Nyanyian dari Balik Layar Kaca

0

Hari gini siapa sih yang gak tau rating dan share televisi? Itu loh, yang sering dijadiin patokan laku gaknya acara TV. Udah banyak tulisan tentang rating dan share ditulis oleh para pengkritik media maupun para ahli media massa. So, aku gak perlu lagi deeh jelasin panjang lebar. Tapi aku ingin berbagi mengenai hal yang mungkin gak bakal banyak yang tau mengenai sistem ini.

“Yuuk..Yuuukk pada nonton TV semua,  biar rating-nya bagus.” Biasanya kita pernah mendengar selentingan kata-kata ini buat orang awam. Hmmm.. Emang ada hubungannya ya kalo pada rame-rame liat TV berdampak pada rating yang bagus? Tidak ada hubungannya!!! Karena pihak Nielsen hanya menghitung televisi yang menjadi responden tetap. Gimana caranya bisa jadi responden tetap tersebut?

Caranya, Nielsen akan datangi rumah kamu untuk membuat sebuah perjanjian dengan si pemilik rumah untuk dipasangi sebuah decoder yang akan menyalurkan data ke Nielsen untuk dijadikan pacuan data. Remote yang digunakan pun khusus, jadi untuk mempermudah Nielsen untuk memilah datanya. Jadi hasil rating yang ada berdasarkan data dari responden yang dipasangi, bukan dari orang-orang biasa yang menontonnya.

Rating TV Berdampak pada Penjualan

Data rating dan share dari nielsen tiap hari juga bermanfaat untuk menjual sebuah program kepada para pemilik uang alias pengiklan. Ya, TV itu hidupnya dari iklan. Coba kalo gak ada iklannya, dirimu mau digaji sama siapa? (kata para pekerja televisi). Ada sih TV yang tak mengandalkan pendapatan dari iklan. Yaitu stasiun televisi pemerintah dan stasiun televisi yang pemiliknya adalah pemilik perusahaan kilang minyak yang katanya harta gak akan habis tujuh turunan. Televisi yang seperti ini biasanya akan memiliki idealisme nya sendiri dan tak mau berpatokan pada Tuhannya TV, yaitu Rating.

Balik ke masalah rating yang berpengaruh pada harga suatu program dijual ke pihak luar. TV yang katanya nomor satu di dunia pertelevisian Indonesia ini sekaligus menjadi rajanya iklan. Bagaimana tidak, harga per slot sebuah program sangat mahal. Slot merupakan istilah yang digunakan untuk jatah atau ruang kosong bagi pengiklan. Di salah satu acara di TV ini, yang ratingnya paling kecil deeh.. paling murah tuuh, harganya 40 juta rupiah per 8 detik. Bayangin gimana detik demi detik sangat berharga bagi kehidupan TV. Ya, jualan tayangan TV itu beda sama jualan gorengan.

Bahkan jika kamu melihat TV ini, di sela-sela program yang lagi prime time, pasti akan ada kuis 3 menit untuk promo produk pengiklan. Tau berapa harganya? 3 menit tayang, para pengiklan harus merogoh kocek 300 juta rupiah. Wow bingits kan?

Sesekali kamu coba merasakan bekerja dan hidup di sini. Kamu akan menemukan berharganya sebuah waktu. Waktu yang tak akan kembali, waktu yang berlalu begitu cepat, dan waktu berjalan begitu mahal. Maka dari itu, meminimalisir kesalahan sampai ke titik nol adalah tugas berat sebuah kru produksi agar uang miliaran rupiah per programnya tak hilang begitu saja. (Kata salah seorang akuntan senior di TV ini menyebutkan uang yang berputar di sana mencapai miliaran rupiah).

Pernah suatu kasus kejadian seorang kru salah memasukkan logo sebuah perusahaan yang masuk ke acara TV. Misal pengiklannya itu indomie, tapi kamu masukinnya supermie.. Yaudah ‘Surat Cinta’ berupa Surat Peringatan akan menghampirimu. Dan yang terkena SP tak hanya bawahan, tetapi hingga ke atasan pun menerima resiko ini.

Permainan Rating & Share

Pasti kalian akan kaget jika rating dan share pun bisa dimainkan untuk tujuan tertentu beberapa pihak. Kejadian ini terungkap oleh rekan sejawat yang memiliki kekasih beda televisi. Yaaa ngomong-ngomong soal jodoh, banyak yang menikah dengan rekan sekantor karena hampir 80% waktunya tiap hari berada di kantor trus. Coba bayangin, jam 9 pagi udah di kantor, bahkan baru balik lebih dari jam 9 malam. Demi kepentingan program pun, kru produksi TV harus rela untuk menginap di kantor. Jadi kantor kayaknya udah jadi rumah pertama. Rumah aslinya jadi rumah kedua. Maka dari itu bukan tak mungkin cinlok itu ada di antara kru.

Kawan sejawat yang memiliki kekasih beda TV tadi (kekasihnya ada di TV Kawasan Tendean) mengungkap sebuah rating TV yang berbeda. Si kawanku ini sering mengeluh karena share program acaranya jeleeeeek mulu tiap episodenya. Gak bisa mencapai lebih dari 10 %. Padahal target minimal share nya adalah 15%. Tapi apa daya saat program ditaruh di jam 12 siang, dimana bagi kita merupakan jam tayang keramat, jarang banget dapat share bagus.

Sampai pada akhirnya ia berkeluh kesah kepada kekasihnya. Curhat  tentang rating share programnya yang gak pernah bagus. Tapi kekasihnya justru memberitahu bahwa ia salut dengan program kekasihnya karena selalu bagus dan di atas 10 % terus. Lho.. Lho.. Mana yang benerr?? Ternyata data rating dan share yang dimiliki kedua stasiun televisi berbeda. Padahal data ini dikeluarkan oleh satu perusahaan yg sama Nielsen. Lho kok bisa??

Ada asumsi dan dugaan yang kami lontarkan karena hal ini. Ada yang mengatakan perbedaan ini sengaja dibuat agar memotivasi para pekerja TV yaitu divisi produksi untuk lebih memeras otak dalam memberikan ide-ide lainnya. Jadi dibuat ajang kompetisi dan manas-manasin pembuat acara. “Masak katanya TV nomor satu kalah sama TV sebelah yang cuma kayak gitu acaranya”

Minute by Minute

Kuncinya adalah minute by minute. Ini merupakan sebuah penghitungan secara detail dari rating share program dari awal acara hingga akhir acaranya. Nielsen menghitung ini per 1 menit nya.. Jadi apakah sebuah acara per menit nya ditonton apa malah ditinggalkan oleh penonton akan kelihatan di data ini.

MBM menjadi patokan banyak kru produksi maupun programming untuk dianalisa dan menentukan beberapa langkah untuk merubah konten. Tidak hanya di sajikan grafik program kita, tetapi disajikan pula pesaing-pesaing kita di jam yang sama di stasiun-stasiun televisi kompetitor.

Jadi jangan heran kalau setiap acara sering merubah konsepnya, artis-artisnya, bahkan paling sadis adalah program yang kamu sukai hilang mendadak dari TV karena di drop oleh programming karena data rating share nya tak pernah bagus. Ingat kembali kutipan bahwa “tiap detik di TV itu sangat berharga”.