Adaline yang Tak Butuh Krim Anti-Aging

0

Adaline Bowman adalah karakter utama dalam film “The Age of Adaline” (2015) yang berprofesi sebagai pustakawan. Adaline, begitu ia disapa, suatu hari mengambil kartu identitas palsunya, yang telah berganti nama menjadi Jennifer Larson usia 29 tahun. Jadilah Jenny menggunakan nama barunya untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Penggantian nama palsu ini telah ia jalani selama kurun waktu 60 tahun. Lalu bagaimana bisa ia berani memalsukan usia menjadi 29 tahun? Bukannya foto dalam KTP yang ia pegang harusnya menunjukkan orang yang telah menua? Bagaimana orang di sekelilingnya bisa menerima bila si Jenny ini berusia 29 tahun?

Problem utama ini dieksplorasi dengan apik dalam film tersebut, sebab pada intinya wanita yang kini mengganti namanya menjadi Jenny itu adalah perempuan kelahiran 1908 yang terkena gelombang elektronik dari petir saat ia kecelakaan. Science fiction dalam film ini berteori bahwa gelombang elektronik yang dibawa petir tersebut telah membuat struktur DNA Adaline tidak dapat rusak oleh perkembangan zaman, sehingga usia fisik Adaline menjadi terhenti. Setting film ini di tahun 2014, sehingga secara teknis Adaline telah hidup selama 106 tahun.

Adaline Bowman memilih untuk berpindah tempat dari daerah satu ke daerah lain untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan orang di sekelilingnya yang takjub. Bagaimana bisa Adaline tetap awet muda? Jawaban krim dengan gelatin madu ratu lebah dari Paris sudah tidak relevan manakala teman seangkatannya sudah sangat keriput sedangkan Adaline tetap cantik ala remaja yang baru beranjak dewasa. Adaline berupaya untuk mengganti identitasnya setiap sepuluh tahun sekali untuk menyelamatkan dirinya dan putri semata wayangnya yang mulai menjadi nenek. Adaline tidak ingin difoto oleh siapa pun, tidak ingin masuk pemberitaan mana pun, apalagi sampai dijadikan objek riset anak-anak biologi yang kekurangan ide.

Lucunya, dalam film ini, Adaline menjalin kasih dengan seseorang bernama Ellis yang ternyata ayahnya adalah mantan gebetan Adaline jaman dulu. Coba bayangkan Anda menjalin kasih dengan seseorang di zaman berbeda dengan penampilan usia fisik yang sama. Mungkin Anda bisa cukup berbangga hati karena punya banyak mantan pacar, tapi Anda tidak dapat secara alamiah menjalani fase kehidupan normal. Ketika teman-teman seangkatan Anda sudah menimang cucu, Anda masih berkutat pada jatuh cinta pada gebetan karena wajah Anda tidak dapat menua.

Jujur saya terkesan dengan konsep besar film ini. Meski ada kemiripan konsep karakter dengan para vampir di Twilight yang tidak dapat menua karena berhentinya proses penggantian struktur gen dalam tubuh, namun film The Age of Adaline menampilkan science fiction dengan versi lain yakni dari gelombang elektronik. Sehingga penonton dapat menerima fiksi itu sebagai teori ilmiah yang dapat dirasionalisasi untuk menjelaskan mengapa Adaline bisa awet muda. Dikatakan dalam film tersebut, prinsip Von Lehman tentang pemampatan elektron di DNA akan mengebalkan seseorang dari pergantian zaman. Teori ini baru akan ditemukan pada tahun 2035. Ketika film ini selesai, saya menjadi tidak habis pikir dengan orang-orang Indonesia yang bangga disebut baby face.

Kurang lebih dialog di sebuah bangku halte bus kadang seperti ini, “Mbaknya sekolah SMA di mana?” – “Oh saya sudah S2, mas. Kebetulan di kampus sebelah”. Sesampainya di kampus ia dengan bangganya bercerita “eh aku masih dikira anak SMA dong…” . Mungkin ia belum merasakan penderitaan menjadi awet muda seperti Adaline yang harus berpindah-pindah tempat agar tidak dijadikan objek riset. Atau mungkin ia melewatkan dialog Rosalie dalam Trilogi Twilight yang berkata “aku iri karena sebenarnya aku ingin menjadi manusia normal. Sebab hidup menjadi vampire hakikatnya berhenti, tidak pernah ada perubahan”. Mungkin si anak S2 yang dikira masih SMA itu baru menderita bila ia kemudian sering digilai anak SMA, padahal ia sudah dewasa. Ah, awet muda ternyata hanya modal kenarsisan untuk mendapat jodoh.

Menjadi keriput adalah keniscayaan sehingga semua manusia normal pasti mengalami proses alamiah ini. Pola makan dan konsumsi vitamin C menjadi upaya yang begitu membuat perempuan tidak bebas. Belum lagi segala merk krim anti-aging yang ditawarkan di televisi semakin membuat perempuan berlomba untuk menjadi awet muda. Di saat Adaline dan Rosalie menginginkan proses alami penuaan agar hidupnya dapat berjalan sesuai usia, perempuan-perempuan di Indonesia malah begitu ingin menghentikannya. Apa sebenarnya yang diinginkan oleh para perempuan awet muda? Sekadar pujian? Atau bolak-balik dijadikan front liner perusahaan sampai tua? Atau ingin berganti-ganti suami ganteng?

Saya kemudian berpikir urgensi menjadi awet muda hanya signifikan untuk artis film atau televisi. Sebab menurut analisis singkat saya, awet muda adalah modal untuk mendapatkan pemujaan. Artis bisa memerankan tokoh anak SMA, anak kuliah, meski usianya sudah 35. Dengan begitu pundi-pundi tabungannya tidak dapat habis, mengingat profesi artis adalah profesi seumur hidup, selama masyarakat mengidolakan. Tapi untuk seorang Adaline Bowman atau Rosalie dalam Twilight yang hanya masyarakat sipil tanpa profesi yang butuh pujaan, awet muda menjadi halangan untuk hidup.

Garis-garis halus di sekitar mata, lipatan kulit pada dahi, atau kusamnya warna kulit menjadi sebuah momok bagi perempuan. Sehingga perempuan disibukkan dengan urusan kecantikan. Padahal Soe Hok Gie pernah berkata, “perempuan akan selalu di bawah laki-laki kalau yang diurusi hanya baju dan kecantikan.” Perempuan sekiranya perlu menonton kisah Adaline ini sebagai pemacu semangat belajar. Adaline bukan hanya sekadar awet muda, tapi ia benar-benar memanfaatkan kondisinya untuk belajar empat bahasa, memahami huruf braille, dan menamatkan sejarah. Anyway, Adaline tidak perlu susah-susah belajar sejarah, sebab ia adalah salah satu pelaku sejarah itu sendiri. Mungkin bila Adaline ada di dunia nyata, profesi yang cocok baginya adalah Guru Sejarah.

Bila Adaline benar-benar ada dalam dunia nyata, mungkin dia heran dengan perempuan-perempuan yang berjuang untuk awet muda. Di saat Adaline tidak ingin difoto karena ia merasa fotonya sama saja dari tahun ke tahun, perempuan kini malah ingin difoto untuk membuktikan bahwa ia awet muda. Sekali lagi, untuk para perempuan pejuang awet muda, bukankah capek menjadi muda? Salam.

Barangkali anda juga suka