Origami Buat Bapak

0

Bapak bilang aku anak bodoh. Bagiku memang benar. Tapi aku tidak akan bodoh kalau Bapak punya cukup uang untuk membuatku pintar. Kata teman-teman, sekolah itu mahal. Aku tidak tahu. Dulu aku pernah sekolah, sampai kelas dua. Aku ingat, hari Senin, Ibu guru menyuruhku pulang. Bapak menjemputku sambil mengamuk. Bapak menendang kepala sekolah. Aku diam. Waktu itu aku senang, karena aku bisa libur, bisa bermain layang-layang jam sembilan pagi. Sekarang, meski tidak sekolah, aku tetap tidak bisa main layang-layang jam sembilan pagi. Bapak menendangku keluar kalau jam sembilan aku masih di rumah.

“Jangan pulang kalau belum penuh!”

Setiap hari Bapak selalu berteriak begitu. Padahal jarak kami sangat dekat. Aku heran,  di rumah kami yang sempit begitu saja Bapak selalu berteriak, apalagi kalau rumah besar di komplek sana. Mungkin harus pakai alat seperti di masjid. Aku belum tau alat itu namanya apa. Tapi yang pasti itu untuk memperbesar suara. Nanti kucari tahu.

Jam sembilan seperti sekarang, sebenarnya aku tidak terlalu tahu ini tepat jam sembilan atau tidak karena tidak ada jam di rumahku, aku sudah berkeliling komplek untuk mencari sampah. Jam sembilan menurutku adalah ketika Bapak sudah mulai mengomel dan bersiap membentakku, karena pasti Bapak pasti berkata, “Anak setan! Sudah jam sembilan masih saja malas!”

Aku senang saat mencari sampah di komplek ini. Aku senang karena banyak yang memelihara anjing. Kata Ayi, temanku, anjing itu najis. Najis itu artinya kotor, itu juga kata Ayi. Tapi kulihat anjing-anjing di komplek ini bersih. Mungkin Ayi belum pernah lihat anjing di komplek ini. Kemarin aku berpikir, enak ya, jadi anjing. Mereka tetap bisa tinggal di dalam rumah meski sudah jam sembilan.

Sampah-sampah di komplek ini banyak sekali. Aku pergi mencari sampah bersama temanku. Bukan, bukan si Ayi. Namanya Rebu. Lahirnya hari Rabu. Namanya lucu, tapi dia tidak bisa melucu. Kadang-kadang, kami menemukan sepatu di tempat sampah komplek. Mungkin tidak sengaja terbuang. Aku selalu berusaha lapor ke Pak Satpam untuk mengembalikan sepatu itu. Tapi kata Rebu, orang kaya sepatunya banyak. Jadi, aku membawa sepatu itu pulang. Aku jadi punya sepatu baru.

Tidak seperti kemarin, hari ini sulit sekali menemukan plastik. Sudah hampir separuh komplek kami berjalan, banyak tempat sampah yang sudah kosong. Tadi Pak Satpam berkata, kami terlalu siang. Ah, tidak mungkin aku terlalu siang. Aku keluar tepat jam sembilan, seperti biasa. Omong-omong soal Pak Satpam, ternyata dia punya banyak kembaran. Kemarin, di jalan, aku mendengar seseorang memanggil nama Pak Satpam. Waktu kulihat, ternyata yang dipanggil bukan Pak Satpam yang kukenal. Ayi juga cerita di sekolahnya juga ada Pak Satpam.

“Gus, ini apa?” tanya Rebu. Rebu memegang kertas yang bentuknya seperti pesawat terbang. Aku mengambilnya. Tidak jauh dari aku dan Rebu, ada lima anak kecil sedang memainkan kertas seperti yang kupegang. Salah satu dari mereka terlihat sedang melipat-lipat kertas menjadi seperti pesawat terbang. Aku mengajak Rebu ke sana.

Mereka melihatku dan Rebu. Salah satu dari mereka, yang rambutnya dikuncir dua, menghampiri kami. Aku memberikan pesawat kertas yang tadi kupegang.

“Ambil aja,” katanya. Aku mengucapkan terima kasih.

“Mau belajar buat ini?” tanyanya. Aku mengangguk. Rebu juga mengangguk. Ia lalu mengambil selembar kertas berwarna kuning. Ia melipat-lipat kertas itu sampai menjadi pesawat terbang. Aku tepuk tangan. Ia memberiku selembar kertas.

“Coba buat seperti aku,” katanya.

Aku mencoba mengingat apa yang tadi ia contohkan. Ia membantuku. Akhirnya aku bisa membuat pesawat kertas. Rebu tepuk tangan. Aku ingin mencoba sekali lagi, tapi anak-anak komplek itu sudah harus pulang. Katanya, mereka harus tidur siang. Kalau tidak, nanti mama mereka marah-marah. Aku tertawa. Harusnya mereka jadi anak Bapakku.

**

            Kata Ayi, kalau mau bisa, harus banyak belajar dan latihan. Aku mau pintar membuat pesawat kertas. Jadi aku harus banyak belajar dan latihan membuat pesawat kertas. Tapi aku tidak punya kertas bagus. Aku sudah coba cari di sampah-sampah, tapi semuanya sudah dilipat-lipat. Kemarin aku minta buku tulis Ayi. Tapi tadi waktu aku minta lagi, Ibu Ayi marah-marah. Katanya, kertas itu cuma buat yang sekolah. Tadi aku juga minta Bapak. Tapi Bapak malah marah-marah. Kata Rebu, aku bisa membuat pesawat kertas dari uang kertas. Tapi aku cuma punya uang koin. Akhirnya aku terpaksa menggunakan kertas dari bungkus makanan. Aku hampir bisa. Sedikit lagi mungkin aku sudah bisa mengajari Rebu.

“Kenapa cuma pesawat terbang?” tanya Rebu.

Aku menggeleng. Aku tidak tahu. Mungkin karena aku cuma bisa membuat pesawat terbang. Atau mungkin karena aku suka pesawat terbang. Aku tidak pernah melihat pesawat terbang, tapi aku tau pesawat terbang itu seperti apa. Aku lihat di koran-koran bekas. Kata Ayi, naik pesawat terbang itu mahal. Tidak seperti naik bus. Di sana juga tidak ada abang-abang yang jual tahu goreng. Kalaupun ada, mungkin mahal sekali.

Bapak harus tahu ini. Bapak harus tahu kalau aku sudah bisa membuat pesawat kertas. Meskipun aku tidak sekolah, Bapak harus tahu kalau aku tidak lagi bodoh. Tapi Bapak belum pulang. Biasanya, sore seperti sekarang, Bapak sudah di rumah.

Kata orang, Bapak jahat karena suka marah-marah. Bapak tidak jahat. Bapak cuma tidak punya uang. Kata Bapak begitu. Ibu Ayi bilang, katanya dulu Ibuku pergi karena Bapak jahat. Tapi aku tanya Bapak, kata Bapak Ibu yang jahat. Ibu pergi dari rumah karena tidak mau tinggal denganku. Sudah ku bilang, Bapakku tidak jahat. Tapi Ibuku yang jahat.

Nanti kalau Bapak datang aku mau bertanya, apakah semua orang jahat kalau tidak punya uang?

**

            Malam ini Bapak tidak marah-marah. Bapak tertawa keras-keras. Bapak pulang dengan tidak membentakku. Ia menyuruhku tidur di kamar. Biasanya Bapak tidak membiarkanku masuk kamar. Aku selalu tidur di dapur. Bapak bilang mulai malam ini kita kaya. Aku tidak tahu kenapa. Tapi  aku senang sekali Bapak begini. Malam ini aku tidur nyenyak.

            Esoknya aku bertemu Rebu. Aku cerita tentang Bapak semalam. Aku juga cerita kalau mulai sekarang, Bapak tidak menyuruhku keluar dari rumah jam sembilan. Rebu menyuruhku membuat pesawat kertas untuk Bapak. Tapi aku harus mencari kertas yang bagus untuk itu. Aku dan Rebu mencari di rumah, tapi tidak ada.

            Aku juga mencari di rumah Rebu. Rumah Rebu sama besarnya dengan rumahku. Dindingnya juga sama. Banyak ditambal koran.  Di rumah Rebu juga tidak ada kertas bagus. Aku dan Rebu bingung.

“Coba kamu minta Bapakmu,” Rebu memberi ide.

“Tapi kan ini kejutan untuk Bapak,” jawabku.

Rebu berpikir lagi.

Akhirnya aku ingat. Tadi malam aku melihat Bapak memasukkan kertas bagus ke lemari. Aku berlari kembali ke rumah. Aku harus membuat pesawat kertas itu sebelum Bapak datang.

Aku membuka lemari. Aku harus naik ke atas bangku kayu untuk mengambil kertas bagus itu. Aku menemukannya. Aku menunjukkannya pada Rebu.

“Lotre,” kata Rebu membaca kertas itu.

Aku segera melipat kertas itu dan membuatnya menjadi pesawat kertas. Aku sudah cukup mahir melakukannya. Rebu tepuk tangan waktu aku menyelesaikan pesawatku.

Rebu mengambil spidol dari kantongnya.

“Kamu bisa menulis, kan?” tanyanya.

Aku mengangguk.

“Tulis, aku sayang Bapak,” katanya.

Aku meraih spidol dan menulis dengan lancar, aku sayang Bapak.

Aku juga menggambar hati di samping tulisanku di sayap pesawat.

Aku tersenyum puas. Bapak pasti sangat senang melihatnya.

Bapak pasti makin tidak marah-marah lagi.

Bapak pasti tidak akan menendangku tiap jam sembilan lagi.

Barangkali anda juga suka