Der Wille Zur Macht

0

“Hal itu bermula dari kehendaknya untuk berkuasa.”

Mendengar perkataan narasumber ini langsung mengingatkan saya pada Nietzsche. Pada sebuah karya tulisan besar dia yang bersari gagasan kehendak untuk berkuasa(der wille zur macht). Setelah itu pikiran saya sedikit terganggu dan berefek pada kefokusan saya dalam menyimak apa yang dikatakan narasumber ini menjadi goyah.

Di tengah obrolan kami selanjutnya, justru saya seperti sedang asyik sendiri. Saya membalik lembar-lembar catatan hasil wawancara saya dengan narasumber-narasumber sebelumnya. Membaca dan mengamati secara acak dan serampangan atas catatan-catatan itu, tiba-tiba saya menarik sebuah kesimpulan bahwa saya menjadi merasa yakin dengan bahan apa saya akan menulis tentang tokoh ini. Ya, saya memang akan mengulas tentang kisah perjalanan hidup dari seorang tokoh.

Perlu Anda ketahui bahwa sebenarnya sudah banyak data yang saya peroleh dari berbagai sumber untuk bahan menulis tentang profil tokoh itu, tapi entah mengapa selama ini saya belum merasa cukup. Dan baru setelah saya mendengar  penyataan mengenai kehendak untuk berkuasa dari narasumber kali ini, kontan saya merasa tidak perlu lagi mencari data tambahan. Saking begitu yakinnya saya, sampai akhirnya dengan cara sehalus mungkin saya memaksakan diri untuk menyudahi wawancara dengannya.

Sebelum kembali ke tempat tinggal, terlebih dahulu saya menyempatkan diri singgah di warung angkringan yang biasa saya kunjungi. Di tempat angkringan itu saya melepas penat  sembari menikmati jajanannya dengan ditemani secangkir kopi hitam. Dan seakan saya tak ingin kehilangan momen penenuan tentang apa yang ingin saya tulis itu, pikiran saya tidak mau melepaskannya.

Setelah sampai di tempat tinggal dan selesai ritual bersih diri,  saya langsung  masuk ke dunia saya. Menulis. Tapi sebelum tiba waktunya eksekusi ke dalam tulisan, saya merasa perlu untuk melakukan sesuatu. Ya, saya merasa perlu untuk membuka kenangan saat saya mengakrabi bacaan tentang apa dan siapa Nietzsche itu. Tak menunggu lama, cepat saya melakukannya. Bukankah pikiran senjata paling ampuh?

Karya Nietzsche seringkali dipandang sebagai perjalanan hidup Nietzsche itu sendiri. Jarang ada filsuf lain yang diberlakukan begitu. Dalam menelaah karya-karyanya dianggap tidak akan pernah bisa tuntas tanpa terlebih dulu mengenali siapa dirinya. Dan saya rasa tokoh yang akan saya tulis ini hampir sama keadaannya dengan dirinya. Maksud saya pemikiran-pemikiran tokoh ini sedikit banyak dipengaruhi oleh bagaimana rupa perjalanan hidup mereka sendiri. Hanya bedanya jika kondisi masa lalu keduanya sangat bertolak belakang. Bisa dibilang masa lalu  tokoh yang akan saya tulis adalah versus dari masa lalu dari  Nietzsche.

Pertama,  Nietzsche lahir dari keluarga yang taat agama, sedangkan kondisi keluarga tokoh saya ini jauh dari sentuhan rohani. Bahkan dapat dibilang tokoh ini lahir tanpa keluarga. Ibunya seorang pelacur konsumsinya para gali yang berasal dari berbagai kota. Sedangkan identitas siapa ayah kandungnya tidak pernah jelas, tapi menurut kabar yang pernah saya dapat, pelacur itu hamil dari sperma seorang pimpinan bajingan di kota ini.

Selanjutnya, jika masa remaja dan masa sekolah Nietzsche dipenuhi dengan kecemerlangan, dan jalinan persahabatannya sangat banyak dengan berbagai tokoh masyhur. Sedangkan tokoh saya ini hanya sempat mengenal bangku sekolah dasar, itupun tak sampai tamat. Jalinan persahabatannya pun hanya di sekitar para perempuan lacur dan para gali. Saya jadi ingat tentang tokoh Gali Gongli yang pernah dikisahkan oleh Bang Iwan Fals itu, masa lalu Gali Gongli itu mirip dengan kisah dari tokoh yang akan saya tulis ini.

Selanjutnya karir dari kedua tokoh ini tentu juga kontradiktif. Sosok Nietzsche menjelma seorang profesor handal di Basel. Peneluran karya-karya besarnya terus muncul seiring dengan seringnya dia bepergian ke berbagai kota dan negara. Sedangkan tokoh yang akan saya tulis ini akhirnya menjadi pimpinan gali terbesar dengan segudang prestasi kejahatan yang mencengangkan.

Tapi meski keadaannya bertolak belakang begitu, saya beranggapan bahwa keduanya memiliki korelasi, karena di sebagian hidupnya mereka mengalami hal yang sama dan sempat berhenti lama pada titik itu. Mereka sama-sama melakukan pengembaraan dan kesepian. Jika  hidup Nietzsche akan selalu berkubah di lembah kesunyian setelah meninggalkan Basel pada tahun 1879. Tokoh yang akan saya tulis ini juga menemui hal yang sama, yaitu berada dalam lembah sepi, terkhusus setelah dia sering melakukan pelancongan ke berbagai kota.

Tetapi, terlepas hal itu, sesungguhnya yang menjadi pokok dari kuatnya korelasi keduanya adalah gagasan yang dihasilkan dari kisah perjalanan kedua tokoh ini berlabuh pada dermaga yang sama. Mereka sama-sama berpendapat bahwa tuhan telah mati dan yang membunuh adalah kita. Hanya saja perilaku yang ditampakkan keduanya sangat jelas perbedaaannya.  Meski Nietzsche punya gagasan seperti itu tapi dia tidak pernah melakukan pembunuhan kepada yang lain. Sedangkan tokoh yang akan saya tulis ini banyak melakukan pembunuhan terhadap manusia yang lain dan jumlahnya bisa dibilang tak terhitung lagi. Bahkan dia juga melakukan pembunuhan terhadap ibu kandungnya sendiri dan lelaki bajingan yang dikabarkan sebagai ayahnya itu pun juga mampus di tangannya.

Tokoh ini beranggapan bahwa peran tuhan hanya sekali selama rentang hidup manusia, yaitu ketika tuhan memberi hidup dan menyerahkan kehidupan itu sendiri kepada manusia. Setelah itu tuhan mati. Dunia ini benar-benar telah menjadi milik manusia sepenuhnya. Dan pembuat segala aturan yang ada di dunia adalah manusia itu sendiri yang masing-masing mempunyai kewenangan yang sama. Ritme kekuasaan itu lahir dengan sendirinya menurut hukum alam sehingga hal itulah yang mendorong tokoh ini mempunyai konsep hidup dengan dasar kehendak untuk berkuasa itu tadi. Tapi jika menurut Nietzsche, gagasan kehendak untuk berkuasa itu lahir sebagai pengantar pada konsep nihilismenya, yaitu sebuah konsep yang membela pada pendapat untuk tidak menerima segala bentuk tuhan. Nietzsche lebih menitikberatkan pada segi psikologis.

Tentu saja tingkat kerumitan rasio itu lebih rumit milik  Nietzsche, dan saya memakluminya, terlebih setelah tahu bahwa pendidikan tokoh yang akan saya tulis ini hanya sebatas sampai bisa baca tulis saja. Saya punya keyakinan jika tokoh saya ini sampai mengenal dunia filsafat, tak mustahil muara penemuan mereka tidak akan jauh berbeda. Hanya saja karena Nietzsche yang lahir terlebih dulu, paling tidak tokoh saya ini akan menjadi pengikut setianya.

Satu lagi hal kontra yang ada di kedua tokoh ini. Jika  Nietzsche, yang kehidupan remajanya adalah orang saleh yang khidmat, pada akhirnya dia menjadi si pembunuh tuhan dan tak berubah hingga menemui ajalnya dan pada akhirnya dia mati dalam keadaan gila. Sedangkan tokoh saya ini sejak lahir tak pernah menjadi orang saleh hingga masih pada usia muda sudah menjadi pembunuh tuhan, hanya bedanya pada akhirnya dia menjadi orang yang membangkitkan kembali tuhan yang dibunuhnya.

Rasanya lengkap sudah kerangka tulisan saya ini. Sekarang tinggal saya menuangkannya ke dalam sebuah tulisan. Selama proses penemuan kerangka tulisan itu adalah masa-masa indah dalam hidup saya. Saya seperti ikut merasakan bahwa kehidupan saya telah melewati fase-fase itu. Saya menganggap hal ini adalah pengalaman yang mustahil akan terulang lagi. Hanya satu yang membuat saya merasa jengkel. Dari semua orang yang pernah berbincang dengan saya, ada satu orang yang selalu bersikap tidak sopan. Bicaranya kasar. Kasar dalam arti tidak pernah menghargai saya sebagai manusia yang punya pribadi yang merdeka.

Orang itu sering mencibir ulasan saya yang menyandingkan tokoh Nietzsche dangan tokoh yang akan saya tulis. Dia mengatakan saya belum memahami seluruh karya Nietzsche. Menurutnya pemaparan tokoh Nietzsche tak sesederhana yang kusampaikan. Tokoh saya ini dianggapnya tak layak bila disandingkan dengan  kebesaran Nietzsche. Saya tidak menyukai orang itu. Ekspresi wajahnya monoton, bahkan baju dan celananya seperti tidak pernah ganti. Setiap saya bertemu dengannya, dia selalu memakai pakaian berwarna putih. Ah, mungkin warna putih memang kesukaannya.

Dan ada satu orang yang saya suka, dia selalu pengertian kepada saya. Dia selalu menghargai saya. Dia juga mendukung segala yang ingin saya lakukan, termasuk rencana tentang tulisan saya. Dia selalu berusaha untuk menampakkan kepeduliannya dengan memberi perhatian melalui kata-kata yang manis. Dan bila dia sedang melakukan begitu, saya menjadi lebih nyaman dan semangat, seperti yang baru saja dia katakan saat saya bertemu dia tadi. “Itu sebuah autobiografi yang hebat, Sayang,” begitu katanya.***

Note : Der Wille zur Macht (Kehendak Untuk Berkuasa) : Gagasan dari Nietzsche

 

Barangkali anda juga suka