Hikayat Cabai, Si Boy dan Kegelisahan Kaum Ibu

0

Bangsa Indonesia yang terkenal sebagai orang yang ramah, sopan, dan berkesenian, selama ini juga terkenal sebagai pecinta pedas yang militan. Walau tak semua masakan Indonesia punya citarasa pedas, setidaknya hampir tiap daerah di Indonesia punya resep makanan khas yang di dalamnya mengandung unsur-unsur pedas.

Misalnya, Rendang yang pedasnya nendang, Ayam Betutu dan Plecing Ayam yang gurih segar di awal namun akhirnya pedas juga, atau Gudeg yang dimakan setelah mendengar sindiran calon mertua dan masih banyak lainnya.

Indikasi lain menguatkan, masyarakat Indonesia begitu mencintai pedas. Dilihat dari banyak jajanan yang mendadak laris manis ketika diubah menjadi pedas. Cukup ditambah embel-embel seram di belakang namanya. Sebut saja Mie Setan Hantu, Makaroni Mantan, atau kalau saya boleh usul nama lain yang lebih seram seperti Batagor Begal, Siomay Susana,  atau Cimol Dosen Pembimbing. Hal ini cukup membuktikan, bila banyak kaum ibu di Indonesia berada pada perasaan resah bin sedih ketika harga cabai naik, selain kematian Si Boy.

Sebagai golongan ultras dalam hal mencintai makanan pedas sekaligus pemuda yang begitu menghormati status ibu-ibu, tanpa disadari saya pun merasakan bagaimana kesedihan mereka. Kebetulan saya yang masih berkutat di satu kampus Kota Malang, mendengar keluh kesah harga cabai di beberapa warung langganan (ngutang) makan saya.

Seperti warung Nasi Campur kepunyaan Bu War, Tlogomas. Beliau mengurangi takaran cabai di sambelnya dan memperbanyak jumlah tomat, menjadikan sambelnya mirip jus tomat yang sedikit dipedesin

Saya: “Buk, kok sambele saiki dadi manis ngene Buk?”

Bu War: “Lah iyo mas lombok’e tak kurangi, tomat’e sing tak akehi. Lombok saiki larang, timbang digae tuku lombok mending tuku ayam, iso digawe ayam krispi”

Saya: “Owalah begitu nggeh”

Hal yang sama terjadi di warung Tahu Telor Bu Puji yang ada di sekitar Jalan Sigura-gura. Bu Puji memilih mengganti cabai dengan bubuk cabai instan, baru diulek bersama bumbu kacang.

Saya: “Buk kok cabenya ganti pake cabe gituan buk?”

Bu Puji: “Lah gimana Mas, cabe mahal banget e sekarang, cuacanya juga sering hujan, aku jadi jarang jualan kalo beli cabe. Mahal, cepet busuk. Wong aku ga punya kulkas juga. Duh bingung, mana anak tiga tiap hari butuh sangu ke sekolah”

Saya: (merasa bersalah dan berdosa)

Terakhir, percakapan saya terjadi di sebuah warung Penyetan Bu Titin di Jalan Tidar Kota Malang.

Saya: “Buk kok regone munggah kabeh Buk? (sembari melihat daftar harga penyetan ayam yang sebelumnya 9K menjadi 10K, lele awalnya 8K menjadi 9K dan tahu tempe yang semula 6k menjadi 7k”

Bu Titin: “Lah yo Mas lombok’e munggahe ga karuan, timbang tak kurangi pedese, engko rasane bedo, mending regane tak undak ke”.

A: “owhh ngoten Buk” (sambil menyadari bahwa uang kurang seribu).

Beberapa keluhan tingginya cabai rawit dari ibu-ibu warung makan, makin mengundang rasa skeptis saya. Meski saya bukan murid Bill Kovach & Tom Rosenstiel, saya tetap mencoba disiplin verifikasi dengan datang langsung ke Pasar Dinoyo (atau yang lebih dikenal Pasar Merjosari) untuk beli cincau. Eh iya, sekalian beli cabai.

Ternyata harga cabai melambung tinggi bukan hoax atau gurauan ibu-ibu warung langganan saya semata. Menurut seorang ibu penjual cabai yang tidak bisa disebutkan namanya (karena saya lupa tak bertanya), harga cabai masih naik turun atau fluktuatif, tapi patokan harganya berkisar antara 100-115 ribu rupiah.

Ibu penjual cabai juga tidak tahu menahu ketika saya tanya, kenapa harga cabai bisa begitu mahal. Dengan normatif-diplomatis beliau mengatakan, harga cabai mahal karena dari pemasok memang mahal. Saya akhiri percakapan dengan perasaan sedih, sebab baru menyadari membeli cabai 10 ribu rupiah tak lebih banyak dari gorengan jika dikonversikan dengan harga yang sama. Hiks.

Pedasnya cabai tak cukup tahan dan cenderung sensitif saat musim hujan telah tiba. Mulai dari serangan penyakit Antraktosa, layu Fusarium, atau Phytoptora Infestans membuat cabai sendu melayu, tingkat pasokan menurun karena hasil panen kurang maksimal. Dalam hukum ekonomi, mahalnya harga cabai disebabkan faktor kelangkaan barang. Walau ketersediaan barang cukup, nyatanya bila permintaan meningkat, pedagang jadi latah juga menaikkan harga suatu barang dengan cukup instan dan signifikan.

Melihat kegaduhan kaum ibu, Kementerian Pertanian pun turun tangan mencoba memberi solusi strategis. Pemerintah telah membagikan 10 juta bibit cabai agar kebutuhan cabai pada rumah tangga terselesaikan. Harapannya, masyarakat punya kesadaran serentak menanam cabai bersama. Pak Mentri memberi pesan inspiratif kepada ibu-ibu untuk mengurangi membeli make up dan mengurangi waktu bergosip agar mampu menanam cabai dengan maksimal.

Meski unik, solutif dan inspiratif, pesan Pak Mentri seputar make up dan gosip tak bisa diberlakukan pada semua kaum ibu. Apalagi mereka yang sebagian besar waktunya dihabiskan di dapur, di warung atau di pasar, macam Bu War, Bu Puji atau Bu Titin. Ya jangankan beli make up, memberi uang jajan anak aja susah. Katanya sih begitu.

Sebagai generasi muda yang (semoga) diharapkan bangsa, saya tergerak ingin memberikan alternatif solusi juga dan berharap pemerintah mau menampung saran rakyat biasa.

Maksimalkan ruang kota

Saran menanam cabai dari Pak Mentri kurang pas khususnya di kawasan perkotaan tanpa ketersediaan tanah dan ruang yang cukup. Konsep susun atau hidroponik pun butuh intensitas cahaya matahari cukup. Padahal kawasan permukiman sudah jarang terpapar matahari sebab terhalang bangunan lain yang lebih tinggi.

Pemaksimalan fungsi ruang menjadi tuntutan bagi negara. Pemerintah harus siap melakukan langkah yang berkaitan, seperti tidak mudah memberi izin pendirian bangunan khususunya di lahan produktif. Apalagi bila melihat banyak sekali pembangunan Ruko mangkrak tanpa konsep perencanaan yang jelas.

Pemerintah juga musti membuat kebun bersama yang bisa digunakan masyarakat belajar bercocok tanam. Bukan sekadar membangun taman indah dihiasi lampu remang-remang dan bangku-bangku ideal untuk pacaran. Penggantian tanaman hias pinggir jalan yang tidak bernilai ekologis dan ekonomis dengan tanaman yang bernilaiguna perlu dilakukan.

Disamping itu, masyarakat perlu diberikan edukasi untuk memaksimalkan keberadaan pekarangan, halaman, garasi atau atap model budidaya tanaman khususnya cabai.

Dalam melakukan hal ini mungkin pemerintah bisa mengintip Kuba, di mana sistem pertanian kota organik atau Organoponicos cukup sukses membuat masyarakat kota lebih mandiri. Hampir 3,4% pertanian ditunjang pertanian perkotaan. Di Havana juga ada lebih 8% ruang perkotaan diperuntukkan untuk lahan pertanian, sehingga Havana sebagai ibukota mampu memenuhi hampir 90% kebutuhan akan hasil pertanian dari kotanya sendiri.

Perlunya Bapernas

Sebuah ungkapan klasik bilang, masyarakat Indonesia sudah cukup bahagia ketika makan hanya berlauk sambal. Bila memang benar, alangkah baiknya pemerintah memfasilitasi membentuk sebuah badan baru,  yaitu Badan Persambelan Nasional (Bapernas) sebagai badan mandiri yang mengurusi segala hal seputar sambal. Di samping urusan nasi yang sudah dipegang Bulog.

Bapernas bukan hanya mengatasi kelangkaan atau meroketnya harga cabai, namun juga mengurus komoditas lain, seperti bawang, tomat, terasi, ebi, dan bahan-bahan yang mendukung resep sambal nusantara.

Dalam Bapernas perlu ada departemen riset dan pengembangan, untuk mendata kembali berbagai varietas cabai endemik asli Indonesia, tanaman alternatif pengganti cabai bila terjadi kelangkaan cabai yang sangat parah, menciptakan varietas baru yang tahan terhadap situasi politik, serta mendata resep-resep sambal asli nusantara untuk dipatenkan.

Harapannya masyarakat semakin gemar makan sambal dan menjadi inisiasi adanya Gemasnas (Gerakan Makan Sambel Nasional) yang bisa menjadi pelopor swasembada cabai nasional.

Minimalisir gosip

Menurut Pak Mentri, gosip penting dikurangi demi upaya maksimal menanam cabai. Pemerintah perlu memberi perhatian khusus untuk itu. Sebab gosip ibarat candu, maka penanganannya juga butuh dilakukan dengan (sok) serius.

Regulasi kembali seluruh acara gosip artis agar dipindah ke saluran tv berbayar. Hal ini bisa meminimalisir tersebarnya gosip yang tidak bermanfaat bagi semua kalangan masyarakat. Kedua, makin maraknya akun-akun Instagram gosip a la paparazi, ada baiknya pemerintah perlu memasukkan gosip sebagai kategori hate speech dan hoax yang bisa dikenakan pidana UU ITE.

Terakhir, selepas meninggalnya Boy Anak Jalanan, pemerintah dapat berkoordinasi dengan stasiun TV dan rumah produksi, agar tak menayangkan lanjutan atau acara-acara serupa. Bila amat terpaksa ditayangkan kembali, baiknya rumah produksi menampung saran, pemeran Si Boy tak digantikan Dek Aliando atau Dek Al Ghazali.

Lebih baik Mas Adul, Bang Komeng atau Cak Lontong saja yang mengambil alih peran Si Boy. Agar ibu-ibu tak mudah histeris tapi selalu senyum ceria, walau harga cabai naik begitu tingginya.

Sekian salam pedaas!!!

Barangkali anda juga suka