Aturan Kos, dan Larangan Mencintai Anjing

Oleh: Rendy a.k.a Little Boy

anak kos dan larangan membawa anjing

Ilustrator/Oky Dwi Prasetyo

Tapi aturan yang memberatkan saya adalah larangan membawa anjing. Njing. Seperti aturan dilarang menggebet anak ibu kos, aturan ini tidak tertulis.

Hey kawanku sesama anak rantau, yang sedang bermetamorfose menjadi calon mesin penggerak pertumbuhan ekonomi dan kelas menengah ngehek Indo. Kebanyakan dari kita barangkali tinggal di Jakarta, Surabaya, Jogja, Malang, Bandung, Makassar atau kota lainnya di mana banyak perguruan tinggi berada.

Kemudian kita diasosiasikan dengan sebutan, “Anak Kos”, yang identik dengan pemburu promo kedai kopi dan toko buku internasyenel, starbak a la a la dan Books and Bey0nd yang menyediakan discount bagi anak kos. Cukup dengan menunjukan kartu identitas mahasiswa.

Kehidupan kita yang lain, diidentikan dengan Warkop, Warteg dan Ojol. Eksistensinya menghasilkan gula-gula ekonomi baru, macam di kawasan Soehat di Malang atau di kawasan Margonda di Depok, di mana berjejer kafe yang instagramable. Ya ini bunga-bunga anak kos. Tapi, ada masalah yang nyempil bak upil namun berarti besar bagi sebagian dari kita, yaitu aturan kosan.

Sudah rahasia umum, kalau aturan kosan biasanya dilarang membawa pasangan ke dalam kamar (ini merupakan salah satu barier pertumbuhan tingkat hunian kosan menurun sobat misquen yang tak mampu sewa kamar hotel?). Dilarang membawa minuman keras, dilarang membawa narkoba, dilarang membawa temen menginap. Bahkan, juga ada aturan yang tak tertulis: “dilarang menggebet anak ibu kos”.

Saya tidak keberatan dengan semua aturan itu. Apalagi hanya sekadar larangan membawa pacar ke kamar. Ini justru mendukung kondisi saya yang memilih hidup menyendiri untuk saat ini, Mblo.

Tapi aturan yang memberatkan saya adalah larangan membawa anjing. Njing. Seperti aturan dilarang menggebet anak ibu kos, aturan dilarang membawa anjing juga tidak tertulis.

Berhari-hari ini, saya keliling Depok untuk mencari kosan yang mengizinkan membawa anjing kesayangan, namun naas, tak satu pun didapat. Hemmm, entah kenapa saya merasa bahwa pemilik kosan sudah melakukan koalisi anti-hewan peliharaan bahkan sebelum koalisi Jokowi-Ma’ruf Amin dan Prabowo-Sandi diumumkan.

Padahal, di aturan yang mereka sodorkan, tidak terdapat larangan tertulis bahwa penghuni kosan  dilarang memelihara anjing. Ini nih sebuah konvensi tingkat tinggi di antara bos-bos kosan.

Dari sini kelihatan sih, kek mana kosan bermetamorfose menjadi camp dikursus anti toleransi pada generasi muda kita. Ya jangan heran dengan ulah kelas menengah yang sedang ngetren dengan gerakan hijrahnya.

Oke, mungkin sebagian besar alasan larangan tak tertulis tersebut dikarenakan mengganggu penghuni kosan lain. Bahkan, rumah kontrakan pun juga memberikan alasan yang serupa. Takut dengan air liurnya yang mengarah pada klaim larangan dalam agama tertentu.

Seberapa penting sih hal ini untuk diperdebatkan? Ya kalau publik saja bisa dengan serius membuktikan tebal mana tempe dengan kartu ATM. Kita juga boleh dong memikirkan apa yang dekat dengan kita: Kos dan Hal-hal yang tak… Halah!

Saya jadi ingat perbincangan dengan senior Fakultas Sastra UI angkatan 61. Katanya, dulu anak sastra UI punya semangat buku, pesta dan cinta dalam dinding kos mereka. Itu yang tidak bisa kita lihat sekarang. Ya bijimana lagi, belajar mencintai anjing saja kita tidak boleh. Sudahlah kita memilih untuk berkutat dengan Gadget, dan Cafe, sisanya untuk Drama Korea.

Ini gak lebay, kalau apa yang terjadi di Indonesia belakangan ini, khususnya generasi menengah terdidiknya yang kurang toleran. Salah satunya disebabkan penanaman diskursus anti hewan peliharaan di kosan.

Kosan sekarang bak kamp konsentrasi individualitas yang paripurna, kosan tak mengajarkan saling menerima, kehidupan komunal a la – a la gerakan counter culture mahasiswa generasi 70-an sampai 80-an bukan lagi nafas kehidupan anak kos. Mereka sedang menikmati candu drama korea dengan edisi percintaan yang tak ada akhirnya sebab mencintai makhluk hidup lainnya seperti anjing, tak dibolehkan.

Dari keluhan tentang anjing dan aturan kosan yang saya rasakan, akhirnya satu hipotesa awal masyarakat kita saat ini dapat tercapai, bahwa intoleransi kelas menengah terdidik lahir dari behaviorsme di kosan tercinta. Baiklah, agar tidak sia-sia fenomena ini bisa diajukan menjadi penelitian skripsi. Setidaknya ini akan membantu para pembaca yang berjuang mengakhiri dilema menjadi penghuni kosan. Segeralah ambil kesempatan ini!

Rendy a.k.a Little Boy
Lulusan UI tapi tidak lulus ujian anak kos. Masih kos di pinggiran ibu kota, dan menyambung nasib dengan menjadi budak korporasi multinasyenel sembari membersihkan kamar mandi kosan ketika weekend tiba.