Ketika Dagangan Selebriti Jadi Makanan Khas, Santai Saja

0

Belakangan, saya banyak menemukan buah pemikiran teman-teman di media sosial tentang selebritis yang jualan makanan. Saya rasa, Elyvia Inayah juga tertantang untuk turut berpikir kemudian menuangkannya dalam artikel Pertarungan ‘Buah Tangan’ Brownies Tempe & Malang Strudel.

Saya mah anaknya nggak mau kalah, tapi saya punya perspektif beda melihat bisnis oleh-oleh selebritis yang mulai sporadis di berbagai daerah. Saya nggak tahu siapa yang memantik, tapi pertama kali, saya tahu ada Malang Strudel. Kemudian gara-gara internet, saya jadi tahu oleh-oleh serupa juga ada di berbagai kota lain seperti Jogja Scrummy, Makassar Baklave, Surabaya Snowcake, dan Medan Napoleon.

Demi Tuhan, saya nggak tahu lho bentuk makanan yang bernama strudel, scrummy, baklava, dan snow cake tanpa jasa Google! Sekalipun bisa dikata hidup keluarga saya di Surabaya, tapi saya nggak pernah tahu snow cake itu apa sebelum bertanya ke Google. Sama halnya ketika saya hijrah ke Malang, seorang kawan bertanya, tempat jajanan bernama almond crispy cheese. Saya hanya bisa bengong. Olokan yang kemudian saya terima, “masa orang Surabaya nggak tahu makanan khas Surabaya”. Ya Tuhan, saya ingin memaki, tapi ini teman saya, nanti saya nggak dipinjami duit saat tanggal tua.

Fenomena makanan dengan klaim khas daerah yang dijual para selebritis itu sebenarnya nggak ada beda dengan makanan lain, yang bisa dibawa pulang turis. Ubi Cilembu mungkin bisa masuk jajaran oleh-oleh kekinian kalau diklaim Stefan William misalnya. Begitu pula Snow Cake a la Zaskia Sungkar mungkin jadi kudapan fushion teraneh jika tidak diselipi foto selebritis.

Banyak yang beranggapan, bisnis kuliner para selebritis semena-mena karena mengklaim produknya merupakan khas daerah tertentu, padahal tidak ada muatan sejarahnya sama sekali. Keep this in your mind, the business of a business is business. Yap, para selebritis tersebut cuma membangun bisnis yang paling gampang laku: jual makanan.

Perkara mereka mau ‘mengakuisisi’ oleh-oleh dari daerah tertentu, halah itu cuma mulut orang jualan, biar bikin geram kompetitor aja! Sepertinya belum ada anak muda sebegitu panik karena identitas makanan khas Bogor terancam, saat sekompi turis selalu mampir ke Cimory untuk beli oleh-oleh.

Santai saja kawan-kawan. Begini lho logikanya, saya sebagai turis akan rela menyempatkan diri ke Durian Ucok saat saya ke Medan. Tidak lupa, saya juga akan mampir ke Risol GoGo. Saya mungkin juga akan susah payah membawa Bolu Meranti dalam perjalanan saya kembali ke daerah. Alasannya, di daerah saya tak ada yang mampu menjual makanan itu dengan kualitas serupa.

Atau, lebih absurd lagi, tak ada yang mengalahkan euforia menjejakkan kaki di warung durian legendaris, hangatnya risol yang baru keluar dari wajan raksasa, harap-harap cemas sambil menyelundupkan durian ke bagasi, bahkan membawa kardus bertuliskan Bolu Meranti ke kabin pesawat! Sebaliknya, saya tidak akan rela jauh-jauh ke Medan untuk mendapatkan pastry yang dibungkus bolu, makanan yang mereka sebut Medan Napoleon! Ngapain, wong nggak ada rasa Medan-nya kalau bawa makanan begitu!

Bila jeli, sebenarnya produk makanan yang dijual para selebriti itu cuma terdiri dari dua jenis makanan, bolu dan pastry. Strudel dan baklava sebenarnya termasuk golongan pastry. Masih memanfaatkan pastry, Surabaya Snow Cake, Medan Napoleon, dan Jogja Scrummy menambahkan bolu dalam satu potongan yang sama, atau kalau boleh saya katakan keduanya ini dalam golongan fushion. Kepala kita yang asing dengan nama-nama makanan tersebut mungkin cuma ah-oh aja begitu tahu bentuknya. Strudel adalah pastry ala Austria, sedangkan Baklava adalah pastry ala Hungaria. Oh…

Negara-negara di Eropa memang banyak menyajikan makanan-makanan golongan pastry. Mungkin hal ini tidak lepas dari kebiasaan mereka makan olahan gandum. Lidah orang Eropa mungkin bisa mendeteksi mana pastry yang memiliki cita rasa daerahnya dan daerah lain. Coba bandingkan dengan orang Indonesia yang ragam makanannya tidak didominasi hasil olahan gandum!

Saya berani tebak kalau lidah orang Indonesia tidak piawai membedakan pastry a la BreadTalk dan pastry a la tetangga sebelah rumah yang jago bikin kue. Lantas, rasanya kita tidak perlu panik kalau oleh-oleh bikinan selebritis ini suatu hari mampu menggeser oleh-oleh makanan tradisional yang sudah ada, sebelum selebriti itu kepikiran bikin bisnis. It’s just something nice to buy, but nobody will die trying.

Lantas apa para pebisnis kuliner yang sudah jualan oleh-oleh sejak jaman Soekarno wajib panik? Enggak juga kayaknya. In case, minta pakde dan budhemu yang punya bisnis oleh-oleh untuk menenangkan diri, sebab makanan yang dijual selebritis tidak memiliki roh yang sama dengan identitas daerah.

Iya, begini lho, saya ingin menyentuh masalah resep turun-temurun dalam keluarga sebagai roh yang membangun identitas daerah. Nenek saya lahir hingga meninggal ada di Jawa Timur. Meskipun mereka berpindah kota, mereka tidak pernah berganti alat masak. Mereka selalu memiliki cobek dan ungkal yang digunakan untuk nguleg bumbu atau bahan makanan lain. Dari peralatan semacam cobek dan ungkal tersebut, saya tidak pernah melihat pastry keluar dari dapur nenek saya bahkan dapur ibu saya.

Saya yakin nenek-nenek tetangga saya juga sama. Hal ini menjadi penanda, tidak ada satu pun dari jajaran selebritis yang berusaha menghadirkan masakan khas turun temurun melalui dapur mereka. Ini semakin memperkuat asumsi saya bahwa fokus perhatian para selebritis itu sebenarnya tidak pada resep, namun pada bisnis yang menguntungkan.

Mari belajar dari pebisnis kuliner yang sudah berdiri sejak zaman budhemu masih ingusan. Saya tertarik memberi contoh Lontong Mie Nyonya Marlia. Agak nggak apple to apple sih dagangannya, tapi mari melihat dari segi korporatnya. Jika kamu berkunjung ke Surabaya, datanglah ke Pasar Atum tahap lama.

Sempatkan untuk mampir ke kios sempit Nyonya Marlia sambil menikmati resep lontong mienya yang bikin lidah bergoyang! Nyonya Marlia belakangan membuka cabang di Mall Pasar Atum dan di Plaza Surabaya. Menurut saya sih rasanya sama saja, tapi bagi sebagian orang kedua gerai di kedua mall tersebut tidak menghidangkan rasa lontong mie yang sama dibanding kios pionirnya.

Fokus tim Nyonya Marlia mungkin harus terpecah dengan hadirnya cabang-cabang baru. Bentuk usaha mereka bukan lagi warung sederhana, namun jadi lebih serius karena disusupi manajemen. Iya, mereka harus mengatur gaji pegawai, rasa otentik dari makanan, kualitas, mutu, brand, dan sebagainya.

Lalu, mari bandingkan dengan jaringannya si Teuku Wisnu. Istrinya bikin Surabaya Snow Cake dan iparnya bikin Medan Napoleon. Dengan jaringan bisnis keluarga yang demikian ini, bisa ditebak, mereka mendirikan bisnis demi mendapatkan keuntungan tanpa pernah ada maksud memajukan wisata daerah tertentu atau menyajikan keunikan resep tertentu.

Bisa dilihat dari dagangan mereka yang muter-muter di golongan pastry dan bolu. Jenis dagangan ini akhirnya menjadi identitas bisnis kuliner Teuku Wisnu dan keluarganya. Nah, bisa dikatakan, inilah salah satu roh identitas korporat mereka. Bukan identitas daerah lho ya.

Ramalan saya, nama-nama kota yang mereka selipkan di merek dagang mereka (suatu hari nanti) akan membentuk sebuah realitas: oleh-oleh khas keluarganya Teuku Wisnu yang diwaralabakan di berbagai daerah. Korporat mereka mungkin tidak akan terganggu karena dibangun oleh tim-tim yang piawai, tapi makanan mereka mungkin tidak akan memiliki nilai kenangan seperti makanan Nyonya Marlia.

Akhirnya, jangan buru-buru panik kalau orang-orang akan melupakan bakpia dari Jogja, durian dari Medan, spiku dari Surabaya, maupun keripik dari Malang. Daerah-daerah tersebut sebenarnya kaya akan warisan kuliner yang tidak akan mudah digerus oleh makanan kekinian. Semudah orang bisa bosan makan nasi, turis pun bisa bosan beli keripik dan bakpia.

Namun, apakah orang akan selamanya bosan makan nasi yang merupakan makanan pokok sejak jaman nenek moyang? Para selebritis yang berbisnis ini barangkali hanya memanfaatkan welas asih dari turis yang sedang beli oleh-oleh. Tahu sendiri kan, turis sering kali nggak mikir panjang buat mengeluarkan uang di daerah wisata. Mereka seperti dermawan bagi pengemis… oops.