Jangan “Berak” di Amerika

0

Bayangkan ada tiga macam situasi. Situasi pertama, Anda tidak sengaja melihat orang sedang berak. Kedua, Anda tidak sadar menginjak kotoran. Terakhir, Anda sendiri yang mengeluarkan kotoran di kamar mandi. Situasi ini mirip ketika kita menanggapi berbagai kondisi,  kita cenderung memiliki respon yang berbeda.

Umumnya kita akan mengernyitkan dahi sembari komat-kamit jijik ketika berada di situasi pertama. Bila ada di situasi kedua, tidak jarang kita misuh-misuh sambil mengutuk dia yang membuang kotoran sembarangan. Pada situasi ketiga, kita justru menghela nafas lega.

Ketiga hal itu berintikan satu hal : kotoran. Tapi tentang kotoran manusia ternyata bisa ditanggapi dengan cara berbeda jika dilihat di mana, siapa, dan bagaimana kotoran itu terkait dengan diri kita.

Sama halnya dengan fasisme. Puluhan tahun sudah paham ini terakhir kali populer di Jerman, Spanyol, Italia, atau Jepang. Semula kita beranggapan itu hanya bersisa di buku-buku sejarah yang kita pelajari dengan mengernyitkan dahi. Seperti jika kita berada pada situasi kotoran nomor satu.

Tapi siapa sangka di Amerika sana, Donald Trump yang rasisnya minta ampun memenangkan Pemilu. Sejenak kita terhenyak menyadari bahwa fasisme masih ada. Disusul kebijakannya melarang imigran dari tujuh negara Islam. Saat itulah kita dihadapkan pada situasi kotoran nomor dua. Alias mulai misuh-misuh.

Lain cerita jika Anda Warga Negara Amerika. Jika rumah dan pekerjaan hilang, jika pendapatan terus saja pas-pasan, lalu para imigran keluar masuk seenaknya cari duit di negeri Anda. Ditambah pemerintah yang Anda gaji selama ini tampaknya tak melakukan perubahan signifikan bagi hidup Anda. Bagi mereka, kebijakan Trump adalah situasi kotoran manusia nomor tiga. Mereka sedang bernafas lega atas kebijakan kontroversialnya.

Trump, pemimpin negara (yang katanya) paling demokratis se-dunia. Juga negara terkuat dengan anggaran militer terbesar. Kita juga tahu bagaimana sejarah Amerika. Selama beratus tahun menjadi negara pengharapan bagi jutaan orang di seluruh dunia. Imigran berdatangan dari berbagai negara. Lalu muncullah slogan American’s Dream yang terkenal dan Patung Liberty yang tersohor. Bila sebagian dari kita di Indonesia masih tetap menganggap Amerika keparat, itu perkara lain.

Lalu sekonyong-konyong datanglah Trump si-pirang-rambut-emo dengan ambisinya membuat Amerika kembali hebat. Menyelamatkan warganya dengan membatasi jumlah imigran. Caranya  sudah terlihat dengan membangun tembok di perbatasan Meksiko lalu melarang masuknya warga  dari tujuh negara muslim.

Kalau sudah begini, jangan salahkan bunda mengandung. Juga jangan salahkan Warga Amerika yang mayoritas memilihnya. Toh kita akhirnya sadar, zaman sedang berubah. Dampak krisis ekonomi global tahun 2008 dan periode panjang Arab Spring tampaknya belum surut dan berpotensi mengubah perjalanan peradaban, terutama negara-negara Barat.

Rangkaian peristiwanya kita tahu. Mulai kenangan kelam di Wall Street tahun 2008, ketika ekonomi Amerika dan dunia terseret dalam pusaran krisis. Lalu api yang menghanguskan tubuh Mohamed Bouazizi di tahun 2011, meledak menjadi gelombang revolusi negara-negara Arab.

Hingga tahun 2016 lalu, Brexit yang bukan Brebes Exit mengejutkan dunia dan mengubah percaturan Uni Eropa. Dan sebentar lagi, para Trump baru berpotensi muncul di Perancis, Belanda dan mungkin Jerman. Uni Eropa pun terancam runtuh jika orang-orang populis berhasil memenangi pemilu di negara-negara utama. Sedang, populisme belakangan ini semakin populer.

Sebenarnya apa pun yang terjadi di negara-negara itu tidak ada urusannya dengan hidup kita dan saya khususnya. Negara-negara yang menghiasi sejarah dunia dan terpampang megah di film-film itu berada di ribuan kilometer jauhnya. Sedangkan saya hanyalah penghuni kosan di pojok Kota Surabaya. Apapun yang terjadi disana, warung kopi depan kosan masih tetap buka.

Tapi masalahnya, tuan-tuan dan nyonya-nyonya sekalian, Amerika dan kawan-kawan itu sudah menjadi laiknya kata pepatah : menjilat ludah sendiri. Jika negeri kita ini sekarang menjadi liberal seperti seperti kata para aktivis, itu karena negara-negara tersebut mendikte tentang bagaimana seharusnya bernegara. Lalu sekarang, mereka sendiri makin tidak liberal.

Cita-cita menyatukan seluruh umat manusia lewat globalisasi misalnya, tampak makin suram ketika negara-negara pelopornya justru semakin mempertegas batas-batas negaranya. Tinggalah kita dengan kegalauan masalah Freeport dan Gubernur DKI.

Ini semua tidak seperti cerita sinetron di mana Si Inem pelayan buruk rupa nan licik dan Neng Marcelia majikan cantik yang baik hatinya. Bukan, bukan itu. Kita tidak sedang bicara hitam dan putih. Ini semua adalah tentang nilai-nilai yang sudah tertanam di benak masyarakat global tentang bagaimana seharusnya sebuah dunia. Lalu ketika ada kebijakan suatu negara yang bertentangan dengan nilai-nilai itu, seluruh dunia akan merasa jijik dengannya. Seperti menyentuh kotoran tadi.

Memang tidak ada aturan yang disepakati setiap negara bahwa imigran dan terutama pencari suaka harus diterima. Jadi kita tidak bisa bilang ada aturan global yang dilanggar ketika Trump melarang masuknya para imigran. Tapi masalahnya, pasca Perang Dunia II, dunia telah berkembang berdasarkan prinsip persamaan yang berujung pada paham kebebasan.

Di sinilah kebijakan Trump banyak dinilai mencederai prinsip itu. Begitu juga keputusan rakyat Inggris keluar dari Uni Eropa. Dalam konteks pergaulan dunia, keputusan-keputusan itu lebih tepat dinilai tidak etis. Berdasarkan moralitas yang sama kita juga dapat menilai bahwa tidak pada tempatnya hubungan antar bangsa dipisahkan berdasarkan etnis, agama, atau apapun.

Saat ini kita dapat dengan mudah bicara tentang semua ini karena kita tidak sedang berada di dalam lingkaran krisis.  Tidak ada PHK atau penyitaan rumah karena kredit macet, dan perebutan lapangan kerja tidak dengan para imigran.

Namun permasalahannya berbeda jika kita adalah warga Amerika atau Eropa. Beberapa tahun terakhir hidup menjadi semakin keras disana. Dalam situasi semacam itu, Cak Maslow pernah menjelaskan bahwa hidup adalah semata tentang pemenuhan kebutuhan.

Donald Trump Amerika
Infografis Donald Trump dan Teori Kebutuhan Maslow

Masalahnya kebutuhan untuk menghargai dan dihargai itu hanya bisa terjadi jika kebutuhan-kebutuhan sebelumnya terpenuhi. Kebutuhan paling dasar manusia sebenarnya tidak berbeda dengan kucing, yaitu : makan, minum dan seks. Setelah ketiganya terpenuhi, kita membutuhkan rasa aman dan terbebas dari segala bentuk ancaman. Lalu kita  butuh orang lain untuk bercengkrama atau pacaran.

Ketiga kebutuhan itu disebut Cak Maslow sebagai kebutuhan dasar. Ketiga kebutuhan itu harus terpenuhi sebelum muncul kebutuhan lanjutan. Menghargai dan dihargai serta menjadi diri sendiri adalah dua kebutuhan lanjutannya.

Yang terjadi di Amerika dan beberapa negara Eropa pasca krisis global 2008, ketiga kebutuhan dasar sudah banyak terenggut dari kehidupan masyarakat. Masalah dihargai dan menghargai etnis atau bangsa lain menjadi isu yang terpinggirkan ketika kebutuhan perut lebih mendesak dan harta benda harus diamankan. Nilai-nilai global tentang persamaan atau sejarah kebebasan hanya jadi suara sayup-sayup.

Trump dengan ide-ide radikalnya muncul untuk meyakinkan pengembalian kebutuhan-kebutuhan dasar tadi. Menciptakan lapangan-lapangan kerja, menjauhkan ancaman teror dan membatasi imigran yang merebut  pekerjaan. Demikian pula dengan para tokoh populis di negara-negara Eropa. Tekanan itu sudah tak tertahankan lagi.

Ibarat berak, kebutuhan dasar mendesak untuk dipuaskan. Sedangkan WC jumlahnya terlalu terbatas padahal kotoran sudah di ujung anus. Jika sudah begini, lebih baik para tamu kembali ke negara asalnya. Berak di rumah masing-masing. Jangan berak di Amerika