Jika Harga Rokok Tak Terbeli

0

Sekitar sepekan terakhir ini, banyak pesan masuk ke HP saya. Isinya bak daftar harga makanan di warung kaki lima. Hanya saja yang satu ini berisi daftar harga rokok dari berbagai merk yang akan diterapkan bulan depan. Isi pesan lebih dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin bagi para perokok. Sebab harga-harga di situ telah mengalami kenaikan 200 – 300%.

Rupanya, Universitas Indonesia adalah biang keladi dari semua keributan ini. Berdasarkan penelitan mereka terhadap 1000 perokok, ternyata 72 % di antaranya menyatakan akan berhenti merokok jika harga rokok di atas 50 ribu rupiah. Untuk itulah para peneliti menyarankan, jika pemerintah bermaksud mengurangi secara signifikan jumlah perokok, naikkan saja harganya melalu kenaikan tarif cukai.

Dari telusuran di media maya, ternyata sejauh ini kabar itu masih simpang siur. Terus mengalir liar. Dan seperti biasa, media-media sosial berisi komentar-komentar baik pro maupun kontra. Tapi yang jelas belum ada pernyataan apa-apa dari pemerintah. Penelitian ini kemudian dilumat habis oleh berbagai media. Lengkap dengan judul-judul yang bombastis. Dan sebisa mungkin mengesankan harga rokok akan benar-benar naik. Lalu disebarkan di aneka media sosial.

Entah apa yang akan terjadi nanti, apakah harganya benar-benar naik atau hanya hoax. Tapi yang pasti, tulisan ini hendak mengajak anda sedikit berkhayal jika nantinya harga rokok benar-benar naik drastis.

Banyak yang menyebutkan bahwa kenaikan harga rokok akan meningkatkan pendapatan negara dari sektor cukai secara signifikan. Dari yang selama ini berkisar di angka 52 triliun, diperkirakan akan mencapai 70 triliun.

Masalahnya, sejak duduk di bangku SMP Guru Ekonomi saya pernah mengajarkan bahwa semakin tinggi harga barang, tingkat penjualannya akan semakin sedikit. Itu sebabnya Avanza bisa terjual ratusan ribu unit dalam setahun, sedangkan Alphard hanya ribuan saja.

Jika harga rokok benar-benar mendekati angka 50 ribu rupiah, masyarakat memiliki tiga pilihan. Pertama tetap membeli rokok yang mahal itu. Kedua, kembali ke jalan yang lurus dengan berhenti merokok. Atau ketiga, mencari barang-barang yang sifatnya mendekati rokok tapi dengan harga yang lebih murah.

Tapi apapun yang akan dipilih, orang yang akan membeli rokok akan berkurang. Dengan demikian, hitung-hitungan penerimaan cukai belum tentu juga akan mengalami kenaikan yang drastis. Siapa tahu nanti malah muncul gerakan massal berhenti merokok yang membuat perokok menjadi makhluk-makhluk langka yang pantas dimasukkan museum atau camp-camp konsentrasi.

Lalu apakah benar perokok akan memilih berhenti merokok? Bisa jadi iya, karena bagaimanapun susu untuk anak dan lipstik untuk istri harus lebih diutamakan. Tapi untuk berhenti merokok itu tidak mudah. Menurut beberapa kesaksian orang-orang yang telah keluar dari jalur maut ini, berhenti merokok menjadi lebih mudah dengan pengalihan.

Pengalihan itu bisa beragam. Bisa dengan mengemil kacang-kacangan, gorengan, atau permen. Tapi dampaknya Anda bisa menderita obesitas jika begini. Jalan tengahnya adalah membeli obat-obat semacam permen nikotin yang tersedia di apotik terdekat yang kata iklannya dapat menyembuhkan kecanduan tanpa efek samping.

Tapi orang yang ngotot untuk tetap merokok juga bakal tetap ada. Contohnya tidak usah jauh-jauh. Tinggal Anda main-main saja ke markas Sediksi yang tersembunyi dari peta itu. Di sana dapat Anda temui bahwa kenaikan harga rokok secara perlahan beberapa tahun terakhir mengakibatkan kegagalan awak Sediksi membeli rokok favoritnya. Jadi, bukannya berhenti merokok, mereka mencari rokok alternatif dengan harga yang lebih murah dan rasa yang tidak jauh berbeda. Merk Ares misalnya, bisa jadi primadona.

Itu baru Ares yang meskipun sudah terdaftar resmi tapi berharga kurang dari 10 ribu rupiah. Belum lagi di luaran sana masih ada ratusan ribu rokok-rokok yang dibuat di rumah-rumah di desa-desa. Yang tentunya susah dilakukan pendataan, dan tidak mungkin serta merta kegiatan turun temurun ini dihentikan begitu saja.

Di tempat lain, mahalnya rokok telah memunculkan komunitas-komunitas penghisap rokok bertegangan listrik (vape). Tidak usah kuatir mulut kesetrum, karena tegangannya kecil. Tapi yang jelas harga seperangkat vape memang mahal. Mulai 200 ribu hingga jutaan. Tergantung spesifikasi yang Anda pilih. Tapi selanjutnya Anda cukup mengeluarkan uang puluhan ribu saja untuk sebulan pemakaian.

Vape tentunya menjadi opsi yang menggiurkan bagi para perokok. Namun mengingat susahnya mencari perangkat vape dan cairan pengisinya, rasanya hanya kalangan tertentu di perkotaan saja yang bakal beralih menggunakannya. Terlebih hingga sekarang, simpang-siur tentang bahaya zat kimia dalam vape juga tidak kalah dibanding rokok.

Jika rokok terlalu mahal dan vape terlalu terbatas, Anda tinggal mengunjungi pasar tradisional terdekat. Gunakan uang rokok yang 50 ribu itu untuk membeli tembakau. Dengan hanya 25 ribu rupiah Anda sudah mendapatkan tembakau dengan kualitas cukup baik sebanyak satu ons. Lalu kertas papir bisa anda beli dengan harga sekitar 5 ribu sepaket. Sisanya belilah alat pelinting untuk memudahkan Anda, cukup 5 ribu.

Dengan 50 ribu itu, kebutuhan rokok Anda selama seminggu telah tercukupi. Masalah rasa, itu tergantung keterampilan Anda dalam melinting, tembakau yang Anda beli, bagaimana tembakau itu disimpan, dan faktor-faktor lain. Bisa juga ditambahkan cengkeh secukupnya dan saus yang biasanya juga dijual di toko tembakau tadi.

Itu juga sebabnya, setelah fenomena kopi dan vape yang telah menjadi tren kekinian para muda-mudi, kenaikan harga rokok akan memicu fenomena tingwe (linting dewe). Nantinya akan bertaburan komunitas-komunnitas tingwe di kalangan mereka. Dengan berpakaian gaul, earphone di telinga, diiringi musik DJ, mereka meracik rokoknya sendiri. Sekaligus melestarikan kebiasaan mbah-mbah dulu. Jadi, naikkan saja harga rokok!

Barangkali anda juga suka