Tan Malaka dan Masa Depan Kewarasan Kita

2

Saya selalu berdecak kagum pada teman-teman yang ahli ilmu fisika, matematika, kimia, biologi atau sebut saja anak IPA. Bayangken! Mereka sanggup menenggak banyak rumus mulai dari aljabar, kalkulus, katrol, gravitasi, berat jenis, belum lagi beragam bahasa Latin yang namanya sangat aneh. Saya berkhayal, mungkin suatu hari nama teman-teman yang jago IPA ini bakal sejajar dengan para bintang di ilmu sains macam Isaac Newton, Galilleo Galillei, Nicolas Copernicus, Ibnu Rusyd, Ibnu Sina atau Albert Einstein.

Dibandingkan dengan saya selama melakoni pelajaran ilmu sains hanya muslihat menyembunyikan buku Marthen Kanginan di laci saat ujian, akal bulus pura-pura tidur, bersiasat menyimpan rumus di kaos kaki atau sibuk memikirkan bagaimana caranya bisa bolos dengan selamat sentosa. En toch, saya beruntung waktu itu diselamatkan oleh kolom “Fisika itu Asyik” yang diampu Yohanes Surya dan acara Indo**t Galileo.

Berkat tayangan itu, saya punya alasan saat masuk “zona degradasi” ujian fisika atau ketika mata sudah lima watt melihat katrol berjumlah tiga biji. Kira-kira begini, ternyata fisika (baca: sains) tidak melulu menghapal rumus, tapi ilmu ini mengajak kita menalar sebuah kenyataan, menjelaskan sebab-akibat dengan bukti-bukti yang kuat serta masuk akal atau bisa ditangkap panca indera; bisa dicecap, didengar, dilihat, dipegang dan diambu.

Keberadaan ilmu sains dalam kronik sejarah bukan perkara main-main. Pernah dengar Abad Pencerahan? Abad inilah yang meniup angin topan ilmu sains untuk menjungkalkan kuasa takhayul dari kongkalikong kaum kolot, “orang dalam akhirat”, dan raja yang lalim. Membayangkan Indonesia yang cerah, bersinar, waras, dan sehat wal’afiat ini dipikirkan baik-baik oleh seorang pemuda Minang bernama Tan Malaka. Bagi pemuda sering disebut “jomblo revolusioner”, selama awan kelabu “ilmu buat akhirat” dan “takhayul” masih menggelayuti pergaulan anak manusia, maka sia-sia belaka segala daya upaya merebut Indonesia Merdeka.

Ilmu sains atau ilmu bukti bagi Tan Malaka adalah harga mati, saya coba kutipkan pernyataan dari Madilog yang ditulis secara gerilya oleh beliau, “…Pacts, bukti, inilah lantainya science, terutama Ilmu Alam (Bintang, Kodrat dan Kimia). Alas lantai bukti inilah satu Scientist, yakni Ahli Bukti mendirikan “degung undang-nya” Law (prinsip).

Bagi Tan Malaka, ilmu bukti mutlak harus ditempuh dengan jalan observasi, mengamati dan jalan eksperimen, peralaman atau percobaan. Ia mengingatkan, bila bukti yang diajukan lemah maka gugur pula hukum sebab-akibat. Mau tau apa aja itu ilmu bukti, ini saya panggillin arwahnya Tan Malaka lagi, yaitu ilmu yang melayani benda mulai dari Bintang, Bumi, Matahari, Udara, Tumbuhan, Hewan, Logam, Garam, Zat, Kuman”.

Beruntung, manusia yang separuh hidupnya habis untuk promosi “Merdeka Seratus Persen” ini tidak sendirian dalam proyek membangun “Indonesia Waras”, ia ditemani Bung Karno, menulis Surat-Surat Islam dari Endeh (1936).  Sadar ilmu pengetahuan rentan dioplos fantasi “kaum kolot”, Bung Karno tegas mengingatkan betapa bahayanya kelompok yang menyaru dalam dupa, karma, jubah dan celak mata ini. Kelompok inilah yang mencampakkan ilmu pengetahuan dengan pernyataan “kafir”.

Saya yakin gigi Bung Karno bergemeletukan saat menulis tebal-tebal pernyataannya, “kita royal sekali dengan kata kafir, kita gemar sekali mencap segala barang yang baru dengan cap kafir. Pengetahuan Barat-kafir, radio dan kedokteran-kafir; sendok, garpu dan kursi-kafir, tulisan Latin-kafir, yang bergaul dengan bangsa yang bukan bangsa Islam-pun kafir!”

Tulisan mereka berdua meletupkan imajinasi saat Indonesia merdeka maka sendi-sendi kemajuan ilmu pengetahuan akan berkembang pesat. Dus, topangannya jelas, cara berpikir saintis-logis serta penghargaan pada ilmu bukti sebagai celaan atas “kabut takhayul” dan “kekolotan” di alam pikiran orang Indonesia.

Rasanya perlu diperluas cakupan celaan Tan Malaka dan Bung Karno terhadap “kabut takhayul” dan “kekolotan” dengan tidak melulu pada kegiatan “kemenyan” atau “memanggil-manggil arwah” namun lebih pada kesilapan berpikir, pelecehan terhadap ilmu bukti, malas verifikasi atau lebih kasar lagi mendeklarasikan diri sebagai kaum Homo Hoax-ensis. Dengan mengusung semboyan pseudo-science atau pseudo-logic, saya pikir orang-orang ini turut membentuk bagaimana rupa masyarakat post-truth yang konon menjadi kosakata pilihan tahun 2016.

Loh, padahal perkakasnya sudah modern? Bukankah sekarang pergaulan manusia bercorak teknologi informasi? Disini masalahnya, mengapa masih banyak orang yang melecehkan ilmu bukti. Contohnya gampang, emang di mana letak logisnya ketika ada gambar “diduga” mirip “palu arit” di uang kemudian terkoneksi dengan kebangkitan PKI. Apa buktinya Anda pernah menyaksikan kebangkitan PKI? Bagaimana wajahnya? Kalo iya beneran bangkit. apa didahului halilintar di malam Jum’at Kliwon sebagaimana bangkitnya Si Mata Malaikat? Lantas, seperti apa bau komunisme itu? Apek, kecut, aroma lavender atau strawberry?

Peringatan dari Tan Malaka dan Bung Karno sangat penting untuk merefleksikan bagaimana bisa di tengah zaman (yang katanya) modern, masih ada manusia yang barangkali sudah lelah dan bosan disebut makhluk berpengetahuan. Dan beberapa kenyataan yang terpapar belakangan ini akan menunjukkan, erkembangan perkakas teknologi tidak melulu seirama dengan kewarasan nalar. Oke satu lagi contohnya! “kaum yang percaya bumi itu datar”.

Coba lontarkan pertanyaan sederhana, eksperimen apa yang Anda lakukan untuk membuktikan bumi itu datar? Apa buktinya jika bumi itu datar? Kurang lebih, mereka ini sekelompok ‘ilmuwan’ yang memiliki daftar pustaka tautan Google, sedang bersusah payah memberi wacana tandingan terhadap konsep bahwa bumi itu datar.

Tapi, bukankah mempersiapkan wacana tandingan harus dilalui dengan prinsip berfikir sistematis, memiliki bukti, eksperimental, argumentasi yang kokoh belum lagi prosedur saintifik, bukan dengan hasil kedukan pesan berantai WA, mengajukan pertanyaan manasuka, terka-terka, menujum hari kiamat atau pukul kaleng konspirasi jahat Cak Hudi.

Kita layak khawatir jika kebiasaan melecehkan ilmu bukti ini akan berakibat buku karya Marthen Kanginan tiba-tiba digantikan dalil Harun Yahya atau orang yang berfantasi menyatakan bumi datar. Besok dengan wajah muram, Pak Marthen Kanginan yang baik akan mengganti seluruh materi tata surya di buku Fisika, barangkali tak lama kemudian layu pula jembatan keledai Menunggangi-Vespa-Bukan-Motor-Yudi-Sahabatnya-Urip-Nekat-Pergi yang kadung terpahat di kepala si Buyung.

Di pojok sana, ada kecemasan kalahnya ahli meteorologi dan geofisika yang mati-matian menghitung prakiraan cuaca berikut gerakan awan agar si Upik tidak kehujanan, malah digantikan dengan komplotan orang yang berfantasi melihat kehadiran Naga Dragonball lewat simbol di awan. Duarr! tiba-tiba suara-(Nya) memecah langit dan menjadi viral di sosmed dan banyak yang percaya pula!

Saya juga tidak bisa membayangkan betapa mengerikan jika Mas Aris, sang begawan ekonomi dan perbankan takluk disebul jampi-jampi ahli nujum yang meramalkan bangkitnya komunisme lewat lambang “palu arit” di uang. Dan jlegerrrr! dari kuburannya Tan Malaka kembali berteriak “dengan jatuhnya ilmu pengetahuan maka jatuhlah ilmu kedokteran yang sehidup semati. Dengan begitu tak ada daya upaya lagi untuk memberantas malaria, kolera, pes, atau penyakit baru yang mesti berjangkit akibat pengangguran dan kelaparan yang mesti hebat dahsyat”.

Barangkali anda juga suka