Jurus Anti-Mainstream Mengatasi Banjir di Kota Malang!

0

Boom! Jakarta tak berkutik. Perlawanan mereka melawan monster banjir selama puluhan tahun tak membuahkan hasil. Jakarta tetap lekat dengan identitas banjir saat musim hujan tiba. Kini, monster banjir memperluas pengaruhnya hingga ke luar kota. Malang adalah salah satunya.

Belakangan ini keberadaan monster banjir di Kota Malang menjadi momok sendiri masyarakat. Mereka menutup lubang-lubang jalan dengan air. Memanfaatkan jalan-jalan berlubang untuk mengelabuhi pengendara sepeda motor. Dan, byuuur! Bila monster banjir telah beraksi, pengendara sepeda motorpun terkena dampaknya. Syukur-syukur kalau para pengendara motor itu cuma terkelabuhi oleh genangan air di atas lubang jalan. Bila itu selokan, habis sudah.

Pemkot Malang tidak ambil diam. Berbagai pertemuan diadakan. Stakeholder dikumpulkan. Kemampuan menyusupi media massa tingkat lokal ditingkatkan. Mulailah penyusunan program melawan banjir. Dari mengubah mindset dan tatanan sosial di masyarakat, hingga mengundang para investor untuk mendanai perlawanan merekar.

Dari berbagai proses panjang itu, ditemukan berbagai jurus baru untuk melawan banjir. Tidak sembarang jurus. Ini adalah jurus unik yang anti-mainstream. Jurus yang muncul berkat eksplorasi logika liar Pemkot Malang. Tampaknya, Pemkot Malang sadar bahwa monster banjir bukan monster biasa. Jadi, diperlukan perlawanan yang berbeda pula. Berikut, saya akan  terangkan jurus-jurus baru tersebut.

  1. Superhero Effect: Membangun Taman Superhero di Rampal

    Jurus ini ditemukan oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Malang. Ketika DKP melihat potensi anak muda dalam berkarya, potensi itu lekas ditindaklanjuti. Pemanfaatan bahan-bahan daur ulang metal menjadi figur robocop yang dibuat di Rampal, mengundang inisiatif pemerintah untuk membangun taman Superhero di Rampal, Ruang Terbuka Hijau (RTH) milik militer di Kota Malang.

    Bukan sekadar aksi tiru-tiru Bandung. Jurus ini dikembangkan dengan maksud baik untuk melawan monster banjir. Tidak perlu capek-capek memikirkan bagaimana membuka taman baru agar jumlah RTH publik di kota ini memenuhi standar peraturan. Cukup melakukan modifikasi taman dan RTH yang sudah ada, memperindahnya, lalu berubahlah mindset masyarakat.

    Ingat. Bahwa mindset adalah salah satu faktor utama dalam mengatasi berbagai permasalahan. Begitu pula masalah yang timbul dari monster banjir ini. Bukan kurangnya RTH yang menyebabkan monster banjir tertarik mendatangi Malang, tapi mindset kepahlawanan yang mulai tergerus arus.  Bila ada figur superhero ini, jiwa kepahlawanan anak muda perlahan dapat tumbuh. Kemudian, mereka bisa lebih peduli terhadap lingkungan dan pada akhirnya, tercipta kebiasaan membuang sampah pada tempatnya.

    Lebih dari itu. Keberadaan figur superhero ini memiliki tujuan jangka panjang. Pada saatnya, masa-masa kejayaan materialisme akan habis. Gencarnya upaya mengulayatkan ilmu sosial menggiring masyarakat kembali pada hal-hal transendental. Pola seperti ini telah diprediksi  sejak dini. Jadi saat masa-masa itu terjadi, kala pengetahuan-pengetahuan trandensental berkembang, ada kesempatan ibu peri datang dan menghidupkan figur superhero tersebut. Mereka dapat dijadikan tambahan tenaga untuk membersihkan selokan. Yes, inilah Superhero Effect!

  2. The Slums Crusher: Memfasilitasi Apartemen di Bantaran Sungai

    Belajar dari Apartemen Soekarno Hatta di bantaran sungai yang tidak pernah terendam banjir, Pemkot Malang tampaknya kembali mengizinkan pembangunan apartemen baru. Letaknya, strategis. Tepat di belakang Dinoyo City Mall. Dan paling penting, mirip dengan apartemen di Soekarno Hatta: dipinggir sungai. Bila jadi didirikan, tentunya akan memberi kontribusi besar berupa pajak. Anggaran pemerintah bertambah. Penggusuran warung-warung di bantaran sungai dan pemukiman kumuh di bantaran sungai bisa segera terealisasi.

    Warung-warung kecil dan pemukiman kumuh di pinggir sungai itu memang seringkali menjadi penyebab sedimentasi dan penyempitan arus sungai. Sampah-sampah, mereka buang sembarangan ke sungai itu karena rumah kebanyakan membelakangi sungainya. Selain itu, beberapa juga tidak mengantongi sertifikat tanah. Mereka sudah belasan atau bahkan puluhan tahun tinggal di sana, dibiarkan “tak tertib” begitu saja. Untuk itu bangunan-bangunan seperti ini harus segera ditertibkan.

    Barangkali setelah itu, ada pihak investor yang tertarik mendirikan apartemen di sana. Bila begitu, anggaran untuk ‘menertibkan’ pemukiman kumuh dan warung-warung kecil di bantaran sungai bisa bertambah lagi.

  3. Ground Meditation: Mengizinkan Bangunan Hingga 40 Lantai

    Tidak cuma pikiran manusia yang butuh dimeditasi. Tanah pun begitu. Dan salah satu jurus yang mampu membuat tanah ikut bermeditasi adalah memberi peluang para pengembang untuk mendirikan bangunan 40 lantai. Dilakukan melalui Revisi Perda RTRW.

    Cara kerja jurus ini, cukup unik. Ketika bangunan-bangunan bertambah tinggi, maka kebutuhan air tanah untuk bangunan itu juga akan bertambah. Daya serap bangunan terhadap air tanah di sekitar bangunan meningkat. Membuat air tanah kosong.

    “Kursi kosong” itulah yang dijadikan ruang untuk menampung air hujan. Persis seperti prinsip meditasi. Ketika pikiran kosong, maka pikiran baik akan lebih mudah untuk masuk. Begitu juga tanah. Ketika airnya kosong, maka air hujan memiliki kesempatan lebih besar untuk mengisi ruang-ruang yang kosong tersebut.

    Saat air hujan mengisi ruang kosong di bawah tanah di sekitar bangunan 40 lantai, maka kehadiran monster banjir akan terhambat. Monster banjir tak bisa lagi datang dan keselamatan masyarakat, terjamin!

  4. Gather the Masses: Modifikasi Hutan dengan Menggandeng CSR

    Di antara berbagai jurus di atas, jurus ini adalah salah satu jurus yang sudah dilancarkan oleh Pemkot Malang. Lebih tepatnya, dengan memanfaatkan dana Coorporate Social Responsibility (CSR) dari sebuah perusahaan minuman isotonik untuk menghimpun massa dan meningkatkan kapasitas fisik masyarakat agar kuat menghadapi banjir.

    Perlu diketahui bahwa dehidrasi memiliki dampak buruk bagi kesehatan tubuh. Keram otot, mudah lelah, sembelit, dan banyak lagi dampak negatif lainnya. Sedangkan untuk melawan monster banjir, dibutuhkan stamina dan kemampuan yang utuh dari masyarakat. Menghindarkan masyarakat dari dehidrasilah salah satunya.

    Untuk itulah, menggandeng perusahaan minuman isotonik adalah salah satu caranya. Memberikan peluang perusahaan tersebut untuk mendirikan monumen produk mereka. Membuat hutan tersebut seperti taman. Sehingga, masyarakat jadi banyak yang berkunjung ke sana dan melihat monumen minuman isotonik raksasa. “Brand” minuman kaleng tersebut akan tertanam dalam benak orang-orang. Konsumsi masyarakat pada minuman itu bertambah dan Kota Malang terhindar dari dehidrasi.

    Sayangnya, rencana ini tidak terealisasi sepenuhnya. Monumen produk itu malah dinilai iklan gratisan oleh sekelompok aktivis. Efeknya bisa dirasa sekarang. Masyarakat jadi lemah dalam melawan banjir. Saya curiga, mereka semua sedang dehidrasi. Andai saja monumen produk isotonik itu jadi direalisasikan, mungkin sekarang upaya melawan monster banjir berjalan dengan maksimal!

Memang tidak semua tahu jurus rahasia tersebut. Pemkot Malang memang merahasiakannya. Sebab, mereka khawatir jurus-jurus rahasia ini sampai ke telinga Monster Banjir. Bila itu terjadi, maka pupus sudah harapan Pemkot untuk membinasakan monster banjit. Akhirnya kita tinggal menunggu waktu sampai Kota Malang benar-benar menjadi Jakarta.

Barangkali anda juga suka