Arsene Wenger dan Soeharto itu Sama Saja

0

Tiga puluh menit setelah kekalahan Arsenal dari Liverpool dengan skor 3 -1, kegeraman saya memuncak. Makin geram ketika kejadian serupa terulang, saat melawan West Bromwich dengan skor yang sama. Beberapa waktu sebelumnya, Arsenal juga kalah dari Watford dan Chelsea.

Melihat rangkaian kekalahan itu, saya pesimis, Arsenal  bakal lolos ke Liga Champions musim depan. Apalagi, tim di bawah pelatih Arsene Wenger tersebut kedudukannya  turun ke posisi lima, setelah Manchester United berhasil menang melawan Swansea di laga tandang.

Arsenal menjadi ringkih, labil, dan tak punya mental juara. Padahal, tim ini punya pelatih berpengalaman, akademi sepakbola mumpuni dan yang tak kalah penting, mereka tim kaya! Sugih! Banyak duit! Lalu mengapa nasibnya jadi buruk seperti ini? Gooners pasti rindu akan tim kesayangannya yang pernah berjaya pada masa Thiery Henry dan kawan-kawan pada 2002 lalu.

Arsene Wenger menjadi point of interest dalam tulisan saya. Ya Wenger, sang pelatih Arsenal yang sudah belasan tahun melatih tim asal London Utara tersebut. Menurut saya, keberadaan Wenger di Arsenal mirip keberadaan Soeharto, Presiden kedua Indonesia. Kok bisa?

Pertama, dari pola kepemimpinan. Awal kepemimpinan Wenger di Arsenal, seolah-olah menjadi harapan bagi para fans untuk melihat Arsenal menjadi lebih baik. Sama halnya dengan Soeharto, yang awalnya menjadi harapan bagi masyarakat Indonesia untuk menjadikan negara ini lebih baik. Masyarakat melihat Orde Lama begitu carut-marut, saat dilanda krisis, politik maupun ekonomi. Mulai kasus G30S hingga inflasi yang melambung tinggi. Begitu pun Arsenal, sebelum dilatih Wenger, posisi Arsenal di English Premier League (EPL), super acakadut.

Saat Wenger jadi pelatih, posisi Arsenal di EPL jauh lebih stabil. Terutama delapan tahun pertama sejak aktifnya Wenger, Arsenal telah meraih 3 trofi EPL (1998, 2002, dan 2004). Spesialnya, trofi EPL yang didapatkan tahun 2004 membuat Arsenal diberi gelar ‘The Invicible!’, karena tim ini telah menyelesaikan satu musim gelaran EPL tanpa kekalahan.

Sama dengan awal-awal kepemimpinan Soeharto. Terlepas dari hal-hal kontroversialnya, politik dalam negeri lebih stabil dan pembangunan ekonomi jauh lebih pesat di banding Orde Lama. Soeharto berhasil meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia dari defisit 2,25% pada 1963 menjadi surplus 12% pada 1969.

Kedua, dilihat dari stabilitas. Selama 32 tahun menjabat, pertumbuhan ekonomi Indonesia meningkat dan konsisten dengan rata-rata 7,2% per tahun. Mirip dengan Wenger, mulai 1995-2017, Arsenal bisa konsisten di empat besar EPL.

Ketiga, Wenger dan Soeharto memiliki dinamika kepimpinan yang sama. Soeharto memimpin Indonesia selama 32 tahun. Wenger, 22 tahun dan masih berlangsung. Kepemimpinan Soeharto berakhir karena didesak banyak pihak, terutama para aktivis pada 1998 yang mengatasnamakan pro-demokrasi. Wenger memang belum lengser seperti Soeharto, tapi sudah banyak fans yang menekan Wenger untuk lengser. Ketik saja kata kunci  “wengerout”, untuk menelusuri kabarnya.

Tiga peta persamaan ini mungkin menimbulkan pertanyaan, emang kenapa kalau mereka sama? Apa yang salah dengan kesamaan Soeharto dan Wenger?

Begini,

sebagai orang Indonesia, kita tidak patut membenci bangsa sendiri. Sebagian besar jalan hidup kita terjadi di negeri tercinta ini, mulai lahir, besar, tumbuh, hingga mencari uang dan jodoh. Namun, siklus hidup yang seakan stabil itu perlu kita imbangi dengan nalar kritis kita. Kenapa?

Karena pada nyatanya, banyak urusan hajat hidup kita yang dipengaruhi dan diatur negara, seperti harga kebutuhan bahan pokok, bahan bakar minyak, tuntutan membayar pajak dan sebagainya. Kebijakan tersebut akhirnya menyulitkan kita sebagai rakyat. Oleh karena itu, sebagai warga, kita dituntut tetap kritis pada kebijakan dan melakukan sesuatu harus tetap ada dalam konteks bernegara.

Begitu juga ketika kita mencintai dan mengidolakan Arsenal. Ngefans dengan Arsenal, membuat kita berkorban banyak hal. Korban waktu malam minggu, korban uang, sampai korban perasaan. Dari pengorbanan itulah, kita sebagai fans fanatik berhak mendapat sesuatu. Maka kita tidak boleh apatis ketika Arsenal tidak kunjung menjuarai trofi-trofi prestisius.

Dalam bernegara, harus ada orientasi mensejahterakan warganya. Kalau ada negara tapi warganya tidak sejahtera, pasti terjadi gejolak. Nah, makna sejahtera dalam mengidolakan klub adalah di saat para fans Arsenal bisa melihat klubnya menjadi juara dengan trofi-trofi prestisius, seperti EPL atau Liga Champions

Hari ini fans Arsenal dalam kondisi tidak sejahtera. Bergejolak. Saya yakin, mereka dan saya, tidak bangga-bangga amat telah meraih juara FA cup dan Community Shield dua kali berturut-turut pada 2014 dan 2015. Meski kita lega telah memutus rantai puasa gelar dalam satu dekade.

Tapi sekali lagi, tim kaya dengan fasilitas yang memadai seperti Arsenal harusnya bisa mendapatkan lebih dari itu. Jem Maidment dalam bukunya The Official Arsenal Encyclopedia (2006) bilang, Arsenal adalah tim terkaya nomor 4 di dunia. Bila disamakan dengan Indonesia, negara ini pun punya sumber daya alam (SDA) yang melimpah. Kaya raya! Gemah ripah loh jinawi.

Pendapatan per-kapita Indonesia selalu meningkat secara statistik pada Orde Baru, tapi realita sosialnya masih sangat banyak masyarakat yang miskin. Bagaimana bisa negara kaya tetapi masyarakatnya masih banyak yang miskin? Pasti ada yang tidak beres dengan pemerintahan era Soeharto. Ujungnya, terjadilah gejolak pada 1998.

Dan saya sedang menunggu Momentum 1998 versi Arsenal

Kenapa saya menunggu momentum tersebut? Saya mencintai Arsenal, mulai tahun 1997. Saya ingin melihat Arsenal selalu sukses. Tapi, merawat cinta itu harus dengan perhitungan dan hal-hal yang rasional. Maka salah jika sikap kritis dari fans adalah bentuk sikap yang tidak loyal. Salah besar! Saya juga ingin Indonesia dan warganya sejahtera. Dan saya memaknainya dengan memberikan kritik.

Sudah terlalu lama Arsene Wenger bersama Arsenal. Saya tetap selalu bangga dengan capaiannya, terutama ‘The Invicible!’ tahun 2004. Tapi kondisinya kini jauh berbeda. Arsenal yang kaya dan besar, tapi permainannya jadi mirip tim-tim di Europa League. Saya rasa tidak ada masalah di manajerial, karena Arsenal tambah kaya dari ke hari. Masalah yang perlu digarisbawahi pada racikan pelatih pada tim dan strategi.

Saya sering malu dengan permainan Arsenal, tapi saya tidak akan pernah pindah dukungan ke klub lain. Sama seperti saya sering malu dengan polah politisi Indonesia yang kerap mempermainkan hidup warganya. Namun, tak lantas membuat saya pindah warga negara.

Bagi orang-orang seperti saya, Arsenal dan Indonesia merupakan anugerah. Akhirnya, victoria concordia crescit, kemenangan datang dari keharmonisan. Harmonis antara klub dan pemain, pemain dan fans, fans dan klub. Once a gooner, always a gonner!

Barangkali anda juga suka