Panci Bolos Sekolah

0

Hari sudah mulai gelap, namun Panci masih enggan pulang. Dirinya masih betah berlama-lama di pedalaman hutan lembab. Memandangi lembaran langit yang pelan-pelan berubah dari biru menjadi abu, mendengarkan derit rumpun bambu yang beradu dengan desir bunyi tonggeret, sambil sesekali mengunyah pangkal rebung yang sedari siang  sudah ia kumpulkan. Harusnya di waktu surup seperti ini Panci sudah pulang ke rumah, karena kalau belum pulang Si Ibu suka khawatir, dan heboh sendiri, menanyakan keberadaan Panci ke rumah-rumah kawan sekelasnya.

Kalau istilah anak jaman sekarang, sepertinya Panci tengah dibekap rasa resah A.k.a Galau. Hal ini terlihat dari wajahnya yang ditekuk murung, Ia begitu mager dan hanya membolak-balikan tubuhnya yang tambun di atas tumpukan daun bambu. Matanya menerawang menatap bulan yang sedang pencong, ia tak peduli pada riuh kawanan kalong di atasnya yang sedang berjajar musyawarah, menentukan jadwal migrasi.

Panci teringat apa yang disampaikan Bu Aya tadi pagi di Sekolah Rimba. Gurunya yang galak namun bijak itu kebetulan sedang mengajar mata pelajaran yang disukainya, yaitu bukan Matematika tapi PPKN. Menggantikan Pak Beruk yang malam hari sebelumnya tiba-tiba sakit karena keracunan buah sintetis.

Pelajaran PPKN yang diterangkan Bu Aya tadi pagi sebenarnya cukup berat, membahas tentang Bab Jiwa Kesatria, dengan Sub Bab Implementasi Jiwa Kesatria dalam ruang lingkup kesadaran pribadi dan faedahnya dalam tatanan hidup bermasyarakat. Teman-teman Panci tak antusias, beberapa orang di bangku belakang terlihat berkumpul (pura-pura) membentuk kelompok diskusi, padahal sedang makan kuaci sambil membicarakan tentang Coung Klex artis rapper yang sedang naik daun di kalangan remaja-remaja tanggung. Ada juga yang sibuk mengumpulkan duit arisan, pun ada yang sedang mendebatkan trend bentuk alis yang ideal untuk kulit berbulu lebat, dan macam-macam kegiatan lainnya yang tak berhubungan dengan pelajaran.

Namun, walaupun njelimet Panci dengan penuh perhatian tetap khusyuk menyimak. Tak dipedulikannya teman-temannya yang sedari tadi terlihat sibuk sendiri, hingga saat Buaya menyampaikan contoh-contoh sikap kesatria, pikirannya terpaku  pada sebuah kalimat. “Sikap kesatria itu contohnya, berani bertanggung jawab atas setiap hal yang diperbuat dan akan mudah mengakui kesalahan atas setiap tindakan yang dilakukan.”

Kalimat itu yang membuat Panci gamang dan kemudian murung, di kepalanya mengumpul banyak prasangka, hingga Panci seolah ditikam rasa penasaran akan masa lalunya. Sehingga pada sore itu selepas pulang sekolah pikirannya yang mengawang menuntunnya untuk berjalan tak menentu  dan kemudian masuk ke dalam hutan.

Memori di kepalanya berputar, Panci jadi teringat saat ia masih anak-anak, ia kerap kali iri kepada kawan-kawan sepermainannya, di Kampung Rimba seorang anak berkelamin jantan kerap dilatih berburu oleh Bapaknya. Memanjat ranting pepohonan, menerjang deras arus sungai, atau sekedar membalap lari mangsa buruan. Sedangkan Panci yang hanya tinggal dengan Ibunya, hanya diajari cara memangkas rebung, menyerut biji jagung, atau menghisap madu di kelopak-kelopak bunga aneka rupa. Ibu Panci adalah Beruang Grizly, yang memutuskan menjadi vegetarian dan pendiam karena memendam perasan sakit yang begitu mendalam.

Bukan hanya itu, ketika bermain dan berbaur bersama kawan-kawan sepermainannya, Panci juga seringkali menyimpan rasa sedih dan jatuhnya tangis. Bukannya cengeng, Panci hanya tak kuat menahan sedih, karena seringkali diolok teman-temannya dengan sebuatan “Anak Haram”. Jika kebetulan sedang bermain petak umpet, ia lebih sering memilih menggantikan temannya untuk berjaga, karena dengan cara itu Panci bisa menyembunyikan air matanya yang jatuh  dan mengusapkannya pada kulit pohon mahoni, hingga ia tidak terlihat kalau baru saja menangis.

Pernah di suatu waktu, Panci memang sempat memberanikan diri bertanya pada Ibunya tentang siapa sosok bapaknya. Hingga tentang perihal namanya yang aneh karena lebih mirip panggilan untuk penggorengan, padahal nama Panci sebenarnya adalah singkatan dari “Panda Cilik”, karena jika ia bisa memilih, ia akan lebih memilih menyematkan nama Berbi atau “Beruang Biasa” supaya ia tak dituduh aneh oleh kawan-kawan sepermainannya dan setidaknya sedikit sama seperti orang tuanya yang notabene adalah seekor beruang Tulen.

Alih-alih mendapatkan jawaban normatif dan dramatis seperti ala-ala sinetron Korea, Ibunya justru dengan blak-blakan menjawab pertanyaan-pertanyaan Panci dengan begitu rinci dan emosional, hal ini yang membuat Panci semakin baper. sembari diiringi backsound suara melankolis burung celepuk yang sesenggukan, yang ikut mendengarkan di balik rimbu.

“Kamu itu bukan anak haram le, kamu itu anak Ibu. Bapakmu itu Beruang Madu yang tersohor kegarangannya itu”, jelas Bu grizly. Panci tunduk takzim mendengarkan walaupun matanya semat-semat menahan kantuk dan menahan jatuhnya air mata. “Dulu kamu dinamai Panci karena saat kamu lahir bertubuh kecil, seperti bayi truwelu bukan bayi beruang. Ibu terpaksa secara diam-diam melahirkanmu secara prematur karena bapakmu memaksa Ibu untuk aborsi” terang Bu Grizly yang gambar alisnya mulai luntur karena matanya sembab.

Terlebih saat tau kelahiranmu dengan tanda lahir wajah bergaris putih hitam yang berbeda dari kulit bapakmu, bapakmu kian menjadi-jadi, menuduh Ibumu selingkuh dengan zebra lah dengan sapi lah, atau siapa saja yang corak nya hampir sama menyerupai tanda lahir di tubuhmu. Padahal kalau boleh jujur Ibumu yang memegang erat prinsip emansipasi ini juga memegang teguh nilai kesetian, Setelah kejadian itu Bapakmu pergi tak berkabar, namun beberapa lama setelah itu, menurut kabar burung cucak rowo Bapakmu memilih terjun di dunia politik dan lebih senang meluapkan kegembiraan bersama para gadis di kota.

Bersamaan dengan akhir suara Ibunya, Panci terbangun. Riuh suara jago berkokok dan jatuhnya tetesan dingin embun pucuk daun yang mengumpul di pusarnya yang terbuka. Membuat Panci menggelinjang dan kemudian duduk untuk mengucek matanya. Ternyata semalam ia melamun hingga ketiduran, tertidur dengan mimpi yang amat jelas, sejelas flashback sinetron India.

Dilihatnya ke arah timur langit di ujung bukit, matahari masih belum naik setengah, namun Panci sudah memutuskan untuk tidak sekolah. Tekadnya bulat, setelah mimpi nyata semalam ia berniat untuk menenangkan diri terlebih dahulu agar jiwanya tak begitu terganggu.

Setelah selesai proses mengumpulkan kesadaran, Panci mencari air untuk minum dan membasuh muka, tak lupa beberapa potong bambu muda yang tersisa dilalapnya agar saat proses menangkan diri nanti perutnya tidak keroncongan.

Setelah merasa siap secara lahiriah dan batiniah, Panci kemudian berputar sejenak mencari lokasi yang kira-kira cocok sebagai tempat ritual pelepasan dirinya, ya semacam ritual mencari ketenangan batin, menjernihkan pikiran, melepaskan keadaan dan upaya-upaya lain untuk menyelesaikan masalah agar pikiran kembali tenang, yang dalam bahasa kekinian bisa disebut juga bergalau ria.

Selang berapa lama, Panci menemukan tempat yang pas diantara gemericik aliran sumber air, tepat dibawah rindang pohon randu yang sesekali lembut sinar matahari pagi dapat menelusup lewat sela daunnya yang tak begitu rimbun.

Bergegas Panci mengambil posisi, melakukan gerakan yoga sambil mencoba menutup mata. Bersamaan dengan habisnya embun pagi terakhir yang jatuh di ujung hidungnya, Panci berhasil mengumpulkan konsentrasi untuk masuk ke alam bawah sadarnya.

Ia mengingat tentang pelajaran PPKN kemarin di sekolah, tentang ucapan Bu Aya, tentang senyum sinis teman-temannya, hingga mimpi semalam tentang cerita Ibunya.

Semuanya dia tarik lurus menjadi konstruksi panjang yang berkorelasi dengan keberadaannya saat ini.

Dalam batinnya Panci berujar, kalau pilihannya untuk membolos sekolah hari ini haruslah menghasilkan sesuatu, kalau bukan resolusi untuk menyatakan sikap, minimal ia sudah menjadi lebih kuat ketika jika suatu saat harus mendapat ejekan tentang keberadaannya yang tidak punya bapak.

Panci mulai membayangkan sosok bapaknya yang pernah ia dapatkan dari keterangan Ibunya suatu waktu itu. Tak susah untuk membayangkannya, di surat kabar dan koran-koran wajah bapaknya kerap berseliweran, dilengkapi dengan banyak berita kontroversi, seperti kabar burung cucak rowo saat itu, bapak Panci, si beruang madu  memang mulai terjun ke dunia politik, dan pada tahun depan akan mengikuti pemilihan Gubernur Hutan Rimba, bersaing dengan Ular Kobra, Banteng dan Elang Jawa.

Kalau Panci memilih untuk tiba-tiba muncul meminta tes DNA, bisa jadi Panci justru dituduh hanya mencari sensasi dan ingin numpang tenar, salah-salah, malah dirinya akan semakin dihujat dan dikucilkan teman-temannya dan masyarakat. Walaupun benci Panci juga tak ingin menyusahkan bapaknya. Karena, menuntut untuk melakukan tes DNA juga bisa berpengaruh pada kondisi elektabilitas bapaknya yang akan bertarung sengit di pemilihan gubernur rimba, karena menurut berbagai lembaga survei elektabilitas beruang madu yang awalnya tak terkejar kini mulai merosot terjun dan kemungkinan disusul oleh calon kuat lainnya, hal ini disebabkan kebiasaan beruang madu yang menggilai segala hal yang manis-manis, mulai dari makanan manis, senyum (sok) manis, gadis-gadis manis hingga janji-janji manis. Selain itu beberapa waktu kemarin beruang madu juga sempat didemo ribuan anggota ormas kehutanan, yang katanya juga ditunggangi koalisi partai kuda, hal ini juga karena kebiasaan beruang madu yang gemar ceplas-ceplos saat bicara dan terpeleset omong tidak sesuai porsi dan tempatnya.

Berbekal hal itu Panci kembali mencoba diam, mengatur napas pelan-pelan dinikmati gemericik air sumber yang beradu dengan batu, dihirupnya udara segar yang dibawa semilir angin, pikirannya kembali terbuka, ia bergumam, susah jika menginginkan tes DNA sekarang. Selain ia pasti dituduh ingin tenar, sepertinya beberapa rumah sakit yang ada di kota kemungkinan juga sedang penuh. Bulan ini sepertinya juga bulan sakit jiwa. Banyak hewan sakit pikiran, pasien Puskesmas semuanya di rujuk ke kota. Kebanyakan adalah korban penipuan penggandaan sembako yang dilakukan oleh hewan pintar yang dikenal sebagai Mahaguru bernama Denmas Kanjing, kalau tidak, Rumah sakit di Kota kebanyakan penuh oleh para hewan muda jantan yang sedang dilanda penyakit stress karena di musim kawin kemarin gagal mengawini betina pujaan karena kalah saing dengan jantan lainnya yang lebih mapan.

Panci memang sempat berpikir untuk mengambil jalur hukum menggugat Beruang Madu untuk mengakuinya sebagai anak. Namun hal itupun hanya sempat terlintas dan langsung diurungkannya, pasalnya uang sakunya tak akan cukup untuk menyewa pengacara dan lagipula saat ia membaca berita-berita di koran, dalam berbagai perkara yang diduga melibatkan bapaknya, sang Beruang Madu tak pernah sekalipun dinyatakan bersalah, mulai dari kasus jual beli tanah rumah sakit, sampai, perihal bikin keruk pulau. Hal itu membuat nyali Panci makin ciut dan melupakan cara menggugat melalui jalur hukum.

Panci kembali diam, sejenak ia memandang aliran air sumber yang mengalir tenang, nympacha pubercense semu merah mengambang, tumbuh berjajar disekitaran sumber, di balik salah  satu lembar daun sepasang gebetan kodok sedang memadu kasih, menuntaskan hasrat ingin kawin di air dingin. Merasa diamati Panci, sepasang gebetan kodok sepakat menunda keinginan, si betina nampak malu-malu kodok dan memutuskan melompat ke dalam air. Wajah Panci basah terkena cipratan air, sebagian bajunya juga.

Diamatinya cipratan air di sebagian kerah dan lengan kanannya, Panci mengernyitkan dahi sambil berpikir, sejenak ia merasa aneh, baju yang dipakainya awalnya berwarna coklat muda kini berubah warna menjadi semakin gelap tua.

Panci baru menyadari ia memakai baju seragam Pramuka, dan itu tandanya, sebenarnya hari ini ia tidak bolos sekolah, karena kemarin adalah hari Sabtu dan berarti hari ini adalah hari Minggu. Setelah menyadari hal itu tanpa pikir panjang Panci langsung bergegas, beranjak berkemas dan mengakhiri ritus pergulatan pikirannya.

Dilihatnya matahari sudah kian tinggi, Panci sedikit kecewa, kenapa ia tak menyadari sedari tadi bahwa hari ini adalah hari Minggu, ia cukup menyesal karena pergulatan pikirannya yang begitu lama, ia jadi tertinggal beberapa film kartun yang gemar ia tonton di hari Minggu. Perihal apa yang ia niatkan sejak awal untuk mendapatkan jawaban tentang pikiran dan perasaannya, dalam hati Panci kembali bergumam. Toh sebenarnya puncak dari sikap kesatria adalah “memaafkan orang lain dengan tulus walaupun dirinya selalu merasa tersakiti”, sambil tersenyum simpul dan penuh bangga ia mengingat petuah dari tokoh kartun favoritnya yaitu Nobita.

Dengan ceria Panci beranjak pulang, Omelan Ibunya menunggu di rumah.

Barangkali anda juga suka