Corat-Coret Hingga Selebaran: Adu Urat Syaraf Semasa Revolusi

Oleh: Haryo Kunto Wibisono

adu urat syaraf

Ilustrator/Rizqi Ramadhani Ali

“Kemerdekaan itu tampaknya seperti perkawinan. Siapakah yang menunggu sampai gajinya naik sampai, katakanlah 500 gulden, dan menunggu sampai rumah yang dibangunnya selesai? Pertama-tama kawin dahulu! Urusan rumah itu akan dapat dilakukan dengan baik dengan kerjasama pasangan yang kawin itu!”

Kisah berdirinya Republik Indonesia memang unik. Setelah Proklamasi Kemerdekaan 1945 yang sangat sederhana, maka dimulailah perjuangan sebenarnya yaitu mempertahankan proklamasi kemerdekaan.

Bung Karno pernah menganalogikan proklamasi kemerdekaan seperti perkawinan. “Kemerdekaan itu tampaknya seperti perkawinan. Siapakah yang menunggu sampai gajinya naik sampai, katakanlah 500 gulden, dan menunggu sampai rumah yang dibangunnya selesai? Pertama-tama kawin dahulu! Urusan rumah itu akan dapat dilakukan dengan baik dengan kerjasama pasangan yang kawin itu!”, begitu kata Bung Karno. Mungkin keyakinan semacam ini pula yang dimiliki kaum muda kala ini yang mendambakan nikah muda. Yang penting akad dulu toh dek!

Selanjutnya, tinggal mengoptimalkan segala daya dan upaya untuk melindungi biduk perkawinan yang dalam konteks ini adalah kemerdekaan. Mulai adu bribik mertua di meja diplomatik, kepiawaian di arena militer, hingga yang terakhir perang urat syaraf. Perang yang senjatanya tentu saja menggunakan media komunikasi. Targetnya, psikologi massa dan opini publik demi terjaganya keyakinan bahwa Republik Indonesia layak untuk dipertahankan.

Dalam dokumen Djawatan Penerangan Republik Indonesia, Propinsi Djawa Timur. Tahun 1953, tertulis bahwa perang urat syaraf ditujukan terhadap empat golongan, antara lain sebagai berikut.

  1. Pemeliharaan semangat rakyat dibelakang garis pertempuran guna menyokong moral para pejuang digaris terdepan.
  2. Tentara Kerajaan dan Rakyat Belanda guna menginsafkan akan kelirunya perjuangan mereka.
  3. Barisan Cakra (pasukan Madura bentukan Belanda) dan Rakyat Madura guna memelihara semangat Republik Indonesia sebab Madura sejak tahun 1946 telah dapat diduduki oleh Tentara Belanda.
  4. Rakyat daerah pendudukan Belanda.

***

Setelah Proklamasi Kemerdekaan sebenarnya situasi masih berlangsung anomie alias kosong. Meski berita Proklamasi 17 Agustus 1945 sudah beredar melalui radio, selebaran-selebaran gelap, atau mungkin obroalan bapak-bapak di masjid yang lupa mematikan Toa, massa-rakyat masih belum sadar negaranya sudah merdeka sehingga untuk mengibarkan bendera Merah Putih harus malu-malu.

Prajurit Jepang yang masih berkuasa bahkan tidak tahu bahwa negaranya sudah kalah perang dan Indonesia sudah menyatakan kemerdekaan. Maka, sejumlah kelompok pemuda mengambil inisiatif untuk menyiarkan berita gembira ini dengan corat-coret revolusioner yang menghiasi kawasan perkotaan, mulai dari Bandung, Jakarta, Malang, Surabaya, dan Yogyakarta. Bahasa yang dipakai juga beragam. Ada yang memakai bahasa Inggris, bahasa Indonesia hingga bahasa daerah seperti Jawa atau Madura.

Khusus penggunaan bahasa Inggris, menurut sejarawan Frances Gouda (2008) adalah sarana untuk berhubungan dengan Perserikatan Bangsa Bangsa dan Amerika Serikat agar mewanti-wanti kedatangan tentara Belanda yang hendak berkuasa kembali di Indonesia. Sehingga, tidak mengherankan kalimat yang dipakai mengingatkan dengan naskah Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat 1776.  “Orang-orang bahkan antusias menuliskan kutipan-kutipan Jefferson atau pidato-pidato Lincoln di spanduk-spanduk dan tembok berharap coretan mereka bisa menarik simpati pasukan Amerika Serikat yang memang ditunggu kedatangannya”, tulis Frances Gouda.

Hal yang sama dituturkan oleh Ketut Tantri dalam memoar berjudul Revolusi di Nusa Damai (1964). Ia mengambil saripati sejarah Amerika Serikat dan Inggris, serta beberapa pernyataan Jefferson, Thomas Paine, George Washington untuk dituangkan ke spanduk dan poster. Perempuan Amerika Serikat yang turut serta dalam Perang Surabaya, 10 November 1945 ini bahkan mengaku pernah menuliskan kalimat bertinta merah berbunyi “Abraham Lincoln walk again in Indonesia”. “Tentunya untuk mengingatkan Inggris kepada perbuatan Lincoln yang memerdekakan budak-budaknya. Pasukan Gerilya (Indonesia) senang sekali”, tulis pemilik nama asli Muriel Stuart Walker ini.

Dari hasil tangkapan fotografer John Florea dari LIFE Magazine, terdapat gerbong kereta api berbunyi “All People Are Created Equal”, “Better To Hell Than To Be Colonies”, “Justice and Freedom are God’s Will”. “2019GANTIPENJAJAH”

Di tempat lain, ada tembok dan fasilitas publik, yang memuat seruan, seperti “Teroes Berjoeang Oentoek Keselamatan Bersama, “Djika Belanda Tidak Suka Didjadjah Djangan Mendjadjah”, “Indonesia Tetap Merdeka, Down With Imperialism”, “Freedom is the Glory of Any Nations, Indonesia for Indonesians”.  Sementara di beberapa pabrik, tertulis beberapa persiapan bumi hangus yang berbunyi seperti ini “Djika Belanda Datang Kesini Maka Hantjurlah Pabrik ini. Persiapan Bumi-Hangus”.

Alat yang dipakai para pejuang republik sangat sederhana. Berbeda dengan musuh yang sudah sedia kertas dan alat perekat, pejuang republik hanya menggunakan peralatan seadanya. “Dicarilah kapur gamping, diputihkan sebagian tembok yang hendak ditulisi, ditunggu sebentar dan kemudian terpampang corat-coret yang akan menggerakkan amarah tentara Belanda”, tulis Asmadi seorang prajurit TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar) dalam buku bernama Sangkur dan Pena (1980). Terkadang, para serdadu republik sangat gembira dan menepuk dada jika ada kiriman mortir sebagai tanda pihak musuh sudah naik pitam akibat aksi balas membalas coret coret. Kapur gamping dibalas mortir!

Untuk menandingi selebaran yang mencitrakan pejuang kemerdekaan sebagai bandit, pengacau, atau seperti yang pernah dikatakan oleh tentara Inggris saat Perang Surabaya yaitu serdadu kelas kambing maka pejuang kemerdekaan pun memberi selebaran yang tidak kalah menariknya. Selebaran ini banyak disebar saat para yang pejuang sedang berkunjung ke suatu wilayah atau disebarkan lewat pesawat, ada yang disertai nama si penulis (biasanya kelompok) namun ada pula yang memilih anonim.

Selebaran berisi kalimat sarkastik siap memuntahkan sebutan kaum pengkhianat republik kepada penduduk yang bekerja sama dengan Belanda. Ada pula selebaran yang menyerukan supaya rakyat Indonesia memboikot kehadiran Belanda di wilayahnya masing-masing. Seperti yang tertera dalam selebaran yang dirilis oleh Pertahanan Rakjat Indonesia seperti ini ”..Rakjat Indonesia! Pedagang! Tani! Boeroeh! Pendoedoek! Boikotlah Belanda! Dengan segala tjara! Dengan segala oesaha! Setiap waktoe dan dimana sadja! Berontak Teroes!!..”. Kemudian, ada pula, selebaran berbahasa Jawa yang memberitahukan keputusan Dewan Keamanan, Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk gencatan senjata dan ajakan agar penduduk Indonesia yang semula berpihak Belanda kembali ke Republik Indonesia.

***

Salah satu keberhasilan perang urat syaraf ini adalah menyerahnya sejumlah tentara Belanda di Malang, pada tahun 1947 untuk kemudian diserahkan kepada Pemerintahan Pusat di Yogyakarta.  Perang urat syaraf ini pun berhasil menangkis cibiran media internasional yang melihat perjuangan kemerdekaan Indonesia adalah aksi gerakan pengacau dan kriminalitas sehingga dianggap belum siap menjadi negara merdeka seutuhnya.

Dan yang tidak kalah pentingnya, imbas dari adu urat syaraf ini memperluas cakupan aktor perjuangan kemerdekaan, yang tidak hanya dibatasi kaum terpelajar, namun golongan pedagang, petani, pemuda, buruh, hingga para preman. Semua kelompok diliputi udara kemerdekaan dan merasa wajib terlibat sebagai bangsa dalam membuktikan Proklamasi 17 Agustus 1945 bukanlah hadiah perpisahan dari Jepang. Seperti yang dicatat oleh sejarawan Anton Lucas (1989) bahwa pengertian merdeka dan berita proklamasi tidak dapat dipisahkan. “Rakyat merasakan ada keistimewaan mengucapkan pekik Merdeka”, tulis Anton Lucas.

Corat-Coret Jaman Now
Haryo Kunto Wibisono
Pencinta beragam tahu : tahu bulat, tahu bunting, tahu gejrot, tahu jeletot, hingga tahu isi.