Sambal Bawang

0

Malam itu Maya pergi ke dapur sendirian dan mendapati tidak ada bahan makanan apa pun untuk dimasak. Padahal ia sedang merasa sangat lapar. Sekonyong-konyong perutnya terasa begitu perih, tanda lapar.

“Ada alarm berbunyi di perutku,” ujar Maya.

“Kau merasa lapar?” tanya seorang lelaki bertubuh kekar.

“Iya, ternyata cacing-cacing di perutku sedang minta jatah.” Maya mendengar nyanyian di perutnya. “Setelah kamu, kini giliran mereka. Tentu saja aku harus meladeninya.”

“Kalau begitu, pergilah ke dapur sana!” ujar lelaki itu. “Cari sesuatu di kulkas buat cacing-cacingmu.”

Maya tersenyum. Dipersilakan begitu di rumah orang, dengan ramah pula, ia pun merasa senang. Di desa tentu saja rumahnya tidak sebesar dan semegah rumah itu. Milik si lelaki bertubuh kekar, teman tidurnya malam itu. Ia merasa beruntung bisa tinggal di rumah mewah, meskipun hanya sehari dalam seminggu. Enam hari sisanya ia tinggal di kamar sempit dan kotor di tepian kota Jakarta. Jauh lebih parah lagi, malah ia pernah tinggal di kolong jembatan, bersama para gelandangan, saat itu ia baru saja menginjakkan kakinya di kota tersebut. Untung saja ia tidak diciduk petugas, tidak diganggu preman dan gelandangan lainnya, meskipun di sana hanya ia seorang yang perempuan.

Mungkin karena ia meminta izin terlebih dahulu kepada seorang gelandangan tua yang tampaknya sangat disegani di kolong jembatan itu. Ia membawa sebungkus makanan yang ia beli dari sebuah warung kecil di pinggir jalan dengan lauk tempe dan sambal bawang.

“Bolehkah saya menginap semalam di sini?” tanya Maya kepada gelandangan tua.

Meskipun tampangnya tampak menyedihkan, tetapi wajah Maya masih juga kelihatan cantik. Si gelandangan tua tidak tega melihat keadaan Maya. Ia pun ingin sekali menolongnya.

“Tentu saja boleh,” jawabnya ramah. “Hanya semalam, kan?”

“Terima kasih,” balas Maya buru-buru dengan perasaan senang karena diterima di tempat itu. “Ya, saya hanya akan menginap malam ini saja.” Maya tersenyum. Buru-buru juga ia keluarkan nasi bungkus di plastik dan dengan segera menawarkannya. “Saya bawa nasi bungkus, Pak.”

“Kamu saja yang makan,” ujar gelandangan tua. “Aku sedang tidak lapar.”

Diam-diam matanya melirik pada nasi bungkus yang sudah dibuka di depannya. Lauknya hanya seiris tempe goreng dan sambal bawang.

Si gelandangan tua pun membatin, “Kasihan sekali.”

Maya makan dengan sangat lahap. Cepat sekali ia makan, seperti macan kelaparan. Sebab memang seharian itu ia tidak makan apa-apa. Di bus, dalam perjalanannya ke kota Jakarta, uangnya tinggal sisa sedikit, hanya cukup untuk membeli nasi bungkus itu. Jadi terpaksa ia harus berpuasa begitu.

***

“Khusus untuk Sabtu malam, datanglah ke rumahku, Maya!” ujar seorang lelaki bertubuh kekar saat ditemuinya di trotoar jalan pada sore hari itu.

Pada pagi harinya Maya baru saja pamit dari menginap di kolong jembatan. Setelah mandi di kali dan berdandan secukupnya, ia berjalan pelan sepanjang trotoar, tidak tahu hendak ke mana. Pikirannya mengatakan ia hanya harus berjalan. Kemudian ketika ia sampai di sebuah taman, ia berhenti sebentar, melihat-lihat sekitar. Seorang gadis kecil tengah bermain ayunan bersama kakaknya. Maya tertarik untuk mendekati mereka. Si kakak, seorang gadis dewasa menyapa ramah kepadanya. Berawal dari situlah Maya pun bekerja di sebuah toko kelontong.

“Mulai kerja hari ini?” tanya Maya kepada gadis itu.

“Tidak, besok saja,” jawab gadis itu. “Kulihat kau sedang lesu begitu. Hari ini kuajak kau ke toko. Akan kutunjukkan sebuah kamar untukmu.”

“Baiklah, terima kasih,” balas Maya bahagia.

Maya merasa sangat beruntung bertemu gadis itu. Seorang gadis yang baik. Tiba-tiba saja mau mengajaknya bercakap-cakap di taman, berlanjut memberinya pekerjaan dan sebuah kamar untuk menginap.

Pada sore hari Maya ingin berjalan-jalan di luar, melihat-lihat kota Jakarta. Di trotoar jalan, seorang lelaki bertubuh kekar mendekati Maya dan mengajaknya berkenalan. Mereka pun berjabat tangan, tetapi cukup lama tangan Maya tidak juga dilepaskan. Maya merasa lelaki itu tertarik kepadanya.

Kalimat ajakan itulah yang Maya dengar dari mulut si lelaki sebagai ucapan terakhir pertemuan pertama mereka. Sambil memberikan kartu nama, lelaki itu pun meninggalkan Maya di sana. Sendirian di trotoar jalan, saat udara mulai bergelayut kelam dan adzan maghrib hendak terdengar berkumandang.

***

Seiring hari berganti bekerja di toko gadis itu, Maya bertemu dengan banyak pelanggan. Pada malam hari sekitar jam sepuluh toko ditutup, kemudian Maya memasuki kamarnya untuk beristirahat. Gadis itu mengetuk pintu kamarnya. Maya membukanya dan mempersilakan si gadis masuk.

“Ada tawaran besar buat kamu, Maya,” bisik gadis itu kepada Maya.

“Apa?” tanya Maya merasa penasaran.

“Itu kalau kau mau.”

“Ya, apa dulu?”

“Tampaknya kau sangat ingin tahu.”

“Sejak kecil aku termasuk orang yang banyak ingin tahu.”

“Begitukah?”

“Ya.”

“Kalau begitu, dengarkan baik-baik!”

Gadis itu pun berbisik pelan di telinganya. Maya mendengarnya dengan khusyuk, penuh perhatian. Maya paham, dan ia mengangguk.

***

Saat Sabtu malam tiba, Maya mencari alamat yang tertera di kartu nama. Sendirian ia datang ke sana. Menumpang taksi. Ia turun tepat di depan sebuah rumah yang terbilang mewah dan megah. Ia berdiri terpana di depannya.

Terbayang keadaannya ketika di desa, rumahnya yang kecil hampir roboh. Ayah dan ibunya yang tua renta, hampir-hampir sekarat tidak ada yang merawat. Juga hutang yang jumlahnya semakin tahun semakin terasa mencekik lehernya. Ia tidak tahan memikirkannya, merasakan sakitnya, apalagi menanggungnya. Oleh karena itulah ia pergi ke kota Jakarta, dengan sedikit uang perjalanan di sakunya.

“Barangkali dengan merantau ke Jakarta, keadaanku akan jauh lebih baik,” pikirnya sebelum ia memberanikan diri untuk pergi ke Jakarta.

Kalimat itulah yang menjadi mantra ampuh bagi Maya, sebab dengan munculnya kalimat itu di benaknya, Maya pun akhirnya benar-benar minggat dari rumahnya di desa, meninggalkan tetek-bengek keriuhan dan masalah kehidupan yang hampir mencekik lehernya itu. Tidak peduli keadaan kedua orang tuanya. Ia bersikap masa bodoh. Maya pikir, mereka pasti akan baik-baik saja.

Sejenak Maya merasa ragu untuk melangkah maju dan membuka pintu gerbang rumah itu. Ia keluarkan lagi kartu nama dari sakunya, kemudian ia baca sebuah alamat di sana dan mencocokkan dengan alamat rumah di depannya. Sama persis. Namun tetap saja Maya masih bimbang. Ia pun berjalan beberapa meter di jalan itu, berhenti di sebuah warung kecil di tepi jalan dan membeli sebotol air minum. Kepada si penjual itulah Maya bertanya tentang alamat di kartu nama.

“Iya, benar,” ujar si penjual. “Memang itulah rumahnya.”

Kembali ke rumah tadi, segeralah Maya membuka pintu gerbang yang tidak dikunci, berjalan melewati halaman yang cukup luas, berdiri di depan pintu dan mengetuknya pelan. Satu kali ia mengetuk, tidak ada seorang pun yang keluar. Dua kali, masih sama. Tiga kali, barulah Maya mendengar suara langkah kaki dari dalam. Saat pintu dibuka, seorang lelaki bertubuh kekar yang Maya kenal tampak di depannya. Lelaki itu memandang Maya penuh takjub, tersenyum, kemudian mengajak Maya masuk ke dalam rumah. Maya pun menurut.

***

“Ternyata kau seorang gadis yang pintar juga ya,” ujar lelaki bertubuh kekar saat pertama kali Maya menginjakkan kaki di rumah itu.

“Memangnya kenapa?” tanya Maya.

“Soalnya kau mampu menemukan rumahku, ya meskipun kau datang sendirian, pada waktu malam pula. Bagiku itu sudah hebat. Banyak orang tidak mampu menemukan alamat yang benar. Sebuah alamat yang ingin ditujunya.”

“Itu karena aku mampu membaca pertanda,” balas Maya tenang.

“Wow, aku suka mendengarnya. Kau memang gadis yang istimewa.”

“Baiklah, kau ingin aku melakukan apa?” tanya Maya.

“Memangnya apa yang aku inginkan darimu?” Si lelaki malah balik bertanya.

“Kau memintaku datang ke rumahmu dan aku telah melakukannya.”

“Ya, memang hanya itulah yang kuinginkan darimu.”

Maya merasa jawaban tersebut diucapkan dengan sangat jujur, apa adanya. Ia tidak mendengar nada kebohongan di dalamnya. Maya percaya hal itu.

***

Maya pergi ke dapur sendirian. Ia membuka pintu kulkas dan mendapati tidak ada bahan makanan apa pun di dalamnya. Hanya ada sedikit bawang putih, cabai merah, dan garam. Maya berpikir untuk membuat sambal bawang dengan bahan-bahan tersebut. Ia tidak peduli lagi yang lainnya.

Saat itu malam benar-benar telah larut, si lelaki bertubuh kekar tengah terbaring malas di kamarnya, dan Maya pun tidak berani mengusiknya. Ia pasrah dengan keadaan itu. Ia sangat lapar. Ia membuat sambal bawang, mengambil nasi dari magicom, kemudian melahapnya. Hanya dengan sambal bawang.

Di atas meja tergeletak sebuah amplop berisi uang miliknya. Sambil makan, Maya melihat amplop itu tampak begitu tebal. Di mulutnya terasa panas karena pedas, dan ia jadi teringat keadaan rumahnya di desa. Ia sadar betapa seringnya ia makan hanya dengan sambal bawang bersama ayah dan ibunya.

Perlahan ia merasakan perih di perutnya. Perlahan ia meneteskan air mata. Perlahan ia sadar, tidak seharusnya ia meninggalkan mereka begitu saja.

Barangkali anda juga suka