Pemburu Lowongan Kerja Menolak Harapan Palsu

0

Berdiri di pusat keramaian Kota Surabaya, Balai Pemuda bukan sembarang gedung. Meskipun saat itu dipadati pemburu lowongan kerja (23/3), Bangunan bernuansa kolonial ini menyimpan sejarahnya sendiri yang dimulai dengan gemerlap hidup para penjajah di awal 1900-an. Sejarah lengkap gedung ini bisa dengan mudah ditemui di berbagai situs. Atau jika kebetulan hendak berkunjung, bisa Anda dapati ringkasannya di sebuah prasasti marmer depan gedung.

Kata Pemuda yang disematkan di gedung ini bukan sembarang nama. Kata ini menggambarkan gelora semangat arek-arek Suroboyo saat revolusi berlangsung. Mereka bermarkas di gedung ini ketika itu, dan untuk menghormati jasa mereka, digunakanlah kata pemuda.

Pemuda dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia didefinisikan sebagai masa peralihan dari  anak-anak menuju dewasa. Hal yang sama juga dijelaskan dalam kamus Oxford yang juga menambahkan bahwa kata ini mulai marak digunakan di era 1940-an untuk menyebut para gerilyawan. Sedangkan  Kamus Merrian-Webster menambahwan bahwa implikasi dari masa peralihan itu adalah sifat mencetuskan gagasan-gagasan baru dan perubahan atas situasi-situasi yang dihadapi.

Tulisan ini tidak hendak bercerita tentang sejarah bangunan atau revolusi Indonesia. Namun persinggungan singkat saya di Balai Pemuda siang itu berkesan kuat di ingatan. Salah satunya tentu saja kawan cantik yang sengaja saya temui siang itu dengan modus mencari lowongan kerja hanya untuk melihat wajahnya. Karena memang siang itu, sedang berlangsung Job Fair di gedung ini yang dipadati oleh para pemburu lowongan kerja.

Memasuki job fair untuk pertama kalinya seumur hidup membuat saya sedikit grogi. Apalagi membayangkan bakal bertemu si kawan cantik tadi. Diturunkan tepat di depan gerbang Balai Pemuda tidak membuat saya bergegas memasuki gedung itu. Syukurlah ada penjual es sari kedelai meloloskan sejenak dari kekhawatiran. Benar saja, es itu  terasa segar hingga mengaburkan segala kekhawaatiran. Namun tampaknya Tuhan memang berkehendak lain. Satpol PP sudah memburu penjualnya ketika gelas yang saya pegang baru habis setengah. Apalagi yang bisa dilakukan kalau tidak bergegas memasuki job fair.

Saya membayangkan Job Fair adalah tempat dimana pengunjung bisa mendapatkan berbagai informasi tentang perusahaan yang siap menampung pengunjung untuk bekerja. Dan memasuki gedung itu, jangankan memperoleh informasi, mendekati salah satu stan saja ternyata sangat susah.

Kepadatan Job Fair ternyata melebihi Pasar Merjosari, Malang. Ini seperti markas besar pemburu lowongan kerja. Masih mending di Pasar Merjosari karena kita bisa beli beli minuman dan makanan. Di Job Fair, hanya ada penjual air mineral setelah es kedelainya terusir.

Berhubung kehadiran saya hanyalah sebuah modus, maka sama sekali tak ada niat untuk melamar kerja. Namun berhubung sudah sampai disana, rasanya kurang afdhol jika tidak melihat stan demi stan yang ada. Jadilah saya sekedar memutari ruangan itu sebanyak satu lap. Terkadang melihat para pengunjung, perusahaan yang ada, dan kadang juga penjaga stan yang cantik-cantik. Meskipun masih kalah cantik dibanding kawan saya yang saat itu belum datang.

Dari 40 perusahaan saat itu, perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang keuangan menjadi yang paling banyak dikunjungi. Entah untuk mendaftar atau hanya mencari informasi. Perusahaan-perusahaan itu segera mengingatkan saya tentang debt collector yang sering nongol di berita. Dan orang-orang yang mengerumuni bisa jadi akan segera bekerja dengan mereka. Harusnya saya segera mencatat nomor HP mereka supaya suatu saat nanti bisa kong-kalikong mengajukan pinjaman tanpa survei sekaligus tidak dikejar-kejar debt collector yang sangar itu.

Ada 40 perusahaan yang membuka stan dengan peserta yang mencapai ribuan orang selama dua hari acara digelar. Dengan demikian tentunya persaingan untuk menduduki kursi perusahaan sangat ketat.

Maka tidak salah jika seperti diungkap Jawa Pos  31 Oktober-1 November 2014. Saat itu di Jawa Timur terdapat 1.074 sarjana hukum yang mencari kerja, dan hanya 10 orang yang diterima. Selain itu dari 728 sarjana ekonomi masih ada 710 orang yang belum bekerja. Rasio yang mengerikan bukan? Meskipun tentu ada jurusan-jurusan tertentu yang jumlah lulusannya lebih sedikit atau lowongan kerja lebih banyak yang akhirnya menghadirkan rasio yang lebih rasional.

Paradigma masyarakat kita dalam menempuh pendidikan untuk suatu saat dapat bekerja dengan baik terbukti keliru. Bagaimana tidak, di tahun 2012 Kementerian Pemuda dan Olahraga mencatat bahwa setidaknya 41 % dari keseluruhan pengangguran di Indonesia adalah pengangguran terdidik.

Itu data tahun 2012 ketika pertumbuhan ekonomi nasional sedang menuai decak kagum. Saya belum memperoleh data paling baru. Barangkali pembaca bisa menambahkannya nanti. Namun tidak salah kiranya di saat ekonomi melemah di hampir semua sektor seperti saat ini, tingkat ketersediaan lowongan juga ikut melemah. Lalu mengapa job fair masih saja dijejali pengunjung? Padahal orang-orang yang berpengalaman mengikuti job fair tentu menyadari bahwa dari 3-4 lamaran yang kita masukkan saat itu, satu saja panggilan wawancara sudah sangat melegakan hati. Itupun belum tentu lolos wawancara.

Barangkali justru disitulah menariknya job fair. Kerumunan yang memadati stan-stan itu dipenuhi harapan tentang masa depan. Walaupun harapan itu akhirnya bisa menyakitkan jika tidak terpenuhi, namun proses berharap selalu mengasyikkan. Jika mengharap tidak mengasyikkan, barangkali tidak ada Rama yang berharap cinta Shinta. Tak peduli disitu ada kemungkinan harapan palsu. Dan datang ke job fair adalah harapan palsu yang terus terulang. Kita datang, melamar, lalu tidak direspon. Adakah yang lebih menyakitkan dari lamaran yang ditolak?

Dan barangkali untuk itulah Dinas Tenaga Kerja selaku penyelenggara acara memilih lokasi di Balai Pemuda. Agar jika nanti ternyata harapan mereka terbukti palsu, para pemuda pemburu lowongan kerja bisa kembali mengenang perjuangan pemuda-pemuda generasi terdahulu yang menolak harapan palsu akan kemerdekaan dan memilih masuk ke hutan untuk berperang. Hanya kini bukan masuk hutan, sekedar sekali lagi berjejal di job fair yang lain.

Barangkali anda juga suka