Nietzsche Pun Seorang Hipster

0

Menarik membaca tulisan Iqbal tentang pengalamanya menonton konser musik di Bandung beberapa tahun silam. Namun, inti dari tulisan Iqbal adalah keresahannya melihat fenomena Hipster. Memangnya, ada apa dengan Hipster? Bagi Iqbal, hipster adalah orang-orang anti-mainstream yang terlalu sibuk bermain simbol. Bagaimana tidak, ciri kehipsteran seseorang  yang paling kentara dilihat dari penampilan mereka. Ketika seorang hipster pendiam misalnya, berjalan dengan mengapit beberapa piringan hitam pada totebag mereka, penampilan mereka tetap berbicara. Penampilan itu penanda yang barangkali meminta untuk ditafsirkan lebih lanjut. Namun tulisan ini tidak berusaha menafsirkan tanda-tanda tersebut karena ini bukanlah analisis semiotika hipster.

Sebenarnya saya tidak hendak mengadu argumen dengan Iqbal, karena saya sangat tidak kompeten pada ranah perhipsteran. Saya hanya bertanya, apa salahnya menjadi seorang hipster? Terlebih konsep hipster itu  bermacam macam, ada yang mengarah ke fashion, seni (baik musik, sastra, seni rupa) hingga ideologi dan politik (coba baca The Hipster Handbook untuk mengetahui macam macam Hipster Amerika).

Menjadi hipster adalah sebuah pilihan seseorang, meskipun ada juga yang hanya terbawa arus. Berlawanan dengan apa yang teman Iqbal utarakan, bagi saya menjadi hipster berarti berusaha authentic. Kenapa? Karena mereka memilih jalan mereka sendiri yang berbeda dari kebanyakan orang. Kecuali untuk para pseudo-hipster yang hanya ikut-ikut demi mendapat citra yang bagus tanpa memiliki pendirian sendiri. Lalu apa yang salah? Bahkan Friedrich Nietszche pun seorang hipster.

Nietzsche Hipster
Gambar Nietzsche Hipster

Nietszche pernah menulis, yang barangkali dijadikan kutipan sahih bagi para hipster untuk menjelaskan arti musik bagi mereka; without music life would be a mistake. Tanpa musik hidup akan menjadi sebuah kesalahan. Begitu dalamnya kekuatan sebuah musik bagi Nietszche yang merupakan sohib sekaligus penggemar berat Richard Wagner saat menapaki awal kedewasaannya, hingga ia menuliskan hal tersebut. Dalam ranah filsafat, Arthur Schopenhauer juga membahas musik dalam pemikirannya. Sosok ini pula yang dijadikan Nietszche sebagai panutan.

Dalam buku Lahirnya Tragedi (The Birth of Tragedy out of the Spirit of Music) misalnya, ia mengutip tiga halaman penuh pendapat Schopenhauer tentang musik. Bagi Schopenhauer, musik berbeda dari bentuk bentuk seni lain. Ia bukanlah salinan atas fenomena tertentu, lebih tepatnya ia adalah salinan atas kehendak manusia. Dan dengannya, musik mengekspresikan konsep metafisika dari benda-benda fisik. Konsep metafisika di sini berarti musik bukanlah bebunyian yang hanya bisa didengarkan. Lebih dari itu di dalamnya terdapat ‘nyawa’ atau hal kasat mata yang tidak bisa dijelaskan secara indrawi. Jadi, tidak ada yang salah ketika kita merasa sentimentil ketika mendengarkan musik. Karena sosok metafisik tersebut barangkali  telah menculik kita, atau malah kita yang menculiknya?

Bukti lain kehipsteran Nietszche adalah caranya menuliskan gagasan filsafatnya yang puitis. Berbeda dengan dengan filsuf-filsuf sebelumnya yang menggunakan gaya menulis ilmiah nan njlimet. Pemikirannya pun sangat anti-mainstream. Dalam Thus Spoke Zarathustra misalnya, Ia menulis: “Tuhan sudah mati! Tuhan terus mati! Kita telah membunuhnya, semoga Tuhan beristirahat dalam kedamaian abadi”. Tulisan tersebut sebenarnya adalah kritik tajam atas kehidupan kita. Ketika manusia lebih mengagung agungkan derasnya ilmu pengetahuan dan kebebasan berpikir, bahkan menjadikannya sebagai ‘agama baru’. Dan demikianlah Tuhan mati. Ia dibunuh oleh ciptaannya sendiri. Dan karena sangat kontroversialnya pemikiran tersebut, ia pun mendapat banyak kritik.

Kemudian, konsep filsafat Nietszche yang barangkali mengilhami para Hipster untuk terus tampil anti-mainstream adalah konsep manusia super atau Übermensch. Übermensch adalah cara manusia memberikan nilai pada dirinya sendiri. Nietszche mengajak pembacanya untuk menjadikan kehidupan tanpa arah menjadi life-goal. Tanpa arah berarti lepas dari tatanan yang sudah mapan dan terlepas dari keadaan pasti, rasa aman, dan nyaman. Maka dari itu, ia mengajak pembaca untuk tidak mengikuti hal mainstream tersebut, untuk tidak terbawa arus dan membikin nilai pada diri sendiri. Itulah kenapa Ia tidak menyukai konsep agama karena baginya agama membuat manusia menjadi sedemikian pasti dan nyaman. Bahwa segala yang baik pasti dibalas dengan pahala dan surga dan kelak kekal didalamnya. Dan yang buruk mendapat siksa dan kekal di neraka. Di sini konsep Übermensch berusaha menanggal kan nilai pasti tersebut.

Mirip dengan pandangan hipster bukan? Hipster menganggap bahwa masyarakat kebanyakan tidaklah keren karena hanya disuapi apa-apa yang sudah menjadi populer, apa apa yang sudah mapan, dan pasti. Sedang Hipster menolak menjadi demikian. Menjadi berbeda adalah life-goal yang harus tetap dihidupi setiap harinya untuk terus menjaga ritme kekerenan mereka. Dalam hal penampilan, jika orangorang berambut hitam atau agak kecoklatan atau pirang, maka seorang Hipster tidak akan mau memiliki rambut yang sama. Mereka akan mewarnainya dengan warna lain; hijau, merah, oranye, atau putih pun tak masalah. Yang penting tetap beda dan edgy.  

Kembali lagi pada Nietzsche, pada akhir hidupnya, Nietszche menjadi seorang gila. Inilah tragedi besar dalam hidup Nietszche. Barangkali menjadi Hipster bukanlah pekerjaan yang mudah. Tuntutan menjadi berbeda yang semena-mena itu bisa membuat siapa saja menjadi depresi dan berpotensi menghilangkan waras. Namun demikian, kita harus bisa membayangkan para Hipster berbahagia.