Di Tubuh Bindari

0

Katup mata Nimbara terjaga di pagi buta. Mulutnya mendesah, menguarkan bau penyesalan yang kian memborok di sela nadinya. Di Desa Panglegur Daja ini, sudah sekian lama ia tak menghirup wangi semerbaknya hidup. Semenjak aku depresi dan menenggak air yang kutampung sendiri, Nimbara hanya mengumpat terus di dalam hati. Lebih baik mati daripada hidup serba menyakiti seperti ini.

Di balik pegunungan, semburat sinar muncul dan memendarkan embun-embun di sekitar lahan pertanian. Aku kembali menampakkan kristal-kristal dalam sengatan fajar yang menyilaukan. Nimbara membungkus bekalnya dengan baju kumal yang tak terpakai. Ia menarik geteknya yang tertambat di tepi, lalu mendayungnya menyusuri permukaanku.

“Aku mencintaimu, Bindari. Kau biarkan aku bermain-main di permukaanmu kapan pun aku mau. Ingin sekali aku menyentuh dan memelukmu di dasar. Tapi sekarang kau berubah. Kau tak lagi seperti dulu. Apa karena hujan enggan luruh, atau terik panjang yang menyembilu, lantas kau biarkan hidupku tak menentu. Tapi, aku akan tetap mencintaimu setulus hatiku.”

Aku dilekap haru, sekaligus sedih. Sebagaimana kutahu dia adalah orang yang paling setia menemaniku dengan geteknya. Di permukaanku, dulu tertambat barang sepuluh sampai lima belas getek yang masing-masing dimiliki para nelayan. Setiap hari mereka membuat ramai permukaan. Tak segan kuberikan mereka setumpuk ikan uceng, belut, bahkan siongan. Tapi kini, hanya tersisa satu getek. Milik Nimbara. Hanya dia satu-satunya yang tulus mencintaiku bukan lantaran kepentingannya sendiri. Kendati demikian, kata-katanya barusan sudah menggurat luka di kedalaman hatiku. Andai saja aku bisa berbisik padanya, mungkin ia akan berhenti mengeluh.

Dulu, Nimbara tak segan meminum airku. Ia tidak takut, bahkan ia pernah mengumumkan pada orang-orang bahwa airku penuh dengan khasiat. Airku dapat menunda ketuaan, memperlancar peredaraan darah, dan menjadikan orang kaya raya. Saat aku mendengar ucapannya, aku hanya terkekeh sendiri. Aku saja tak pernah merasa demikian. Airku hanya air biasa yang bercampur dengan tanah, rumput-rumput hijau, dan keringat ikan yang kerap berenang-renang di dalam tubuhku. Tapi kata-kata Nimbara berhasil menyihir para penduduk. Kalimatnya menjadi buah bibir yang menyebar ke penjuru desa.

Kini, itu semua berubah. Jika seseorang menyelamiku hingga ke dasar, tak akan banyak makhluk bersirip yang ditemuinya. Mungkin hanya suara rintihan kecil di antara keruhan dan bau busuk yang tak akan dijamah oleh orang. Hari ini, permukaanku menyusut lagi. Rintihanku semakin menjadi-jadi.

***

Menjelang siang, Nimbara kembali mendayung geteknya ke tepi. Ia menarik jaringnya dari dalam tubuhku. Aku merasa tidak tega. Dari tadi pagi, hanya ada dia dan bekalnya yang tergeletak di atas getek. Maka dari itu, dengan sangat terpaksa aku berikan dia dua puluh uceng agar dapat makan siang enak di rumahnya.

“Akhirnya…” Wajahnya begitu sumringah saat mendapati dua puluh Uceng terjebak di jaringnya. Aku turut senang melihatnya bahagia. Walau jauh di kedalaman, rintihanku tak dapat terelakkan dan air mataku terus menderai.

“Terima kasih, cinta. Aku akan setia padamu. Biarlah yang lain pergi. Aku justru senang. Kita dapat berduaan di sini. Suatu saat, aku akan menyusurimu hingga ke dasar. Aku akan memelukmu di sana, Bindari.” Ujarnya setelah memasukkan uceng ke dalam ember kecil.

Entah, kata-kata Nimbara hanya sekedar janji manis tapi palsu atau memang serius. Aku senang saja mendengarnya. Semoga dia tidak lupa dengan tekadnya. Setidaknya aku dan Nimbara bisa berpelukan sebelum akhirnya aku benar-benar hilang dan hanya menjadi tak lebih dari sekedar nama yang dikenang dalam sebuah cekungan kosong.

***

Aku sendiri lagi. Getek milik Nimbara sedang tertambat di tepi. Jauh di sana, di luar perkampungan ini, aku kembali menyaksikan kepahitan. Asap-asap itu kembali menguar dari cerobong besar yang tegak menjulang. Suaranya tak kudengar, tapi getaran-getaran di dasar sangat kurasakan. Aku kembali menangis. Seandainya Nimbara di sini sekarang, mungkin aku sedikit terobati. Perutku seketika berdenyut. Perih. Getaran itu semakin kuat. Aku menahan sakit kembali. Isi perutku berkecamuk. Gegap gempita, riuh, dan saling tindih. Ingin aku berteriak dan memanggil Nimbara agar kemari. Tapi aku tak ada daya dan itu mustahil pula.

Menjelang petang, perutku kembali seperti biasa. Getaran telah hilang, tapi perih masih terasa. Aku mendengar langkah kaki yang sedang berjalan kemari. Aku berharap itu Nimbara, tapi ternyata bukan. Seorang lelaki berjalan dan menggamit seorang perempuan. Mereka terlihat senang dengan berbagai canda tawa. Mereka duduk di tepianku dan bertingkah sangat mesra. Aku menyaksikan dengan getir. Mengapa mereka memilih tempat ini untuk berduaan.

Tak lama setelah canda tawa itu hilang, si lelaki mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Aku seperti tidak asing dengan benda itu. Kemudian, oh, tidak. Mereka melakukan dosa besar di tepi tubuhku. Desahan-desahan mereka membuatku jijik menyaksikannya. Lagi-lagi aku tak dapat melakukan apa-apa selain memandang dan membiarkan mereka menyelesaikan ambisi birahinya.

“Hoi! Anjing!”

Seketika suara lantang itu menghentikan tingkah binatang mereka. Nimbara. Ia datang dan memergoki dua orang itu. Mereka lantas cepat-cepat memasang celana dan pergi dari tepianku. Nimbara memandangi mereka dengan tajam. Otot-otot lengannya yang sangar membuat mereka takut dan berlari menjauhiku. Syukurlah. Aku semakin cinta dengan Nimbara.

Ia duduk di atas geteknya yang tertambat. Aku memandangi wajahnya yang sumringah dalam kesenduan. Ada aroma-aroma yang menguar dari tangannya. Ia memegang semacam makanan, entah apa. Aku tidak tahu. Nimbara membuka bungkus plastiknya perlahan. Aroma itu semakin menguar. Aku semakin curiga.

“Nimbara, jangan!” Teriakanku tak didengarnya. Nimbara asyik melahap makanan itu hingga habis. Jantungku berdebam-debam. Ia tak tahu, bahwa makanan itu adalah hasil dari kepulan asap dari cerobong-cerobong besar yang selalu membuatku merintih kesakitan. Cerobong-cerobong yang berdiri menjulang di pabrik itulah yang setiap hari mencampuri perutku dengan limbah beracun sisa aktivitas industrinya. Mereka rusak populasi ikan yang bermukim di dalam perutku. Oknum-oknum pabrik itulah yang merampas kehidupan di dasar dan permukaanku demi memproduksi sosis ikan yang akan dipasarkan ke berbagai kota.

“Bindari, tadi sepupuku yang dari kota mampir ke rumah. Ia memberiku makanan ini. Sosis ikan. Enak sekali. Tapi kau tenang saja. Uceng, siongan, belut, dan mujair yang bermuara di perutmu ini jauh lebih enak daripada sosis ikan yang diberikan sepupuku ini. Dia bekerja di Pabrik Ambang Segara. Ya, pabrik yang membuat sosis ini. Mungkin dia akan sering ke rumah dan memberiku ini. Hahaha.”

Setiap pagi, semenjak celotehan Nimbara malam itu, aku tak pernah lagi memberinya sesuatu apapun. Kecembuaruanku semakin bergejolak, lantaran setiap malam ia menemuiku sambil membawa sosis ikan hasil dari Pabrik Ambang Segara. Semakin hari aku semakin cemburu, dan lambat laun membencinya. Dia tak lagi mengeluh saat menyusuri permukaanku dengan geteknya dan pulang dengan tangan kosong. Mungkin dia sudah nyaman dengan sosis yang selalu datang tiap hari kepadanya. Jika begini, lebih baik aku menyaksikan orang bersenggama di tepianku daripada harus menyaksikan Nimbara melahap hasil rintihanku di hadapanku setiap hari.

***

Satu hal yang Nimbara sadari, bahwa sejauh ini perutku sangat kotor, bau, dan sudah menyusut setengah. Muncul kecurigaan dalam benaknya. Ada yang tidak beres denganku. Tiba-tiba saja ia ingat pada sosis ikan yang sering dimakannya. Spontan ia melirik ke arah cerobong pabrik yang berdiri menjulang. Matanya membelalak. Pagi itu ia nekat menyelam ke dasarku. Tak begitu sulit baginya karena perutku sudah tinggal setengah. Tapi Nimbara sedikit terganggu karena perutku semakin bau dan tercemar. Ia menciumiku di dasar, cukup lama.

“Seharusnya aku tahu akan hal ini. Seharusnya ini tidak terjadi padamu, Bindari. Aku bodoh. Maafkan aku. Maafkan aku.” Batinnya muram durja. Air matanya luruh, bercampur dengan perutku yang tercemar. “Tak akan kubiarkan semua ini!” Timpalnya saat naik ke tepian.

Dengan tubuh yang basah kuyup, ia pergi ke sebuah lahan tambak ikan milik Pabrik Ambang Segara. Ia menghampiri seorang karyawan di sana. Sebuah golok digenggam erat-erat di tangan kanannya. Ia menanyakan keberadaan pimpinan mereka.

“Ma… Maaf. Bos kami tidak di sini. Di sini hanya kami, karyawan kecilnya. Beliau di kantornya. Di Pabrik.”

Segera setelah itu, Pabrik Ambang Segara didatanginya. Ia berteriak layaknya orang sakit jiwa yang sedang mengamuk.

“Mana Bos kalian, dia harus diberi perhitungan!”

Semua karyawan riuh dan memanggil security. Tiga orang security datang dan menghadang Nimbara yang sedang terbakar emosi.

“Suruh Bos kalian keluar. Dia harus bertanggung jawab atas Waduk Bindari yang tercemar dan hampir kering.”

“Anda siapa?” Tanya seorang security dengan lantang.

“Aku kekasih Waduk Bindari.”

Semua karyawan di pabrik itu terbahak-bahak mendengar perkataan Nimbara. Tak ada satupun yang membenarkannya kecuali aku, Waduk Bindari itu sendiri. Orang-orang semakin yakin akan ketidakwarasan Nimbara.

“Ada apa ini?” Seseorang mengenakan jas setelan dengan rambut klimis yang tertata rapi datang kemuadian.

“Oh, jadi ini Bos yang tidak tahu diri itu. Kau harus bertanggung jawab atas kerusakan di Waduk Bindari. Waduk Bindari tercemar dan susut gara-gara pabrik sialan ini. Kau harus bertanggung jawab!” Nimbara sampai di ujung pitamnya.

“Memangnya anda ini siapa?”

“Tak usah banyak tanya. Pokoknya kau harus bertanggung jawab, titik. Atau golok ini tak segan menebas kepalamu.”

Lelaki berjas itu berbisik pada security-nya. “Kita bisa bicarakan ini baik-baik. Mari ikut saya ke kantor. Semua, kembali bekerja!”

***

Di ruangan yang nyaman dan berfasilitas itu, Nimbara terlibat diskusi dengan pemilik Pabrik. “Bagaimana kalau saya mempekerjakan anda di pabrik ini. Saya bisa memberi anda posisi yang nyaman dengan gaji yang pantas. Dengan ini anda tidak perlu mempermasalahkan Waduk Bindari lagi. Bagaimana?”

Brak! “Tidak sudi saya! Lebih baik saya mati daripada harus bekerja di pabrik biadab ini.” Nimbara mengamuk dan menggebrak meja.

Lelaki berjas itu menghelas nafas dan mengangguk-angguk pelan, “Hmm. Baiklah.”

Dhuar! Sebuah letupan keras menggelegar. Nimbara terjerembab di atas lantai. Sebuah peluru menancap di pelipisnya. Security itu menembaknya. Nimbara tak lagi berkutik. Nafasnya selesai sampai di situ. Tiga orang security membawanya ke tempat hening, lalu mendirusnya dengan minyak tanah. Salah seorang dari mereka menyulut batang korek dan melemparnya dengan sepenuh tega ke tubuh Nimbara yang basah dengan minyak tanah. Usai sudah. Legiun camar dan pepohonan menyaksikan jeritanku yang keras.

***

Rintihanku tak ada hentinya. Ditambah kekasihku yang dibinasakan jiwa raganya oleh orang-orang tak berhati itu. Kobaran api yang menjilati tubuhnya hingga menjadi abu membuatku depresi berat dan kehilangan pandangan. Aku tak ingin hidup lebih lama lagi. Lebih baik aku kering dan mati sehingga bisa menyusul Nimbara di alam nirwana. Dalam rintihan, aku menengadah pada Tuhan.

“Gusti, tak ada lagi yang membuatku tersenyum di bumi ini. Sudikah Engkau membiarkanku hidup dalam rintihan yang abadi. Lebih baik Kau keringkan dan matikan aku, Gusti. Izinkan aku menyusul kekasih yang sudah terbang mendahului. Izinkan aku bersanding dengan Nimbara. Biarkan aku menjadi Waduk di syurga-Mu dan menjadi tempat berenang bagi Nimbara. Izinkan kami tersenyum bersama di syurga, Ya Gusti.”

Setelah aku berhenti berucap, awan pekat datang berlegiun meringkus matahari, menggelapkan Desa Panglegur Daja. Tak ada rembesan hujan. Hanya petir yang menggelegar di sana sini. Mereka menyambar cerobong-cerobong besar yang mengepulkan asap polusi. Sekali lagi kilatan petir menyambar atap Pabrik Ambang Segara dan menyebabkan korsleting listrik. Sebuah percikan api menjelma kobaran dahsyat yang melahap pabrik beserta isinya dalam sekejap pandang. Sementara itu, airku terus menyusut dengan cepat, hingga kering dan tak bersisa. Angin ribut tak henti mendera. Perutku retak porak poranda. Aku menghembuskan nafas terakhir dengan sumringah. Setelah ini, aku akan menjadi waduk di syurga. Untuk Nimbara.

Barangkali anda juga suka