Puisi-Puisi Achmad Hidayat Alsair

0

Menunggu Giliran Wawancara

Dingin lantai, kehendak rebah serta mengumpati tanah liat becek

yang meningkahi kaki-kaki menuju tempat dudukku sekarang.

Antrian lagi, jenjangku tegak mencoba menanggung beban

hasil dari gantungan pemberat di kedua kelopak mata. Merambat hingga ke pinggang.

Menulis nama, jemariku membahas cara mengukir kalimat tanya

sesudah tanda seru, membuat perintah setelah melewati daun jendela dan pintu.

Duduk kembali, benakku telah kehabisan kata umpatan

hanya menggambar benih awan mendung di atas permukaan lantai merah jambu.

Melihat jam berputar, menangisi satu-satunya jalan keluar dari tempat ini,

waktu akan memberi struk rincian berapa lama dirinya dinikmati.

Mendengar nama dipanggil, memisahkan siapa yang dominan dan resesif

serta siapa yang sanggup terus menerus bertanya tanpa henti.

Secarik kertas harus ditulis, tinta hitam kujadikan juru bicara

untuk kebohonganku, tak mampu melicinkan jawaban dari muara lidah.

Ketika selesai, hanya ada kesenggangan antara penantian dan pengumuman.

Menjadi sebuah pekerjaan sulit untuk menjaganya tidak berpisah.

Makassar, Juni 2016

Barangkali anda juga suka