Puisi-Puisi Novy Eko Permono

0

Bapak

Sesore tadi sepulangnya dari pabrik batako,

Bapak duduk di emperan rumah, melolos sebatang rokok, menyelinapkannya di bibir.

Sembari mencari-cari korek,

Lalu menyesap kopi, menghisap rokok, memandang rerumputan, ketenangannya tak berubah.

Kenapa berdiri di belakang pintu, Nak?”

Kemarilah duduk bersama Bapak.”

Tidak usah. Bukankah Bapak berjanji mengajakku ke Pasar Malam nanti? Bapak harus lekas mandi.”

Pada mandinya, Bapak menemukan dirinya sendiri,

Keriput, otot-otot yang mulai kendor, dirinya tak muda lagi

Angin menggerakkan daun-daun Mahoni di halaman rumah.

Menyelinap masuk lewat kusen-kusen

Merayap ke ubin hingga loteng

Ayah berjalan santai, bercakap sebentar di teras, kami siap berjalan-jalan.

Setelah melewati tiga kelokan, tibalah kami padang rerumputan, orang bilang itu lapangan.

Disanalah Pasar Malam diadakan, ada Tong Setan, Rumah Hantu, Komedi Putar dan favoritku aneka jajanan.

Malam yang menentramkan, Bulan bergetar-getar di atas riuhnya lapang(an).

Jam sembilan malam kami memutuskan pulang, meninggalkan semua yang tampak menyenangkan

15/12/2016

Barangkali anda juga suka