Episode Skripsi Abadi

0

Kecerdasan, kekayaan, dan jabatan. Bagiku ketiga hal itu wajib dimiliki oleh orang-orang terpilih. Ya, hanya orang-orang terpilih saja yang sanggup memilikinya. Aku termasuk orang yang terpilih itu. Aku memiliki segalanya. Otak cerdas, uang, dan kekuasaan adalah makanan utama sampai kudapan yang wajib disikat setiap hari. Jangan mau hidup jika tidak punya kekuasaan, apalagi kalau sampai tidak punya uang. Amit-amit.

Namaku Malik Al Kindi. Salah, seharusnya seperti ini Prof. Dr. Malik Al Kindi, M.Pd. Nama dan gelarku mentereng bukan? Aku membawa nama seorang ilmuwan besar di masanya. Itu yang membuatku semakin percaya diri. Sebagai dosen senior, wajar saja jika semua dosen di fakultas ini menghormatiku. Aku juga berperan menyumbangkan ilmu pada mereka, pun menjadikan mereka seperti saat ini. Mereka pasti tidak ingin dicap kacang lupa kulitnya.

Pengukuhanku sebagai seorang guru besar beberapa tahun lalu menggeser roda kehidupanku ke arah yang jauh lebih baik. Kondisi ekonomi yang amburadul bisa teratasi. Seiring dengan perkembangan karirku sebagai dosen yang semakin menanjak, aku mulai mencoba membuka usaha. Tak kusangka usaha yang kurintis berkembang pesat. Dua tahun terakhir aku berhasil membuka cabang di sejumlah kota besar kosmopolitan.

Rumah mewah di perumahan elite, persis di jantung kota dengan keamanan canggih dan super ketat. Tiga buah mobil mewah siap mengantarku ke seluruh penjuru kota. Beberapa koleksi motor gedhe Harley Davidson yang terpajang indah pun kumiliki. Tidak main-main, untuk mendapatkannya harus kukuras uang yang tengah asyik mengeram di sejumlah bank. Aku tidak ingin melakukan sesuatu yang setengah-setengah. Harus total.

Beberapa kali kuajak motor gedhe Harley Davidson berkeliling membelah jalanan kota. Pernah kuajak masuk kampus tempatku mengajar. Dengan gaya kunaiki motor itu mengelilingi area kampus. Orang-orang yang berpapasan denganku memandang kagum.

“Jangan pegang-pegang. Nanti lecet lagi,” seruku sewaktu aku memergoki beberapa orang yang hendak mendaratkan telapaknya pada body motorku. Dasar norak! Pasti seumur-umur mereka belum pernah melihat motor antik sekaligus mahal. Guna menjaga keamanan motorku, aku harus membayar petugas khusus yang bersedia mengawasi motor itu saat aku tengah sibuk mengajar.

Urusan luaran pun aku tidak ingin sembarangan. Apapun yang sedang trending topic kuikuti. Agar tidak dibilang out the date, ketinggalan jaman, jadul, atau apalah itu. Informasi terbaru, terhangat, dan up to date bisa dengan mudah kuakses dari smartphone bertahtakan batu berlian ini. Berbagai setelan kemeja, celana, hingga sepatu merk ternama kujadikan koleksi di lemari pribadi. Bahkan jam tangan made in Itali senantiasa melingkar indah di tangan kiriku. Pokoknya aku sangat bahagia dengan apa yang kumiliki saat ini.

Bukan hanya itu, berkali-kali aku keluar masuk wisata luar negeri. Setiap awal semester, saat acara perkenalan dengan mahasiswa baru, aku selalu menceritakan pengalaman melancong ke luar negeri. Dengan bangga kuceritakan bahwa aku pernah menjejakkan kaki ini di tanah Singapura, Belanda, Italia, Inggris, Prancis, dan seabreg negeri-negeri indah di benua Eropa yang belum pernah didengar telinga para mahasiswa baruku itu. Tidak lupa pula kutunjukkan foto-foto bahwa aku memang pernah menjejakkan kaki di sana, sebagai bukti agar apa yang kuceritakan bukan sekadar omong kosong belaka. Fotoku seorang diri dengan latar belakang patung Merlion yang berdiri kokoh. Foto kedua, aku dan istriku yang berdiri di tengah-tengah hamparan padang tulip beraneka warna. Foto ketiga, aku dan seorang bule dengan latar belakang bangunan-bangunan bergaya Romawi klasik. Sedang foto terakhir, aku duduk di balkon gedung pencakar langit, di belakangku menara Eifell dengan gerlip lampu berjumlah ratusan watt. Begitulah saat perkenalan selalu kuawali dengan cerita itu. Kulakukan terus-menerus setiap awal semester sampai aku pun hafal di luar kepala.

***

Seorang mahasiswa dengan penampilan agak kumal menghampiriku di ruang dosen. Ia datang tanpa membuat perjanjian terlebih dahulu denganku. Dia mahasiswa bimbinganku. Kalau tidak salah saat ini dia menginjak semester sepuluh sekaligus semester terakhirnya di kampus ini. Pasti dia ke sini untuk membicarakan mengenai skripsinya yang tidak selesai-selesai.

“Apa kita sudah membuat janji sebelumnya?” tanyaku sembari melipat dahi.

“Saya tadi sudah mengirimkan pesan singkat ke nomor Bapak. Tapi Bapak tidak merespon. Jadi saya putuskan untuk langsung menemui Bapak di ruang dosen,” jawabnya. Aku memang tidak membalas pesan yang tadi dikirimkannya padaku. Malas meladeni mahasiswa abadi sepertinya.

“Maaf, saya harus mengisi kuliah.” Aku memberikan alasan agar tidak meladeni mahasiswa abadi yang satu ini. Sebelum aku sempat berdiri, dia segera menyela,” Saya sudah melihat jadwal Bapak hari ini. Saat ini Bapak tidak sedang mengisi kuliah, nanti jam ke empat Bapak mengisi kuliah bagi mahasiswa baru.”

Aku menghela napas panjang. Sepertinya alasanku kali ini berhasil ditandasnya. Tanpa basa basi lagi ia segera menyodorkan sejilid skripsi tebal di hadapanku.

“Saya sudah merevisinya. Kekurangan-kekurangan yang Bapak berikan sudah saya tambahkan,” jelasnya. Dengan malas kubolak-balik halaman demi halaman skripsi itu.

“Apa ini? Kamu ini sudah semester sepuluh, ngetik saja masih belum benar. Ini lagi, tidak ada konjungsinya. Ini mana komanya? Ini juga tidak ada titiknya. Setiap kalimat harus diawali huruf kapital, ini mana? Apa pantas ini dibaca orang? Mikir! Sudah, kamu revisi lagi skripsi itu. Saya tidak mau jadi editormu terus.”

Kulemparkan sejilid skripsi itu di atas meja setelah kucoret beberapa kata yang salah ketik, salah redaksi, atau apalah itu. Masa mahasiswa bahasa Indonesia tulisannya seperti itu. Paragrafnya tidak jelas. Di mana-mana salah ejaan. Memalukan!

“Seminggu lagi saya ujian dan akhir-akhir ini saya disibukkan dengan acara organisasi. Apakah Bapak berkenan membantu mengedit skripsi saya ini?”

“Saya ini dosenmu, bukan pembantumu yang bisa kamu suruh-suruh seenak jidatmu!” tandasku.

“Kalau tahun ini saya gagal menyelesaikan skripsi, maka saya terancam drop out. Saya sudah berjanji untuk membantu acara itu.”

“Jadi kamu lebih memilih mengurus organisasimu itu ketimbang skripsi ini? Kamu mau lulus tidak? Sekarang juga kamu perbaiki skripsi itu. Tambahkan juga daftar pustaka yang sudah saya berikan kemarin. Besok harus sudah selesai dan temui saya lagi di sini.” Aku beringsut meninggalkannya yang tergugu di ruang dosen. Aku tidak mau tahu dengan cara apa dia memperbaiki skripsinya itu, yang penting skripsi itu harus sudah selesai besok dan segera ku-acc. Pusing kepalaku menghadapi mahasiswa seperti itu. Beruntung dia memintaku yang berotak encer ini untuk membimbingnya. Ya, seperti yang sudah pernah terjadi sebelumnya setiap mahasiswa bimbinganku pasti langsung mendapat nilai sempurna. Coba kalau ia dibimbing dosen lain, aku sangsi ia akan lulus dengan nilai sempurna.

Dasarnya mahasiswa berotak bebal, apa yang kusuruh kemarin tidak juga dilakukan. Dia sibuk memberikan alasan bertele-tele. Setelah itu dia memohon agar aku segera meng-acc skripsi itu tanpa direvisi terlebih dahulu.

“Saya tidak sudi meng-acc skripsimu itu! Sudah berkali-kali saya memberikan kesempatan itu. Selama ini saya sudah cukup sabar. Terlalu banyak alasan yang kamu karang. Kamu sengaja menunda merampungkan skripsimu itu.” Kulemparkan sejilid skripsi itu di lantai, tanpa sedikit pun berminat memandang wajah mahasiswa abadi di hadapanku ini.

“Saya minta tolong, Pak. Ada urusan organisasi yang benar-benar tidak bisa saya tinggalkan.” Ia masih memohon di hadapanku.

“Halah! Saya tidak mau dengar alasan apa pun dari mulutmu. Terserah mau kamu apakan skripsi itu.”

“Tapi saya bisa terancam drop out.”

“Itu urusanmu.” Aku berkata acuh tak acuh. Aku sudah muak melihat ulah mahasiswa abadi ini. Sudah belasan kali kesempatan kuberikan, belasan kali itu pula ia mangkir. Mengarang seribu satu alasan dari mulutnya yang pandai bicara. Terakhir kali dia beralasan ditunjuk menjabat ketua pelaksana sebuah acara keorganisasian di luar kota. Alasan sibuk menyiapkan ini itu membuatnya mengabaikan salah satu syarat terpenting jika ingin lulus dari perguruan tinggi ini. Akulah dosen pembimbingnya yang akan membuang gelar ‘mahasiswa abadi’ selama ia masih di sini. Tapi kalau tingkah lakunya seperti ini, siapa dosen yang tidak muak?

Ada belasan mahasiswa di luar sana dengan belasan judul skripsi yang berbeda. Haruskah aku mengurusi mahasiswa tidak tahu diri itu sementara belasan mahasiswa lainnya mengantre di belakangku? Aku beringsut meninggalkannya yang masih mengakar di lantai keramik ruangan dosen. Masih banyak urusan yang mesti segera kuselesaikan ketimbang mengurusi mahasiswa senewen itu.

***

Kupikir urusan skripsi mahasiswa abadi yang kemarin sudah selesai. Perkiraanku salah. Saat aku hendak mengisi perkuliahan di pascasarjana, seorang rekan dosen menghampiriku dengan wajah panik.

“Ada apa?” tanyaku bingung.

“Ada mahasiswa Bapak yang mencoba bunuh diri. Dia mau melompat dari gedung lantai lima!”

“Mahasiswaku? Siapa?” Aku melipat dahi.

“Mahasiswa abadi yang sedang Bapak bimbing menyusun skripsi.” Aku jadi teringat mahasiswa abadi berpenampilan kumal dengan celana jeans usang dan kemeja rada kebesaran.

“Bapak harus lihat sekarang.” Mengapa aku harus melihatnya? Kalau dia bunuh diri, salah dia sendiri menunda-nunda skripsinya. Bukankah aku sudah membantunya? Sekarang dia mencoba bunuh diri, lalu mengapa aku harus dibawa-bawa?

Rekan dosen itu mendahuluiku yang masih mematung. Entah mengapa kakiku mengajak beringsut dari tempat itu membuntuti rekan dosen yang telah jauh. Sebutir kerikil was-was muncul di benakku.

Di bawah gedung itu telah dipenuhi manusia. Mulai dari mahasiswa, dosen, sampai ibu-ibu dan bapak-bapak penjual makanan di kantin. Gedung lima lantai kokoh menjulang, di balkon lantai limanya berdiri seorang mahasiswa dengan tatapan kosong. Beberapa orang meneriakinya turun.

“Yan! Turun Yan! Ngapain kamu di situ!”

“Turun Yan! Bahaya!”

“Jangan nekat Yan! Kamu bisa celaka!”

“Kalau ada masalah selesaikan baik-baik Yan! Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya!” Pemuda itu membisu. Kakinya menjejak pinggiran balkon. Tidak goyah apalagi beringsut dari sana. Pandangan matanya menghujam ke bawah. Kosong. Tidak tahu apa yang harus kukatakan. Perlahan-lahan rasa takut mulai membayangi pikiranku. Bagaimana kalau dia nekat, langsung meluncur dari atas sana?

Beberapa orang melintas di hadapanku dengan menggotong beberapa matras yang diambil dari gudang. Segera matras-matras itu ditata sedemikian rupa di teras gedung lantai lima. Gerombolan manusia itu berteriak-teriak heboh manakala sepasang kaki mahasiswa abadi hendak melangkah lebih jauh menuju ruang kosong di hadapannya. Teriakan itu semakin heboh, saat sebuah tubuh terjun bebas, melayang ke bawah.

Tidak! Teriakku dalam hati. Aku terkesiap saat tubuh itu melayang di udara.

***

“Tidak jangan mati!” teriakku saat layar laptopku berkedap-kedip. Beberapa saat menyala kemudian mati lagi. Menyala lagi, mati lagi. Garis-garis hitam horizontal naik turun di layar laptopku, lalu seketika layar berubah hitam. Tak ada cahaya sama sekali. Aku menarik nafas panjang. Padahal cerita yang kutulis hampir saja selesai.

Beberapa minggu terakhir laptopku memang sedikit rewel. Aku tidak tahu apa yang bermasalah, mungkin hardware-nya. Ini saatnya aku harus menyerviskan laptop. Seharusnya dari dulu-dulu saja kuserviskan, agar aku tidak kebingungan nantinya. Semoga saja setelah diservis file ceritaku ini masih ada. Ya, semoga saja.

Barangkali anda juga suka