Menjadi Jomblo Idealis Seperti Morrissey

0

Di sebuah ruang ujian, seorang mahasiswa tengah berbincang dengan dosen pembimbingnya. Saat itu ujian sudah selesai, dosen penguji sudah hengkang dari ruangan tersebut. Namun sesi tanya jawab masih harus berlanjut. Mahasiswa itu kini terlihat masygul karena tak bisa menjawab pertanyaan dari dosen pembimbingnya. Ia coba mengulang pertanyaan itu di kepalanya, ia resapi, ia renungkan. Tapi gagal, ia tak mampu menjawab, dan hanya meninggalkan sunyi. Pertanyaan menakutkan tersebut adalah: “Rahma, apakah kamu memiliki kekasih?”

Jreng!

Sebenarnya mudah saja, jika ia memang jomblo maka tinggal katakan “tidak” dan situasi horor tersebut akan segera berakhir. Atau malah menjadi semakin mencekam? Pasalnya, menjadi jomblo di zaman sekarang ini dilematis, antara bebas dan terkekang. Wah, ini paradoks! Bebas, seperti kata Sartre, karena memang manusia dikutuk untuk bebas menentukan hidupnya sendiri. Dan memiliki pasangan akan berpotensi menghilangkan kebebasan eksistensil tersebut. Mereka akan saling mengobjektifikasikan pasangannya masing-masing. Lain hal nya dengan jomblo, ia adalah seorang individu merdeka.

Namun menjadi jomblo bisa juga terkekang. Sebabnya, masyarakat sudah terlanjur termakan mitos-mitos kultural: bahwa menjadi jomblo berarti tidak laku, kesepian dan pantas dikasihani. Meskipun ada benarnya juga, tapi siapa yang tidak risih jika dilabeli mitos seperti itu?

Pun memiliki pasangan sama saja dengan taruhan: siapa yang bisa menjamin bahwa cinta kalian tak akan bertahan singkat laiknya masak mie instan? Nah, pada posisi ini membicarakan cinta akan jadi sulit.

Cinta menurut Erich Fromm, adalah satu-satunya jawaban yang paling memuaskan atas segala permasalahan eksistensi kita. Kenapa kita hidup? Apa yang kita lakukan sekarang? Dengan cinta, pertanyaan pertanyaan itu bisa kita jawab. Karena Tuhan (jika anda bukan seorang ateis) mencintai kita, dan ia menginginkan kita merasakan gejolak-gejolaknya, misalnya seperti itu.

Dalam buku The Art of Loving, Erich Fromm mengatakan bahwa kebanyakan dari kita hanya mempermasalahkan tentang bagaimana supaya “dicintai” daripada “mencintai” seseorang. Maka dari itu, orang orang selalu berangan-angan: bagaimana supaya bisa dicintai orang lain? bagaimana supaya  bisa lovable? Mereka akan berusaha mencapai cita-cita itu dengan segala cara. Nah, hal ini juga yang sering kita jumpai pada jomblo-jomblo yang tidak idealis!

Fromm memberikan contoh, seorang pria akan berusaha terlihat sukses: sok berkuasa dan menjadi kaya. Sementara perempuan akan berusaha mempercantik penampilannya dengan perawatan tubuh dan mengenakan pakaian yang menarik. Selain itu mereka juga akan berusaha menciptakan percakapan yang menarik, terlihat sopan, dan lainnya, supaya terlihat lovable. Haduh, daripada berusaha susah payah supaya bisa dilirik, sebaiknya kita mendengarkan Morrissey.

Unlovable adalah nomor paling mengharukan di album Louder than Bombs dari The Smiths. Sepertinya Morrissey menulis lagu ini dengan sepenuh hatinya. Lagu ini seperti sebuah pengakuan tulus dari seorang jomblo kepada seorang yang paling dicintainya. Ia tidak meminta untuk dicintai, ia rela mencintainya tanpa berbalas. Ia sangat idealis! Pantas saja, di usia yang kian menua Morrissey tetap saja menjomblo.

Lagu ini dibuka dengan lirik menampar: “I know i’m unlovable, you don’t have to tell me” sebuah pengakuan ketidaksempurnaan diri yang barangkali jarang kita dengar. Sekaligus rasa rendah diri yang membuat sedih. Morrissey memang demikian, sering merendahkan diri atau dalam istilah keren disebut self-deprecating meski tak jarang narsis dan nyinyir terhadap orang lain.

Lalu dilanjutkan dengan: “I don’t have much in my life, but take it, it’s yours”. Kalimat ini seperti negasi atas contoh yang diberikan Erich Fromm. Bahwa ternyata, ada juga seseorang yang tidak hanya memikirkan tentang bagaimana supaya “dicintai” saja, lebih dari itu ia mencintai seseorang dengan menyerahkan segala ketidaksempurnaan yang dia miliki. Ia tak berusaha untuk terlihat sempurna, tidak seperti yang Fromm jabarkan sebelumnya. Ia rela menjadi apa adanya. Sungguh jomblo yang mulia.

Morrissey & Johnny Marr saat masih tergabung dalam the Smiths. sumber; last.fmLirik lagu itu masih berlanjut, “I wear black on the outside because black is how I feel on the inside. And if I seem a little strange, well that’s because I am.”  banyak yang mengartikan warna hitam sebagai sesuatu yang misterius. Hitam juga bisa berarti sesuatu yang buruk, ia lawan dari putih, sebuah kesucian. Terlihat betapa merasa rendahnya dia. Padahal menjadi aneh dan berbeda bukanlah sesuatu yang nista.

Barangkali, ini yang Morrissey rasakan sejak lama. Orientasi seksual Morrissey sangat misterius, banyak orang mengejeknya sebagai homoseksual dan juga biseksual karena ia sering melakukan gaya meliuk-liuk kemayu, dan gemar memutar mutarkan kabel mikrofonnya ketika bernyanyi, di atas panggung ia juga sering dilempari bunga oleh penggemarnya. Dalam sebuah penghujung konser, dia memperkenalkan para anggota bandnya (saat itu tahun 2008, dan The Smiths sudah bubar jauh sebelumnya) dan diakhiri dengan kata-kata nyinyir: “Dan terakhir saya sendiri, tidak memiliki identitas”.

Terlepas dari ketidaksempurnaan itu semua, justru inilah yang membuat Morrissey sangat lovable, bagi saya. Ia tidak berusaha membuat orang lain tertarik padanya. Maka dari itu, pesan saya terhadap jomblo jadilah seorang jomblo yang idealis seperti Morrissey. Tak perlu berusaha menarik perhatian, toh jika memang sudah jodoh pasti mereka akan datang. Tapi kalau tidak datang-datang, lebih baik kita nyanyi lagu The Smiths yang lain, yang liriknya akan menjadi petuah penting bagi kalian: you just haven’t earn it yet baby, you must suffer and cry for a longer time ~

Barangkali anda juga suka