Membaca “Iklim Sinau” di Malang & Jogja, Apa Bedanya?

0

Di tengah gempuran foto-foto prewed yang merajalela di timeline dan daftar undangan pernikahan teman-teman sekelas, saya yang belum punya daya dan upaya untuk menyusul mereka akhirnya memilih merantau ke Yogyakarta untuk menghindari keramaian maya itu.

Sampai kota ini, bukan berarti saya puasa membuka media sosial, tapi malah sering sowan karena timeline saya tidak setragis sebelumnya. Memang, masih ada beberapa teman yang tidak dapat menahan nafsu untuk meniru intagram pasangan Chelsea Olivia-Glenn Alinskie, Gading Marten-Gisel, atau Zaskia Sungkar-Irwansyah.

Dian Pelangi kebetulan sedang absen karena dia memutuskan untuk jadi orang yang dilindungi UNESCO. Syukurlah, satu artis yang saya follow tidak umbar kemesraan.

Media sosial saya jadi ter-upgrade setelah pindah ke kota tempat kuliah Presiden Jokowi dulu. Saya kemudian mengamini suatu prinsip dalam metode penelitian bernama etnografi virtual yang mengamati pola sosial di dunia online dan offline, sebab keduanya ternyata saling berkorelasi.

Metode ini banyak digunakan oleh para pengamat sosial yang memperhatikan gerakan anak-anak muda yang memanfaatkan perluasan jaringan melalui dunia maya dan kemudian terealisasi di dunia nyata. Beberapa kelompok masyarakat digerakkan untuk diberdayakan. Memang fantastis otak-otak pemuda sekarang. Mereka memilih untuk tidak bergerombol main Pokemon Go di Jalan Sudirman.

Oke. Balik ke judul besar saya. Membaca iklim “sinau” di Malang dan Jogja, apa bedanya? Saya pernah kuliah di Malang enam tahun, sebelum pindah ke Jogja. Latar belakang ini yang membuat saya kebelet membandingkan dua kota yang dibilang kota pendidikan ini. Saya juga heran kenapa Surabaya dan Jakarta tidak masuk kategori. Mungkin karena jumlah mall disana lebih banyak daripada kampus.

Pertama, Jogja menyediakan banyak perpustakaan dan toko buku alternatif

Shopping, yang terkenal di Jogja. Tempatnya empat kali lipat dari Wilis bila di Malang. Lokasinya di belakang Taman Pintar. Buku mainstream ada, buku alternatif banyak. Ada lagi Terban. Harganya katanya lebih murah dari Shopping. Kalau di Malang, katanya cuma ada Mas Aan di Wilis. Hubungi saja Si Bli (a.k.a Fadrin Fadhlan, Penulis Sediksi) kalau mau beli buku-buku sospol.

Toko buku online alternatif? Jangan ditanya. Saya banyak menjumpai akun-akun mereka di instagram. Warga Malang mungkin baru kepikiran kulakan buku-buku alternatif di Mas Aan, juragannya Bli. Entah selaris di Jogja atau tidak.

Yang kedua, Malang miskin promo kegiatan kesenian dan kebudayaan

Malang Tempo Doeloe terakhir diadakan 2013. Saya tidak tahu event kebudayaan seperti ini mengapa harus dihentikan. Alhasil, kegiatan kesenian dan kebudayaan hampir tidak ada. Mungkin ada, terpusat di bilik-bilik kecil kampus-kampus atau sekolah-sekolah. Tidak ada promo yang gencar pula di media sosial. Alhasil, yang terkenal di Malang hanyalah karya seni Strudel-nya Teuku Wisnu.

Bila kalian jadi pengangguran di Jogja, saya jamin kalian jadi pengacara alias pengangguran banyak acara. Seperti saya. Padat kegiatan datang ke pertunjukan dan pameran seni. Sampai saya kadang men-skip datang karena jadwalnya terlalu padat. Dan ternyata bukan hanya saya. Makhluk Allah usia 17-30an tahun berbondong-bondong juga cuma untuk melihat pameran seni di ArtJog. Social media win this !

Ketiga, Malang Sepi Nobar Film Indie. Jogja hampir tiap bulan.

Dugaan saya, karena di Jogja ada kampus Institus Seni Indonesia (ISI) yang memang salah satu fokusnya di bidang film. Acara-acara nobar film indie tidak perlu menunggu lama. Di Malang mungkin karena tidak ada ISI, jadi ruh kesenian di kota ini melempem digilas K-Pop. Anak-anak rantau Jogja tidak ada yang histeris bila selesai menonton serial Korea. Mereka akan histeris kalau ada info screening film indie yang memang tidak ditayangkan di bioskop.

Agenda terdekat nonton bareng film indie Jogja NETPAC Asian Film Festival ini bakal ada tanggal 28 November-3 Desember 2016. Dan salah satu venue untuk nobar di XXI ! Saya langsung teringat Kalimetro di Malang. Basecampnya Malang Corruption Watch ini sering dijadikan tempat nobar film indie. Ah, kalau saya tidak ke Jogja, saya mungkin selamanya nonton film indie di Kalimetro.

Keempat, semua orang datang ke Jogja

Mungkin apa karena presiden kita pernah kuliah di Jogja, kota ini jadi poros perhatian internasional? Saya bahkan tidak menyesal bila telah memilih Jogja sebagai tempat kuliah, di saat teman-teman saya pusing menaikkan score TOEFL agar bisa kuliah di luar negeri bareng bule.

Di Jogja, kalian dapat kuliah bareng bule berjam-jam. Bahkan ada yang ngobrol pakai Bahasa Indonesia. Yang membuat saya kagum lagi, seorang Ignatius Haryanto, pemerhati pers nasional tidak enggan datang ke Jogja hanya untuk berdiskusi dengan segelintir mahasiswa di suatu acara. Selama di Malang, saya cuma bisa baca tulisannya.

Kelima, Malang belum terlambat

Untuk meniru yang baik tidak ada kata terlambat. Meski sudah banyak mall berjejalan di kota kecil ini, tidak ada salahnya tetap membangun iklim “sinau” di tengah-tengahnya. Sinau tidak harus di bangku kuliah. Datang ke pameran, bioskop, dan toko buku adalah bagian dari sinau. Warga dangdut akademia Malang saatnya membuat media-media alternatif. Memperkaya wacana. Buat Malang kembali ke ruhnya sebagai kota pendidikan.

Untuk para adek-adek SMA yang lagi persiapan tes masuk kuliah, jangan lupa pilih Malang dan Jogja jadi kota tujuan ya. Salam.