Om Eka, Cantik Itu (Meninggalkan) Luka

0

Hai gaes, gimana kabar kalian? tak terasa udah ketemu lagi sama Ramadhan, dengan bahagia kru sediksi mengucapkan Selamat Puasa bagi yang menjalankan, semoga semakin sehat dan kuat menghadapi kenyataan.

Jika saat ini ada seorang sastrawan tanah air yang namanya tengah naik pohon mangga (lebih realistis daripada naik daun, Anda tak perlu protes), seorang itu hampir 98% dipastikan bernama Eka Kurniawan. Ya, om-om kelahiran Tasikmalaya 40an tahun silam ini memang sedang hangat diperbincangkan. Bukan hanya di dalam negeri, bahkan di kancah internasional prestasinya cukup membuat kita turut bangga menjadi warga Indonesia. Beberapa waktu lalu, novel Eka Kurniawan berjudul “Lelaki Harimau” atau “Man Tiger” mendapat apresiasi dengan menjadi nominasi utama 13 buku terpilih, menyisihkan 155 karya lainnya dari 14 negara. Dalam 13 nominasi buku tersebut juga terdapat novel “The Stranggereness of Minds” karya Orhan Pamuk peraih Nobel Sastra asal Turki.

Tidak berhenti sampai di situ, dalam lain kesempatan Benedict Anderson seorang pemikir dan peneliti kenamaan tentang Indonesia juga Harian The Sydney Morning Herald menyebut Om Eka adalah The Succesor Indonesia’s Greaters Writers, laiknya Mbah Pramoedya Ananta Toer. Meskipun katanya, Om Eka Sendiri merasa kurang sreg bila disamakan dengan penulis yang diidolakannya tersebut.

Oke kita tak akan banyak ngomongin Om Eka, karena katanya, saat bulan puasa ngomongin orang bisa bikin pahala puasa kita berkurang. Maka daripada itu, dalam kesempatan ini penulis lebih memilih untuk ngobrolin karya Om Eka saja yang berbentuk novel, dengan judul “Cantik Itu Luka”, yang kebetulan beberapa waktu yang lalu (belum) rampung penulis baca.

Namun perlu dicatat, tulisan ini bukanlah sebuah resensi, apalagi kritik sastra. Ini hanyalah coretan-coretan iseng penulis, yang dituliskan dengan resah, ketika para penghuni kontrakan sedang terjangkit fenomena keranjingan pada game tahu bulat dan serigala-serigala manja.

Hampir sama dengan novel-novel Om Eka yang lainnya, “Cantik Itu Luka”, dituliskan sama-sama dengan alur cerita yang kompleks, sama-sama menggunakan pemilihan kata yang cerkas dan berani, dan yang paling penting sama-sama belum rampung penulis khatamkan. Bukan apa-apa, nyatanya kebiasaan membaca buku dengan mencicil tergantung perasaan dan baru bisa membaca saat meminjamnya pada teman, sangat tidak ideal untuk buku-buku Om Eka, yang waiting list nya amat panjang. Terlebih untuk buku “Cantik Itu Luka” yang tebalnya lebih tebal dari kasur spons di kontrakan saya.

Awalnya ketika melihat novel dengan judul “Cantik Itu Luka”, saya berpikir novel ini berisi motivasi pembangun jiwa, ala-ala karangan Kang Abik, akhi Salim A Fillah, atau juga Koh Felix Siauw. Namun nyatanya ketika saya membaca kata pengantar dan beberapa lembar isinya, saya menemukan perbandingan yang benar-benar terbalik dari bayangan saya sebelumnya. Menurut hasil pencarian saya di Wikipedia, novel “Cantik Itu Luka” atau dalam edisi internasionalnya yang berjudul “Beauty is Wound” telah diterjemahkan dalam 25 bahasa (mungkin juga termasuk bahasa kalbu). Novel ini masuk dalam nominasi 100 buku berpengaruh versi The New York Times, sejajar dengan “One Thousand Years of Solitude” karangan Gabriel Garcia Marquez yang juga pengarang “Love in TheTime of Cholera”, yang pernah meraih Nobel sastra di era 80-an.

Dalam sudut pandang kacamata saya yang terbatas, setiap tulisan dan judul karya Om Eka selalu menimbulkan pergulatan pemikiran dan tanda tanya besar. Misalnya, dalam novel “Lelaki Harimau”, yang sempat saya curigai menjadi cikal bakal ditayangkannya sinetron (khayal) dengan judul ” Manusia Harimau” di salah satu stasiun televisi swasta. Atau dalam Novel “O” dimana jalan ceritanya berkisah tentang seekor monyet jenius yang tergila-gila pada kaisar dangdut, hal ini memunculkan kecurigaan jika novel ini ditulis karena terinspirasi salah satu ajang kontes dangdut dengan durasi amat panjang, yang tengah booming di kalangan penonton kelas menengah akhir-akhir ini. Atau juga dalam salah satu potongan dialog dalam “Cantik Itu Luka”, dimana tokoh utama Dewi Ayu, memilih untuk meminum susu sapi berlabel beruang, padahal latar cerita dalam novel tersebut adalah berada pada masa zaman kolonial.

Namun jika disadari justru keunikan- keunikan yang kompleks itulah yang membuat setiap karya Om Eka mempunyai karakter kuat, termasuk dalam novel “Cantik Itu Luka”. Sangat jarang seorang penulis pria yang mengusung nilai feminis dalam karya kepenulisannya dan menjadi wajar setiap kecantikan akan menjadi luka jika digambarkan dalam suasana penjajahan di setiap teori poskolonialisme. Di mana cantik pada masa itu akan identik dengan gundik pada masa zaman Belanda atau juga dipaksa menjadi Jugun Ianfu pada peralihan Jepang. Hingga dalam novel tersebut diceritakan jika Dewi Ayu berdoa jika ia mempunyai anak perempuan lagi, ia ingin anak dengan seburuk-buruk rupa.

Hal itu akan menjadi berbanding terbalik jika melihat realitas sekarang, di mana setiap wanita akan menginginkan dan berlomba menjadi cantik, karena kecantikan wajah lebih dari sekedar anugerah. Ya, setidaknya jika tak lolos casting menjadi artis, perempuan yang diartikan cantik sekarang masih bisa beralih profesi menjadi model endorse produk atau juga selebgram. Hal itu jelas secara tidak langsung akan meninggalkan seberkas luka bagi ribuan followers laki-laki yang hanya bisa memandang tanpa bisa memiliki.

Dalam studi kasus yang lain, kecantikan juga akan meninggalkan luka mendalam, bagi para lelaki yang cukup (berusaha) terlihat bijak yang mengatakan jika kecantikan bukanlah sebuah hal yang utama dalam menjalin sebuah hubungan. Namun kenyataannya, perubahan status menjadi mantan, saat lelaki ditinggalkan sang wanita (cantik) (dengan yang lebih mapan), akan membuat para laki-laki tetap (berusaha) terlihat tegar dan bersembunyi di balik kata-kata pamungkas jika cinta memang tak harus memiliki.

Dalam novel “Cantik itu Luka” pun ternyata hal ini juga digambarkan secara jujur dalam sepotong fragmen cerita yang menarik, tentang kisah cinta antara Mak Gedik dan Mak Iyang, Dimana Mak Gedik harus merelakan kekasihnya Mak Iyang yang begitu ia cintai dipaksa menjadi gundik seorang Belanda bernama Ted Stammler. Namun keduanya berjanji akan bertemu 16 tahun kemudian. Dalam masa penantian yang panjang itu, Mak Gedik mencoba menjadi tegar, namun akhirnya kalah dan dipasung dalam keadaan menjadi gila. Dan yang menjadi menarik setelah 16 tahun berlalu, keduanya menepati janji pertemuan. Meskipun pada akhirnya setelah menuntaskan pertemuan, Mak Iyang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan melompat dari atas bukit karena tak mau lagi dijadikan gundik.

Hal ini menyebabkan Mak Gedik gagal move on, dan memilih hidup terasing dalam keadaan skizofrenia. Mak Gedik membayangkan hidup dalam keadaan damai dengan seorang istri dan 19 orang anak, padahal nyatanya ia hidup seorang diri dalam halusinasi. Halusinasi adalah bentuk luka dan kedukaan yang paling mendalam dari diri seorang laki-laki yang sangat berbahaya. Apalagi jika halusinasi dilakukan di kamar mandi dalam keadaan sedang melakukan puasa. Om Eka, benar adanya, jika cantik itu juga (meninggalkan) luka.

Barangkali anda juga suka