Teruslah Merawat Mimpi, Arsenal!

1

Fadrin a.k.a Bli, salah seorang penulis sediksi, adalah fans Arsenal. Tiap main PES, Arsenal adalah satu-satunya tim yang akan dia gunakan. Dan seperti umumnya fans Arsenal, dia juga  menganggap MU itu keparat karena membajak Van Persie. Saking keparatnya, Bli sampai membeli keset berlogo setan merah supaya tiap hari bisa diinjak-injak. Namun sayang, keset itu hanya bertahan dua malam karena dicuri penghuni kos lain yang ngefans sama MU.

Dan rupanya tidak hanya Bli. Konon kabarnya, Ratu Elizabeth pun juga penggemar klub asal London ini. Sayang Arsenal ada di Inggris. Jika di Spanyol dengan dukungan kerajaan macam itu, nasib mereka bisa seperti Real Madrid.

Pecinta sepak bola karbitan tentunya tak habis pikir, bagaimana mungkin menyukai klub yang tak pernah mendapat gelar juara mayor. Klub ini memang meraih rekor sebagai tim yang terbanyak menjuarai Piala FA. Namun bagaimanapun Piala FA itu kalah gengsi dibanding gelar Liga Inggris atau Liga Champions.

Ketika keterbatasan keuangan melanda Arsenal pasca pembangunan stadion, tiap tahun Arsenal menjual pemain bintangnya. Mulai Thiery Henry, Fabregas, hingga Van Persie bergantian menambah pundi pendapatan Arsenal. Dan itu selalu dijadikan alasan gagalnya meraih gelar mayor.

Tapi kini masa-masa itu telah berlalu. Dalam tiga musim beruntun Gunners mendatangkan nama besar. Diawali Mesut Ozil, lalu Alexis Sanchez, dan terakhir Petr Cech. Selain lini serang yang melempem, pemain-pemain Arsenal mempunya kualitas yang  merata. Tapi lagi-lagi Arsenal berpotensi besar tanpa gelar musim ini.

Tanpa disadari ini adalah tulisan sediksi kedua yang membahas tentang Arsenal.  Memang Arsenal sangat enak dijadikan sasaran caci-maki dan olok-olok. Sepak bola tanpa saling olok antar fans rasanya seperti nasi goreng tanpa garam. Olok-olok itulah yang menghidupkan suasana kompetisi. Dan saya yang selalu memegang teguh slogan Visca Barca! ini merasa bisa mengolok Arsenal sesuka hati, apalagi masalah gelar. Terlepas dari kenyataan Barcelona selalu kesulitan ketika berhadapan dengan Arsenal, toh pada akhirnya Barca yang menang.

Performa klub berjuluk Meriam London yang selalu jungkir balik di satu musim hingga penggemarnya yang selalu setia tanpa gelar menambah sisi menghibur Arsenal. Meskipun tidak semestinya Meriam London hanya menjadi tim hiburan di tengah perburuan gelar. Namun begitulah kenyataannya.

Kiprah Arsenal ini mengingatkan saya akan ungkapan Sindhunata. Menurutnya, ada perbedaan besar antara berangan dan bermimpi.  Berangan adalah upaya menjaga khayal, membayangkan prestasi-prestasi yang mungkin bisa diraih. Namun khayalan itu tidak beriringan dengan upaya-upaya ditempuh.

Sedangkan bermimpi tidak sama dengan berangan. Bermimpi juga dilandasi dengan khayal tentang prestasi. Hanya saja dalam mimpi itu, ada pengukuran-pengukuran tentang kemampuan diri dan kemungkinan-kemungkinan, hingga rintangan yang mungkin menghadang. Dengan kata lain, ada perhitungan disana.

Bicara tentang mimpi, tidak lengkap rasanya jika tanpa menyertakan slogan Bung Karno. Dia pernah berujar, “Bermimpilah setinggi langit. Jika jatuh, kau akan jatuh diantara bintang-bintang!”. Menurutnya mimpi itu harus setinggi mungkin. Karena kalaupun tidak tercapai, upaya Anda untuk meraih mimpi telah menempatkan Anda diatas orang-orang umumnya.

Hal yang sama terjadi pada Arsenal. Setiap musim mereka selalu bermimpi bisa juara Liga Inggris. Dan setiap musim pula mereka finis di zona Liga Champions. Mereka membuktikan bahwa tetap saja mereka terjatuh diantara bintang-bintang. Karena hanya empat dari 20 tim yang berhak lolos ke zona itu.

Tapi mimpi juga harus dirawat. Karena situasi yang terus terulang akan membentuk rutinitas. Dan rutinitas membentuk kenyamanan. Berturut-turut finis empat besar barangkali mendorong Arsenal menurunkan mimpinya dari Juara Liga menjadi sekedar peringkat empat.

Gawat kalau sudah begini. Lha wong bermimpi peringkat pertama saja mereka hanya mampu posisi keempat, apalagi kalau mimpinya hanya jadi yang keempat. Bisa-bisa Arsenal terlempar dari empat besar. Mungkin klub ini ingin menunjukkan solidaritas London dengan menemani Chelsea yang nun jauh di bawah papan klasmen.

Sekarang menjadi lebih logis kenapa masih ada orang seperti Bli atau Ratu Inggris (kok enak banget Bli disetarakan Ratu?) yang menjadi pendukung setia. Karena Arsenal adalah mimpi-mimpinya. Dan bermimpi itu mengasyikkan, apalagi jika sampai harus keramas keesokan harinya. Bahkan mimpi buruk juga asyik, yang menghadirkan sensasi adrenalin yang mengucur hingga memaksa jantung berdetak lebih kencang dan keringat dingin bercucuran. Sensasinya itu lho, gimana gitu.

Ini  tidak mungkin diperoleh tim lain. MU dengan Fergie’s Time yang tersohor itu memang seru. Tapi hanya beberapa menit di akhir pertandingan. Bersama Gunners, sensasi itu bisa sepanjang musim hingga bermusim-musim. Meskipun di akhir musim hanya bisa terduduk sedih, tapi kan duduknya ramai-ramai sesama pendukung. Ada perasaan senasib yang menambah keakraban. Apalagi kalau ada penggemarnya yang cewek cantik. Bisa jadi objek untuk saling menghibur dalam rangka modus.

Sebagai penggemar Barcelona, sensasi itu rasanya sangat asing bagi saya. Terus terang ada sedikit rasa iri. Sebagai penguasa Eropa dalam 10 tahun terakhir, kami sudah sangat akrab dengan gelar. Bahkan gelar Liga Champion kemarin memang istimewa. Tapi hanya ibarat balikan ke mantan. Bukan dapat pacar baru. Apalagi puasa gelar mayor selama 10 tahun, sungguh tidak pernah terbayangkan meskipun di fantasi terliar kami. Selama ada trio MSN, semua akan baik-baik saja.

Jadi, bagi para gooners, jangan terlalu risau. Musim ini memang memalukan karena klub kalian berada di bawah tim kampung macam Leicester dan terlebih lagi rival abadi kalian, Tottenham. Tapi yakinlah, semua ada hikmahnya. Rawatlah mimpi itu. Bagaimanapun Barcelona butuh Arsenal sebagai sparing partner untuk berbagi filosofi permainan. Visca Barca!

Barangkali anda juga suka