Lagu Kita Masih Sama : Indonesia Raya

0

Saling hujat, saling kecam, dan saling curiga tak henti-hentinya dipraktikkan. Ya, ini tentang dugaan penistaan agama yang melibatkan Ahok, tentang dugaan makar yang diresahkan Jokowi, juga tentang bangsa Indonesia yang seakan tidak pernah selesai dengan dirinya sendiri. Negara gaduh, mulai dari istana hingga jagat media sosial dan warung kopi sederhana.

Di portal Sediksi ini saja, lihatlah, tulisan bertopik Ahok bersama Jakarta-nya mulai mendominasi, antara lain karya Ary Yanuar yang melihat adanya perang bintang, Gibran yang geram karena merasa tertohok, atau pun Muhammad Erza Wansyah yang tak kunjung menemukan kebahagiannya di Jakarta. Entah mengapa, saya ikut-ikutan terjebak hegemoni topik ini. Maka saya memilih membiarkan jemari saya menari di atas huruf-huruf notebook made in China yang belum lama saya beli ini.

Saya melihat ada keunikan muncul dari fenomena ini. Ahok berhasil, setidaknya membuat ummat Islam yang selama ini abai pada Al-Qur’an, kembali membuka dan membacanya, meski barangkali hanya satu ayat: Al-Maidah 51. Selain itu, terlepas dari kepentingan politik, ummat Islam yang sejauh ini banyak berseberangan, mulai menunjukkan itikad bersatu. Saya melihat suatu keindahan, ketika kelompok yang selama ini identik dengan ‘Islam Garis Keras’ bisa berjuang bersama beragam kelompok lain, dengan kebal-kebul asap kretek dan tetap membawa serta panji-panji merah-putih.

Berkumpulnya jutaan manusia di Jakarta pada aksi 411 lalu makin membuat jutaan manusia lainnya terseret kegaduhan. Konon, kebhinekaan mulai terancam. Hal ini lumrah, mengingat Ahok identik dengan dua stigma, China dan Nasrani. Kemudian Presiden Jokowi berkali-kali meminta agar keberagaman dan keutuhan NKRI tetap dijaga. Beberapa aksi mengusung kebhinekaan digelar.

Entah bagaimana, pada akhirnya saya melihat adanya upaya menyimpulkan bahwa yang ikut aksi Bela Islam berarti anti-kebhinekaan. Juga ada kesimpulan lain, bahwa yang anti-Ahok berarti anti-China atau anti-Kristen. Dua kesimpulan itu menurut saya adalah logika gagal. Kesimpulan seperti itulah yang pada akhirnya makin mengacaukan opini publik, menambah pelik permasalahan, serta melengkapi kompleksitas kebingungan. Belum lagi, ada tudingan makar oleh pihak-pihak tertentu di balik Aksi Bela Islam.

Saya sempat heran, mengapa semudah itu isu yang dipicu satu kasus dengan batas yang jelas: penistaan agama, bisa melebar menjadi isu makar. Isu itu sudah terlanjur dilempar ke publik, namun masih belum begitu jelas siapa atau kelompok mana yang ingin makar. Mengutip KBBI, salah satu definisi makar adalah, perbuatan (usaha) menjatuhkan pemerintah yang sah. Dengan demikian, menjadi wajar jika Jokowi khawatir digulingkan.

Dalam beberapa kesempatan, Jokowi juga mencoba memilih menemui tokoh-tokoh tertentu dan tidak menemui tokoh lain. Langkah Jokowi membuat publik menduga-duga, siapa sebenarnya orang di balik upaya makar – kalau memang isu itu benar. Maka silang-sengkarut peta keberpihakan kian tidak tegas. Sementara, gejolak di arus bawah juga tidak kunjung reda, membuat kerunyaman permasalahan bangsa ini makin kelabu. Saya melihatnya bagaikan tatanan masyarakat yang kurang ngopi. Elite politiknya gugup, kelas menengahnya berisik, kelas pinggirannya tambah pusing.

Saya rasa, sudah saatnya Jokowi menunjukkan langkah-langkah konkret. Harus ada ada suatu forum yang melibatkan tokoh-tokoh dari perwakilan semua pihak yang selama ini saling bersebrangan, termasuk orang yang dianggap sebagai dalang makar. Jokowi tidak cukup mengundang atau mendatangi tokoh-tokoh tertentu untuk sekadar mengumbar kemesraan kepada publik. Lebih dari itu, perlu pemetaan lebih mendalam tentang masalah apa yang sebenarnya sedang dihadapi bangsa ini. Sebab, berbicara makar tidak bisa lepas dari faktor-faktor yang memengaruhinya.

Kita tidak bisa melihat suatu gerakan makar terjadi hanya sebatas bermotif kekuasaan. Sebaiknya ada kejernihan berpikir dari semua pihak tentang fenomena kebangsaan akhir-akhir ini. Benarkah hanya penistaan agama yang membuat negara gaduh? Atau ada permasalahan lain, misalnya ketidak-adilan dalam berbagai aspek, juga jurang antara si miskin dan si kaya yang makin tinggi? Untuk menjawabnya, maka lagi-lagi dibutuhkan suatu pertemuan yang representatif. Dengan begitu, bisa tercipta solusi untuk memecah permasalahan-permasalahan yang sudah terpetakan.

Syukur-syukur, rakyat bisa mencontoh para pemimpinnya. Bukan tidak mungkin jika kelas menengah negeri ini yang selama ini saling kecam, turut berinisiatif membentuk suatu suasana sejuk dan saling rendah hati satu sama lain. Begitu pula dengan rakyat arus bawah, yang di beberapa daerah bahkan sudah mulai mudah marah, bisa tersirami kesejukan itu dengan, misalnya memperbanyak ngopi mendudukkan setiap perkara, ya meski kalau terpaksa kopi-nya hutang dulu tidak masalah.

Bukankah lagu kita masih sama: Indonesia Raya. Saya yakin, semangat nasionalisme masih tersimpan pada tetes demi tetes keringat tiap orang di negeri ini. Untuk menutup tulisan ini, saya ingin mengutip sepotong syair lagu berjudul Jalan Baru karya kelompok musik punk, Bunga Hitam, berikut ini :

Tak bisakah kita duduk sejajar bersama sekadar berbicara tetang nasib bangsa?

Tak bisakah sejenak kita tanggalkan s’ragam yang s’lama ini kita banggakan?

-Jalan Baru, Bunga Hitam-

 

Barangkali anda juga suka