Kembalilah Pada Buku Harianmu

1

Ide tulisan ini saya dapat Minggu, tepat pukul 23.30 waktu bagian Yogyakarta. Di saat kecepatan internet mulai merambah, saya mulai membuka aplikasi media sosial di ponsel pintar (milik saya). Dimulai dari media sosial biru tua, facebook. Media sosial yang belum lekang oleh waktu menurut saya, meski beberapa teman mengaku sudah lama meninggalkannya karena dianggap tidak hits. Para kaum yang murtad dari facebook  akhirnya melabuhkan keyakinannya pada media sosial merah, path. Saya sendiri tidak menggunakan path dan lebih memilih facebook. Alasannya, Ical (Aburidzal Bakrie) dikabarkan pernah menanam saham di sana. Amit-amitlah saya menambah pundi rupiahnya.

Saya memiliki ratusan teman di facebook yang belum tentu saya kenal semua. Mulai dari teman SMP, teman SMA, teman kuliah, dan temannya teman saya dari ketiga tingkatan sekolah itu saya konfirmasi permintaan pertemanannya. Dulu, mitosnya semakin banyak teman yang kamu miliki di facebook, berarti semakin terkenallah kita. Ini benar-benar mitos, sebab pada akhirnya saya sadar, memiliki banyak teman di facebook belum tentu menyenangkan. Ditambah lagi belum tentu efektif. Diimbuhi belum tentu informatif. Bila ada yang menyebut sekarang adalah banjir informasi, tapi saya anggap itu terlalu cetek. Sekarang eranya tsunami informasi.

Scrolling timeline facebook tidak bisa terhindarkan. Saya membaca status, share artikel, dan foto-foto bertebaran di sana. Status denotasi bernada galau, kritik, marah, putus asa, rindu, jatuh cinta, semua bak es oyen yang dibeli tiga hari yang lalu. Campur aduk tapi tidak menyegarkan mata saya. Lama-lama hati saya. Fokus saya tidak pada status atau informasi yang informatif dan membangun pengetahuan saya, tapi pada pembagian informasi yang tidak informatif. Ya benar. Tidak semua informasi itu informatif. Baiklah, gamblangnya, status yang menyangkut aktivitas personal atau private things.

Saya langsung menembak status atau segala share termasuk foto terkait personal seseorang tidak selalu informatif. Teman saya posting foto selfie bareng pacarnya di dalam mobil. Teman saya posting foto manis bareng suaminya. Teman saya posting foto dengan anaknya. Teman saya posting foto tunangan dengan calonnya. Teman saya menulis status perjalanan menikahi pacarnya. Teman saya menulis status pergi ke luar angkasa negeri bersama teman hidupnya. Semua ada di facebook. Tinggal kepo sebentar, kita tidak perlu penasaran apakah mantan kita sudah punya pacar lagi atau bahkan kita bisa tau dia punya anak berapa.

Lha apa salahnya? Suka-suka mereka.

Tidak ada salahnya, tapi tidak semua orang suka. Kita adalah bagian kecil dari publik facebook. Di luar sana ada ratusan pasang mata dan puluhan hati yang belum tentu senada. Saya pikir, tidak ada mudharatnya bila memberi ruang terhadap orang-orang yang cemburu, iri, syirik, tidak mampu, miskin, dan merana ketika melihat segala posting terkait personal kita di facebook. Bila motivasi utama adalah sharing happiness namun saya masih ragu, sebab membagikan kebahagiaan itu pun belum tentu niatnya lurus.

Suatu hari, saya menemukan jawaban paling logis mengapa teman-teman saya melakukan cara demikian. Andina Dwifatma dalam tulisannya berjudul “Retorika dalam Kemasan Super” menyimpulkan bahwa dewasa ini, ruang interpersonal masyarakat kita semakin sempit. Bertukar sapa sudah semakin jarang apalagi curhat-curhatan. Jakarta menurut Dwifatma, menjadi biang keladi semua bentuk individualistik yang merambah di kota-kota kecil. Meski tidak tinggal di ibukota, rasanya mayoritas dari kita jarang untuk bertukar keluh kesah apalagi rasa bahagia ke teman-teman yang bahkan ditemui setiap hari. Sempitnya ruang komunikasi interpersonal itu yang membuat ruang komunikasi massa (malah) laris manis.

Di tengah kejengahan saya, saya pun terpikir tentang buku harian atau diary bila Anda lebih suka kebarat-baratan. Facebook  telah menjadi tempat sampah urusan personal orang-orang. Lalu, mengapa orang-orang tidak memilih menulis buku harian saja jika ingin berkeluhkesah atau membagikan kebahagiaannya? Saat saya masih SMP, buku harian dijual dengan warna-warna apik dan diimbuhi gembok kecil yang kuncinya bisa kita sembunyikan. Sehingga, buku harian hanya bisa diakses oleh pemiliknya saja. Sembarang orang dilarang membaca, kecuali diperbolehkan empunya. Bahkan saat itu, saya sangat kesal bila Ibu saya kepo buku harian saya.

Buku harian menjadi sasaran perasaan, apapun itu. Persebaran kebahagiaan, kegalauan, dan kesedihan di ranah publik ini kadang semakin tidak logis manakala feedback dari pembaca tidak digubris dengan baik. Contohnya seperti ini:

Status Teman:
“Kamu adalah bintang saat temaramku dan pundak tempatku bersandar”
(lengkap dengan foto bareng pacar yang cuma kelihatan pundaknya)
Komentar : “Cieee pacarnya anak mana nih jeung?”
Teman     : “Ih kepooo yaa…”

Lha. Sebenarnya fungsi mengunggah status bernada bahagia, galau, sedih di ruang publik itu apa, bila tidak ingin ditanya? Tulis saja di buku harian dan pasang gemboknya bila tidak ingin dikomentari. Sempitnya ruang interpersonal yang menjadikan ruang massa sebagai solusi tidak ditempatkan oleh personal secara bijak. Personal belum tentu mau melayani massa dan massa belum tentu mendapat keuntungan dari personal. Yang ada, personal memicu tumbuh suburnya kaum-kaum yang berperasaan cemburu, iri, syirik, tidak mampu, miskin, dan merana.

Menjejali media sosial dengan urusan pribadi kita persis seperti kita menyerahkan kunci gembok buku harian kita kepada orang yang belum tentu amanah. Urusan personal menjadi tercecer dalam tempat sampah kelas internasional seperti facebook. Tidak, saya tidak menyatakan hanya facebook saja sebagai tempat sampah private things. Path, instagram, twitter, BBM, line, dan kawan-kawannya berpotensi menjadi tempat sampah dengan beda warna.

Suatu waktu, teman saya datang mengeluh lelah menghapus foto-foto mesra mereka ketika pacaran yang sudah tersebar secara masif di Instagram, Path, Facebook, belum lagi tweet-tweet manis lengkap dengan tautan akun sang pacar. Bila Felix Siauw yang mendengar curhatannya, mungkin dia sudah disalahkan karena pacaran. Bila saya yang mendengarkan, saya menyalahkan kenapa foto-foto romantisnya dulu tidak ditempel di buku harian. Bila putus, tinggal bakar. Salam.