Memantankan Mantan di Koala Kumal

0

Di Indonesia setidaknya ada dua waktu yang menjadi quality time bagi para penggemar film. Lebih khusus pada penggemar film Indonesia. Entah itu bagi mereka para hobinya siaga nongkrongin bioskop buat update rilis film terbaru atau bagi kalangan mager (dengan berbagai alasan tabu untuk disebutkan) seperti saya. Yang lebih memilih menunggu film bioskop muncul dengan tulisan tayang perdana di layar kaca.

Dua waktu yang dianggap barokah bagi para penggemar film itu tidak lain adalah waktu libur lebaran dan libur tahun baru. Tentu hal itu amat sederhana, tak perlu rumus relativitas untuk menjelaskannya. Ketika kebutuhan masyarakat akan hiburan mengisi waktu luang, dapat dibaca rumah produksi dan stasiun televevisi sebagai hal yang menguntungkan, maka, puuufft… Bermunculanlah film-film beragam genre yang mencoba peruntungannya di dua waktu ideal tersebut. Ya itu namanya hukum alam, ehh hukum pasar.

Tak seperti di layar kaca yang cukup monoton menayangkan film genre cinta religi macam Ayat-Ayat Cinta atau Assalamualaikum Beijing. Genre film yang diputar di bioskop pada libur lebaran biasanya cukup beragam.

Seperti liburan lebaran kemarin, setidaknya hampir ada lima film Indonesia baru beragam genre yang berharap ketularan sukses “AADC 2”, yang tayang beberapa waktu sebelumnya.

Beberapa film baru tersebut di antaranya ada ; Rudy habibie, Sabtu Bersama Bapak, Jilbab Traveler, Koala Kumal, juga ILY 3600 feet, yang memiliki genre dan segmentasi pasar yang cukup berbeda.

Dari beberapa film baru tersebut,  kebetulan karena waktu senggang dan ajakan kawan, saya (akhirnya) sempat menonton dari salah satunya. Dan pada saat itu pilihan film jatuh pada “Koala Kumal”. Ya, genre komedi memang cukup ringan untuk ditonton ketika mata masih ngantuk efek sering begadang karena euforia bola.

Hampir sama dengan beberapa film besutan Raditya Dika  yang sebelum-sebelumnya, film yang diadaptasi dari novel dengan judul yang sama ini, menyajikan cerita ber-genre drama(tisir) komedi. Dengan si Radit a.k.a Dika sendiri yang berperan sebagai tokoh utamanya. Namun sebelumnya dalam tulisan ini, karena saya bukan pencerita yang baik maka dari itu saya tak ingin menceritakan isi film, karena saya memang tak berbakat menjadi spoiler apalagi kritikus film yang baik.

Oke kembali ke layar…., ibarat sopir odong-odong dan anak-anak, sepertinya jika berbicara tentang film, apapun judul dan genrenya tak akan lepas dan akan selalu berhubungan dengan alur yang namanya cinta. Begitupun juga dalam Koala Kumal, walaupun sebelumnya saya membayangkan, Koala Kumal adalah film yang berkisah tentang Koala lusuh, jarang mandi, rambutnya gondrong, suka bikin puisi yang cintanya bertepuk sebelah tangan dengan Koala cantik, baik hati dan berjiwa ke-ibu koalaan.

Bukan seperti gambaran saya, film ini nyatanya lebih bercerita tentang hubungan cinta pasang surut antara Dika (Raditya Dika) dengan kekasihnya Andrea (Acha Septriasa). Ya saking pasang surutnya, diceritakan mereka yang sudah mencetak undangan pernikahan harus gagal menikah karena kehadiran orang ketiga, seorang dokter bernama James (Nino Fernandes).

Dan disaat kegalauan Dika sudah sampai puncaknya, datang seorang mahasiswa cantik bernama Trisna (Sheinafia) yang berusaha buat nyembuhin kegalauan Dika dengan berbagai cara uniknya. Rupanya Radit sebagai sutradara, cukup jeli dengan menguatkan alur cerita film ke upaya saling maaf memaafkan dan upaya-upaya balikan, di filmnya yang tayang pas saat momen lebaran.

Bagi saya, ada beberapa potongan plot yang cukup menarik di film ini, hal itu karena beberapa adegan cukup akrab dan sering saya temui. Misalnya ketika adegan curi-curi pandang atau tebar pesona saat diskusi atau bedah buku di lingkungan Persma, atau di lingkungan kepenulisan, saat ide tulisan ternyata mandek karena galau patah hati disaat deadline tulisan kian dekat dan redaktur sudah nagih mencak-mencak. Atau juga tentang seseorang (mirip teman kontrakan saya) yang sedang bimbang mencari mencari pembenaran atas kesalahan pasangan karena masih berharap untuk balikan.

Nyatanya secara keseluruhan dalam ini film ini, keluguan Raditya Dika dalam hal asmara memang masih menjual sebagai faktor utama penarik penonton. Ya penggambaran Radit untuk sosok dirinya sebagai tokoh utama, seorang penulis lugu yang hina-able dan kerap jadi bahan bully, sepertinya cukup sebagai alasan menarik bagi para wanita untuk menonton film ini.  Dan sembari menikmati melihat betapa tersiksanya perjuangan seorang pria dalam mencintai sosok wanita.

Ya sih, entah kebetulan atau memang sudah kodrat, Dalam dunia nyata kebanyakan orang-orang yang akrab dalam hal kepenulisan dan tumpukan-tumpukan buku bacaan, justru terlalu baik dalam hal mencintai seseorang. Tapi juga tak separah dan sekonyol yang digambarkan Radit dalam Koala Kumal.  Walaupun begitu, ada baiknya para wanita tak menyia-nyiakan seorang pria penulis dalam hal urusan asmara, karena pria penulis adalah orang yang baik hati, dan akan sangat meninggalkan kesan ketika telah tak bersama lagi.

Seperti kata Andrea yang katanya menyesal saat ninggalin Radit demi orang lain. Dan di akhir tulisan ini satu pesan moral yang dapat ditangkap oleh semua penonton dan pembaca yang Budiman, lebaran adalah momen yang tepat untuk saling memaafkan, namun bukan berarti juga menjadi momen yang pas untuk balikan dengan mantan. Meminjam nasehat dari mamanya Radit, “Relakanlah setiap hal yang telah berlalu, karena walaupun kembali tak akan pernah sama seperti yang dahulu”. nah loh!

Barangkali anda juga suka