategi marketing yang dilakukan. Sayangnya, saya tidak bermaksud mempromosikan Cokelatop. Saya hanya berusaha membagikan sedikit cerita dan pelajaran yang saya dapat dari usaha di bidang cokelat yang digeluti oleh sarjana psikologi ini.

Cerita utamanya, adalah cerita tentang Cokelatop yang juga mungkin dialami sebagian besar Fresh Graduate pegiat online shop. Mereka akan sering mendapat pertanyaan: “Sekarang kerja dimana?”. Bila orang yang bertanya adalah orang jauh dan baru kenal itu maklum. Namun, bila pertanyaan ini keluar dari mulut seseorang yang sudah mengenal lawan bicaranya dan tahu kalau dia sedang ber-online shop. Menurut saya pertanyaan ini akan sangat amat mak jleb nyuss.

Pertanyaan itu seolah tidak menganggap aktivitas ber-online shop ria yang dilakukan si lawan bicara, sekalipun hasil yang didapat bisa melampaui gaji karyawan fresh graduate pada umumnya. Kalau saya yang jadi pengusaha online dan ditanya seperti itu, mungkin saya sudah depresi dan kembali ke rumah untuk menangis terisak-isak di kamar kontrakan sambil berteriak, “kenapa saya jadi pengangguran?”.

Tapi ternyata, Cokelatop sendiri tidak berpikir negatif seperti saya. Setiap ada pertanyaan serupa yang dilontarkan kepadanya, dengan santai dan senyum ia akan menjawab: Saya masih melanjutkan jualan cokelat saya.

Yup! Cokelatop tidak ingin terjebak stereotip di masyarakat, bahwa pekerjaan paling mapan adalah karyawan atau PNS, memiliki gaji tetap, berpakaian formal serta kerja kantoran senin sampai Jumat dan libur Sabtu hingga minggu Minggu. Semua pekerjaan berderajat sama dan saat ini ia cukup bangga menjalankan pekerjaan sesuai dengan passionnya.

Meskipun pada suatu hari nanti tidak dipungkiri, jalannya bakal berubah haluan menjadi pekerja kantoran, paling tidak ada satu hal yang ia cita-citakan, yakni menjadi pengusaha dan memberikan banyak peluang untuk orang-orang menjadi pengusaha. Karena selama satu tahun dua bulan berjalan ini saja, Cokelatop sudah memiliki banyak reseller, dari siswa SMP, hingga ibu rumah tangga. Bukan tidak mungkin di masa depan kelak cita-citanya terwujud.

Oh iya, ngomong-ngomong soal topik di paragraf awal, tentang masa keemasan sarjana psikologi dan pengusaha cokelat. Cokelatop sudah membuktikannya kok. Salah satu contohnya adalah saya.

Ya, setelah makan cokelat dari Cokelatop dan hampir setiap hari berbincang dengan pemiliknya selama 4 tahun 3 bulan, stres saya sekarang berkurang. Sumpah. Tapi, jangan coba-coba menyaingi saya loh ya. Kok gitu? Kata kuncinya ada di kata ke 133 dalam artikel ini. J

 

Barangkali anda juga suka