Upaya Membunuh Waktu

0

Perempuan itu mencomot jam dinding dari tempatnya. Menatapnya dengan penuh dendam selama beberapa detik, lalu menghempaskanya ke luar rumah. Benda itu melesat seperti piring terbang membelah udara, mengabaikan daun pintu yang menganga. Lingkaran berwarna merah bermotif abu-abu itu terus terbang tak beraturan, kalau saja pohon mangga di depan rumah tak menghalaunya.

Dari dalam rumah, perempuan itu masih mampu mendengar suara benda yang dilemparnya menyayat sesuatu lalu terjerembab di tanah, remuk. Ia pergi dari tempat semula, meninggalkan hening. Hanya saja perih masih mengikuti. Mulutnya belum bergumam ketika pipinya mulai basah oleh tetes demi tetes air yang bersumber dari kedua matanya yang sembab.

Dihampirinya tiap sudut rumah. Ia masih mencari jam, segala jenis dan bentuk jam. Digeledahnya lemari demi lemari. Jemarinya merayap pada tiap ruang sempit. Beberapa jam tangan dan jam lain yang menyelinap di balik kotak kecil berhasil dipungutnya untuk kemudian dihanguskan bersama sisa remukan jam dinding yang hancur di bawah pohon, sedari tadi.

Perempuan itu menengadah ke langit, mengabaikan kepungan api mengunyah apa yang diinginkannya, hingga kepulan asap perlahan menelan bara yang mulai letih. Jam-jam itu memang ludes, namun Sumi tak puas setelah tahu ia gagal membunuh waktu. Dikiranya, waktu bisa berhenti berputar jika ia tak memiliki jam. Ia menyangka, rumahnya terbebas dari dimensi waktu jika tak menyimpan alat penanda waktu di sekitarnya. Nyatanya, adzan magrib masih berkumandang dari kejauhan, meski samar. Ini tandanya waktu masih mengandung nyawa untuk mengarungi semesta, dan ia kecewa.

Senja bercampur mendung yang menggantung di langit barat merangkak lenyap, berganti pekat sepenuhnya. Perempuan itu masih duduk termangu di halaman rumah, menjatuhkan pandangan sayu pada bara dan abu sisa-sisa jam, meletakkan punggung pada sebatang pagar rumahnya.

Sementara, purnama belum sempurna mengintip malam. Meski begitu, Sumi yakin ini bukan sebuah bukti tewasnya waktu. Barangkali rembulan sengaja menunda keberangkatannya, memohon agar awan kelabu menguntalnya bersama bintang-bintang, membiarkan perempuan itu menemukan cara membunuh waktu. Padahal, Sumi ingin menumpahkan tanya pada bulatan angkasa yang mewujudkan pantulan surya itu.

***

Konon, orang bisa menguasai dunia jika berhasil menundukkan waktu. Konon, ketika manusia perlu menyebut Tuhan untuk sumpahnya, Tuhan justru menyebut waktu tatkala bersumpah. Konon, malaikat senantiasa melaksanakan tugas-tugasnya dengan sempurna karena tak terikat dimensi waktu. Sumi percaya pada itu semua. Maka, ia ingin sekali menemukan cara membunuh waktu. Entah sudah berapa lama keinginan itu mengendap pada benaknya. Entah telah sekian kali percobaan dilakukannya. Ia juga tiada mengerti, amanat siapa lagi yang musti ditaati. Yang ia tahu, ia belum berhasil memadatkan inginnya menjadi bangunan nyata. Harapannya kian berjarak. Terlalu jauh. Sebagaimana ia terbentur batasan kala mengamati cakrawala.

Deru knalpot terhenti di depan pagar. Dua orang yang ada di atas motor itu tersisa satu ketika seorang di antaranya melenggang pergi bersama kendaraannya. Pria paruh baya melangkah ringkih menuju pintu, usai menuruni motor. Pria itu sempat mendaratkan mata pada pohon mangga di sampingnya, juga pada sisa bakaran yang letih disapu dingin, sebelum akhirnya membuka daun pintu dan menampakkan wujud di hadapan Sumi.

Setelah ini apa lagi, nduk? Setan apa lagi yang merasukimu, nduk? Bapak harus membawamu ke dukun mana lagi?” sambar orang yang muncul dari balik pintu.

Sumi menjawab pertanyaan bapaknya dengan sungkem, seperti biasa yang selalu dilakukannya tiap bapak pulang dan pergi. Senyum lesu dari sudut bibir Sumi seakan menyemburkan kecewa. Sebentuk kemudian ia baru berkata-kata.

Maafkan anakmu ini, Pak. Sumi belum berhasil membunuh waktu.”

Siapa yang mengajarkanmu bercita-cita membunuh waktu, nduk? Pertanyaan ini tak pernah kaujawab.”

Lagi-lagi bapaknya hanya mendapat pilu. Sumi melangkahkan kakinya menuju kamar, menyisakan tanya. Tanya yang masih menyimpan tabungan senada, manakala Sumi hilang lebih dari seminggu, sebelum bapak menemukannya bersendekap seorang diri di bawah beringin, di antara rindang hutan sebuah bukit.

Tanya yang serupa, sejak tingkah polah Sumi kian tak terjelaskan. Aneh-aneh saja memang gerak-geriknya. Di lain waktu, bapaknya kembali bingung atas hilangnya Sumi. Dan begitu terkejut ketika di belakang rumah ada sosok kepala. Kepala perempuan mengembuskan napas sesak. Napas yang meluapkan udara dari hidung. Hidung yang menempel pada kepala di atas tanah, tanpa badan. Kepala itu tak lain milik Sumi. Memang tinggal kepalanya yang tampak, tubuhnya terlalap tanah, membuat bapak menjerit histeris meminta bantuan. Orang-orang berdatangan lengkap dengan berbagai alat yang dibawanya. Tanah yang masih gembur itu akhirnya digali, demi mengentaskan Sumi.

Sejak kejadian itu, orang sekampung menganggap Sumi gila. Berbagai-bagai laku Sumi tak lagi dianggap sebagai hal yang serius. Akan tetapi, tetap saja mereka penasaran, kira-kira apa lagi yang akan dilakukan Sumi. Rasa penasaran mereka seringkali diwujudkan para wanita melalui rasan-rasan di pasar menyela waktu belanja. Kaum Adam tak ingin tertinggal. Mereka meramalkan prediksi-prediksi tentang tingkah Sumi berikutnya, dan menjadikannya sebagai bahan taruhan di gardu.

Barangkali dalam waktu dekat Sumi akan memanjat pohon mangga di depan rumahnya, dan berkokok seperti ayam mengabarkan temaram fajar. Dengan begitu dia menganggap dirinya berhasil mengendalikan waktu, sebab kokoknya mampu menghapus rembulan, membangunkan mentari pagi. Aku bertaruh 50 ribu, kalian bisa tagih uangnya kalau sampai 15 hari ke depan prediksiku belum terwujud,” kata Pak Gembloh.

Ada-ada saja ramalan orang-orang. Pak Torbun justru berkelakar lebih bijak. Ia tak sepakat dengan anggapan orang-orang yang menuding Sumi tak waras.

Jangan-jangan dia nabi yang diutus di kampung ini,” Pak Torbun memulai.

Kau ini ada-ada saja Bun. Mana ada nabi yang tingkah polahnya tidak jelas seperti Sumi. Lagi pula, sejak kapan ada nabi perempuan?” Pak Gembloh menyanggah.

Atau paling tidak dia wali yang menyamar. Atau minimal dirasuki roh Nabi Khidzir yang misterius itu.”

Wah tapi ya jangan sampai Sumi berbuat onar merusak kapal-kapal, atau mencekik bayi, seperti yang dilakukan Khidzir saat membimbing Musa. Bisa mampus Sumi, regulasi di negeri ini tidak mau tahu akar permasalahan suatu tindak kriminal. Jangankan Khidzir, kalau saja Ibrahim merencanakan penyembelihan terhadap Ismail di zaman ini, pasti dia segera ditangkap Densus 88.”

Begitulah Sumi menjadi buah bibir tiap malam. Pos Kamling makin akrab dengan ramalan dan perjudian tentang perempuan itu, kecuali ketika bapaknya ikut jaga di Pos Kamling.

***

Malam itu, Sumi mulai mendengar bisik-bisik tetangga. Hatinya tertindas, tapi raganya berusaha tegap. Ubun-ubunnya berputar-putar menandingi sumpah serapah yang acap kali menyasarnya. Jika sudah seperti ini, pedih yang menyerbu amat tertikam oleh air mata nestapa. Masa lalu memang kerap membuatnya mengunyah duka. Bukan hanya masa lalu miliknya. Ia termasuk perempuan peka. Mampu menyimpan tiap pengalaman dan apa saja yang pernah diamatinya di lingkungan hidupnya.

Lamat-lamat ia beranjak dari rumah, melintasi sebatang pagar yang menghubungkan jalanan menuju balai desa. Di jalan itu, ia terus memekik-mekik apa saja. Langkahnya tak gontai, manakala orang-orang mulai membuntutinya.

Peringatan! Peringatan!”

Kata itu yang paling sering disebutnya sepanjang jalan.

Ini Peringatan.”

Orang-orang terus mendengar pekikan serupa sebelum akhirnya Sumi terhenti di lapangan depan Balai Desa. Puluhan orang ikut berhenti, menyaksikan aksi Sumi yang selalu menyimpan penasaran bagi mereka.

Aku tahu Balai Desa ini sudah kosong. Penghuninya sudah pulang entah kemana. Menghabiskan malam entah dengan siapa. Menyeduh bahagia entah dengan apa. Tapi aku juga tahu, mereka tidak bisa leluasa. Pemimpin-pemimpin yang ruang lingkupnya jauh lebih luas telah memberi pagar-pagar yang menyimpul bangunan keangkuhan.”

Orang-orang terperangah. Sumi menatap bapaknya yang ternyata juga berdiri di antara sesak puluhan orang. Tatapan Sumi membuat bapaknya pergi entah kemana. Ia tak peduli. Melanjutkan apa yang diinginkannya malam itu.

Sampai kapan kita akan meneruskan hidup seperti ini? Tidakkah bapak-ibu sekalian sadar bahwa dunia makin penuh kepalsuan? Orang-orang memilih hanyut pada arus kenikmatan semu, melebarkan rentang saling-silang siksa yang tiada putus-putusnya.”

Aku tak tahan hati menyaksikan semua ini. Aku tahu apa yang kalian bicarakan di pasar-pasar dan di tiap sudut kampung, di pagi buta dan di malam lelap, aku tahu semua dan tak peduli dengan itu.”

Biar saja kubunuh waktu barang sementara, atau mungkin selamanya. Agar kita semua tidak terus-menerus menanam benih kehinaan dalam ketersesatan zaman di tengah nyata pertanda. Jika aku gagal, biar waktu yang membunuhku.”

Orang-orang tidak mengerti apa yang dibicarakan Sumi, tapi tetap tidak ada yang bertanya. Mereka lebih sibuk meramalkan apa yang sebentar lagi bakal terjadi. Pak Gembloh dan Pak Torbun berdebat tentang kisah nabi-nabi. Sebagian orang yang bosan mulai kembali ke rumahnya masing-masing. Tapi Sumi tetap berdiri, sesekali mengepalkan tinju ke tiap bintang yang mengawasinya.

Gerhana peradaban dilenggangkan menyusuri keseharian kita. Racun-racun mengerikan senantiasa mengendus tiap ubun-ubun kita semua, sebab akal dan nurani kalah riuh oleh ketidakberadaban nafsu.”

Hei, kalian yang bergentayangan pada pucuk kekuasaan. Lihatlah mereka, yang melongo, yang mengamini setiap mantra dari kalian, lihatlah! Oh Tuhan, kadang-kadang aku lupa kalau di sini sudah tiada lagi indera untuk melihat, tiada lagi kepekaan merasa, dan tiada pula keinginan bahagia.”

Orang-orang mulai bergumam, makin riuh. Mereka lebih sibuk satu sama lain, ketimbang menyimak ucapan Sumi. Mereka kembali tercengang ketika sadar Sumi tak lagi di tempat semula. Orang-orang mendaratkan pandang ke segala arah, menelisik keberadaan Sumi. Mereka berpencar. Ada yang menyibak hutan. Ada yang menyisir puncak bukit. Ada yang masuk ke Balai Desa. Ada yang merangsek ke rumah Sumi. Namun Sumi belum juga ditemukan. Bapaknya juga tidak ada di rumah. Orang-orang panik tapi segera lupa segalanya, seiring kantuk menyerbu katup mata yang membuat mereka mendapatkan rumahnya masing-masing.

Keesokan harinya, seorang petugas Balai Desa menemukan dua karung tergeletak di lapangan. Lalat-lalat membawa pasukannya menghinggapi karung yang mengeluarkan cairan merah. Orang-orang berkerumun dan memungut dua karung itu untuk ditenggelamkan ke sungai. Sumi dan bapaknya belum kembali ke rumah.

Barangkali anda juga suka