Desa Karang Setan: Katemi vs Juragan Bisman

0

“Santet itu adalah isu untuk membunuh orang yang tidak kusukai” 

Juragan Bisman

Film horror ialah wahana penciptaan budaya takut hingga akhirnya ada template saat kita menyebut horror dan rasa takut identik dengan kegelapan, ilmu hitam, atau makhluk halus bergentayangan. Terlepas dari kenyataan film horror sebagai bentuk komersialisasi rasa takut, saya justru mengamati dalam film horror terbersit proses penciptaan siapa yang harus ditakuti dan mekanisme macam apa yang ditempuh untuk mengakhiri ketakutan tersebut.

Welnu, menara panopticon pengetahuan negara akan dibutuhkan untuk mengawasi, mengkategorisasi, kalau perlu “menormalkan”. Sebagai salah satu puncak kemegahan peradaban horror 1980-an, film Santet memercikkan beberapa kata kunci mulai kepada siapa warga (negara) harus takut, perempuan yang belajar ilmu hitam (Suzanna), preman desa yang licik dan bertato (Juragan Bisman), serta keliaran arak-arakan massa.

Agaknya catatan Clifford Geertz (1983) bisa memberikan contoh pendakwaan tukang santet atau seseorang yang dinyana memiliki kekuatan gaib. Selayaknya gosip maka cara beroperasinya lewat rasan-rasan dan bergerak liar melampaui lembaga formal dan informal, bisa di kantor kepala desa, pasar, atau pos ronda sekalipun.

Tuduhan bahwa seseorang melakukan sihir merupakan hal yang cukup umum, tetapi itu tak pernah dikatakan secara terbuka dan langsung dikatakan secara terbuka dan langsung didepan orang yang bersangkutan, tuduhan itu hanya dibisikkan kepada orang-orang lain sebagai desas-desus jahat atau didiskusikan secara abstrak sebagai hipotesa untuk menerangkan kelakuan-kelakuan yang aneh – Clifford Geertz

Siapa yang menyebul pertama tuduhan seperti ini? Kita bisa ambil beberapa contoh perburuan tukang sihir di Eropa pra-Pencerahan yang akrab dengan moral panic. Rasa panik dan cemas akan jarak kelas sosial yang tergerus. Teruntuk kelas yang mapan, kecemasan ini tidak hanya mewujud dalam hubungan kelas an sich namun pada cara menafsir “kriminal” dan siapa yang patut ditakuti . Waktu itu kekuasaan orang dalam akhirat berikut kaum tuan tanah mulai keropos akibat ilmu pengetahuan yang bikin melek dan kaum perempuan mulai sadar stelsel patriarkis musti dijebol. Walhasil, isu tukang sihir dijadikan pengalihan.

Kehadiran preman desa yang mengganggu ketertiban, meresahkan warga, dan merongrong kekuasaan aparat negara (kepala desa dan hansip), disimbolkan mulai dari gerombolan, gondrong, berbuat onar, bertato, zoom camera orang yang merokok, suka mengumbar kata-kata kasar. Uniknya, dua kelompok ini (preman dan dukun santet) yang sering dianggap aneh dan ditafsir kriminal dihadirkan secara bersamaan dan terlibat pertarungan hebat di layar kaca horror 1980-an. Kriminal, bagi antropolog James Siegel (2000) ialah kata pengganti bagi komunis sebagai ancaman Negara. Namun, kelihatannya wacana “perempuan pelaku kegiatan mistik” sebagai ekses dari desa terisolir yang percaya klenik dan yakin bahwa aturan baku perempuan desa itu lugu dan bodoh, perlu ditambahkan.Artinya sangat sah bagi negara melalui film untuk mendeteksi siapa kriminal, pelanggar kodrat, orang aneh berikut mekanisme penjinakan bagi si pencipta keresahan warga ini.

Pada film-film yang dibintangi Suzanna, Sang Ratu dalam Imperium Horror Indonesia. Saya menjumpai beberapa titik simpul yang merambat. Pertama, roh halus berbasis “kearifan lokal”, mulai Kuntilanak, Sundel Bolong, Nyi Roro Kidul, atau perempuan (desa) yang semula “lugu”, menjadi aktif saat memiliki “ilmu hitam”.Kedua, karakternya masih dualistik desa vs kota, budaya agama (modern) vs klenik.

Ketiga, desa yang kolot terisolir, penduduk desa bersahaja, corak produksi pertanian atau nelayan. Keempat, alur yang meletakkan hantu sebagai pemain utama, preman desa, kemudian perempuan yang membalas dendam setelah direstui kekuatan halus, beraliansi dengan kaum agama, aparat negara untuk memberantas penyakit masyarakat mulai dari premanisme, perdagangan wanita, penyelundupan obat bius, kembali ke masyarakat normal, dan sekian.

Keberadaan film horror 1980-an ini, seperti kata Khrisna Sen (1994) selain persinggungan tema seks, mistis, dan tokoh agama, berjalan pula ide moralitas kebangsaan, kedisplinan nasional, ketakwaan terhadap Tuhan YME. Sebagaimana termaktub dalam Kode Etik Produksi Film Indonesia yang dikomandoi Menteri Penerangan Ali Murtopo saat itu. Setelah melihat film bergaya horror 1980-an, bisa jadi praktik wacana ini menjadi mekanisme standar untuk menetralisir sejumlah anomali yang “menghambat” pembangunan. Apalagi, disaat yang bersamaan, ritual memanggil hantu komunis sedang berlangsung melalui produksi film Pengkhianatan G30S/PKI di tahun 1980.

Untuk menyegarkan kembali ingatan, saya buka yutub yang mengupload film produksi tahun 1988 ini. Adegan film mengambil setting sebuah desa fiktif terisolir bernama Karang Setan. Kelap-kelip hiburan malam dan lantunan lagu Nasib Kuli menghiasi bar bernama Bar Bisman. Juragan yang terkadang memakai Topi Sombrero ala Meksiko ini memiliki istri yang sakit-sakitan. Bukannya mengobati, ia malah meracuni istri hingga ia mati.

Berlagak spin doctor, dipilinlah isu kematian istrinya sebagai akibat praktik santet. Ia menuding pondok tempat ustadz Sarma sebagai “kyai santet”. Komando diambil dan giringan massa mengarah ke pondok mereka. Katemi, sang istri ustadz, ketakutan dan berlari masuk ke dalam gua.Ia berjumpa Nyi Angker. Perjumpaan inilah yang memantapkan kobaran api dendam Katemi, hingga melibatkan dirinya pada serangkaian ritus mencapai gelar Wanita Santet.

Juragan Bisman semakin merajalela. Kekuasaan aparatus desa terdesak oleh pengerahan massa pengasong isu santet dari si Juragan, menjerat nelayan dengan utang, bisnis maksiat, dan perdagangan wanita. Hingga muncullah lakon-nya yang juga dinanti-nanti. Dialah Ahmad Pramuja (diperankan Jeffry Waworuntu). Ahmad diceritakan adalah anak kepala desa yang mendalami ilmu agama dan saat itu sedang pulang ke kampungnya yang penuh maksiat. Dia mulai ikut prihatin dengan pikiran, tindakan, ucapan Juragan Bisman, tanpa terkecuali keyakinan klenik yang masih dianut oleh warga Desa Karang Setan.

Tidak puas dengan aksi pukul kaleng isu santet di desa Karang Setan, maka target Bisman berikutnya ialah nyawa Pak Kepala Desa. Diutuslah dua centengnya untuk meracuni Pak Markum. Bisa ditebak, Juragan Bisman berhasil merebut tampuk kepemimpinan tingkat desa meskipun disetujui hanya oleh centengnya.

Aksi santet dari Katemi tidak main-main mulai dari mengirim kodok ke celana, mengontrol ular di dalam perut orang, hingga belut yang bisa keluar dari telinga. Saat si Juragan bertemu langsung dengan Katemi, mulut si perempuan komat-kamit dan sontak Juragan Bisman menjadi asu. Juragan Bisman berteriak ngampun-ngampun, namun dijawab oleh transfer bola api yang membakar tubuhnya.

Ahmad Pramuja merasa kasihan, ia menganggap Katemi bukan perempuan jahat. Setelah puas menasehati Katemi, perihal ilmu setan yang tidak sesuai ajaran agama. Ahmad Pramuja menutup kalimatnya dengan sangat bijak.

“Kembalilah pula kau ke masyarakatmu, warga desa pasti akan menerimamu, aku akan membantumu”.

Tidak rela Katemi bakal protol sebagai muridnya, maka Nyi Angker mengajak Achmad Pramuja untuk adu ilmu. Lalu bisa ditebak, Nyi Angker ditaklukan.

***

Film Santet mewakili template film horror 1980-an. Tak terkecuali, 16 film lainnya yang juga dibintangi oleh aktris bernama lengkap Suzzanna Martha Frederika van Osch ini. Setahun berselang, Santet jilid II dibuat dan masih disutradai oleh Sisworo Gautama Putra mengambil tema manusia jadi-jadian. Kali ini Katemi yang “dikendalikan” Nyi Loreng memiliki kemampuan untuk menjadi harimau dan berhadapan dengan anaknya Juragan Bisman bernama Brahma. Lagi-lagi, Katemi menang serta ikut berpartisipasi dalam pemberantasan obat-obatan terlarang di desa Karang Setan.

Saya melihat film Santet ini tak lain adalah pantulan siapa yang harus ditakuti oleh warga tingkat desa melalui praktik wacana perempuan yang dipengaruhi “ilmu hitam”, preman desa merajalela, desa terisolir yang kolot dan percaya klenik hingga berakibat pembangunan tidak lancar. En toch, gagasan tentang ke-agama-an sebagai penetral ilmu hitam dan nalar klenik orang desa turut menyelinap.

Mungkin saja agama (resmi negara) cocok dengan “ruang” negara dan pembangunan daripada klenik. Tahun 1990-an dan 2000-an, saat desa terisolir, klenik dan preman beres ditaklukan atau warganya sudah“ke kota”, mulai terjadi fenomena unik yaitu layar kaca dipenuhi urbanisasi roh halus dan ilmu hitam bahkan dipraktikkan (diyakini) warga kota. Disaat itu, kita mungkin bisa mesem, ternyata orang kota tidak kalah dengan orang desa dalam dunia perklenikan.

Akhirul kalam, buat Mbak Suzanna saya ucapkan Selamat Hari Film Nasional dari penggemarmu!

Barangkali anda juga suka