Di Indonesia, Komunisme Tak Bisa ‘Menggoyang’ Syahrini

Oleh: Muhamad Erza Wansyah

Syahrini dan Komunisme

Ilustrator/Rizqi Ramadhani Ali

Patutnya pemerintah, aparat dan warganet merapatkan barisan ke kubu Syahrini, demi menyelamatkan Indonesia dari komunisme!

Saya punya teman, sebut saja Pisang. Hidup dia selalu dipenuhi rasa curiga terhadap perempuan. Kecurigaan itu terus membesar, sampai ia khawatir kalau-kalau dirinya sedang mengalami gejala paranoid terhadap perempuan.

Alih-alih memikirkan solusi paranoid pada Pisang yang sudah saya kenal delapan tahun lamanya itu, saya justru terngiang kenangan tentang bagaimana negara Indonesia pernah dihebohkan oleh isu komunisme. “Komunisme bangkit lagi!” begitu isi timeline media sosial yang saya miliki.

Baik Pisang, maupun Indonesia, menurut saya sama-sama terlampau paranoid terhadap sesuatu yang mereka hadapi. Pisang terlalu curiga terhadap perempuan, Indonesia kelewat curiga terhadap komunisme.

Kecurigaan Pisang disebabkan oleh pengalaman masa lalu tentang bagaimana perempuan melukainya. Sementara Indonesia, disebabkan oleh pengalaman masa lalu tentang bagaimana para penganut komunis dilukainya melukainya.

Baiknya Pisang tak perlu kelewat curiga terhadap perempuan. Pengalaman pilunya itu tak bisa begitu saja digeneralisasi. Label “bajingan” pada perempuan yang melekat di mantannya tak bisa serta-merta dilekatkan pula kepada perempuan-perempuan lain. Apalagi “hijrah” juga sudah menjadi tren saat ini. Pastinya, tren positif itu akan membuat jumlah perempuan-perempuan yang berhati mulia bertambah.

Pun begitu dengan Indonesia. Sekalipun gembar-gembor komunisme katanya kian gencar, pemerintah, aparat, atau segenap alumni 212, tidak perlu merasa curiga dengannya. Terlebih, selama Syahrini masih kerap mencari sensasi.

Jujur saja, masyarakat Indonesia, terutama mereka-mereka pengguna teknologi digital, masih lebih senang memperbincangkan Syahrini, dibanding komunisme. Itu berarti, daya tarik Syahrini jauh lebih besar daripada komunisme.

Saya berbicara tidak berdasarkan asumsi belaka. Faktanya, di dunia maya, perbincangan yang mengandung kata Syahrini memang jauh lebih banyak dibandingkan perbincangan yang mengandung kata komunisme, atau bahkan komunis.

Terdapat sebuah tools yang membantu saya untuk menemukan fakta tersebut. Tools itu dapat merekapitulasi kata-kata yang selama ini menjadi perbincangan pada forum-forum komunikasi di internet.

Nah, dari riset kecil-kecilan yang saya lakukan itulah saya mendapati bahwa sepanjang tahun 2018, rata-rata kata “Syahrini” muncul 989 kali dalam sebulan di forum komunikasi berbahasa Indonesia semacam Kaskus, Detik Forum, dan lain-lain. Itu berarti, total kata “Syahrini” muncul sebanyak 8,674 kali, terhitung sejak 1 Januari 2018 hingga tulisan ini diterbitkan.

Dalam rentang waktu dan milis-milis yang sama, kata “komunisme” hanya muncul 183 kali dalam sebulan dan kata “komunis” muncul sebanyak 709 kali. Itu berarti, sepanjang tahun 2018, masing-masing kata tersebut muncul sebanyak 1,462 kali untuk “komunisme” dan 6,380 kali untuk “komunis”. Sekalipun diakumulasikan, kata “komunis” dan “komunisme” masih belum bisa menandingi kata “Syahrini”.

Begitu pun dengan tren yang berlaku di masyarakat. Kali ini, saya menggunakan tools Google Trends, yang biasa digunakan untuk mengetahui apa-apa yang sedang menarik perhatian publik dunia maya dalam kurun waktu tertentu, menurut Google.

Terlepas dari terbatasnya pengetahuan saya mengenai alogaritma Google Trend, saya menemukan bahwa minat masyarakat untuk menelusuri kata kunci “Syahrini”, masih jauh lebih banyak dibandingkan dengan kata kunci “Komunisme” ataupun “Komunis”. Kamu bisa melihatnya di grafik ini.


Tanpa perlu dijelaskan, Google Trend telah menunjukkan apa yang saya maksud. Minat masyarakat sepanjang tahun 2018 untuk melakukan penelusuran berkata-kunci Syahrini, jauh di atas minat masyarakat untuk menelusuri mesin pencari dengan kata kunci Komunisme dan Komunis.

Dari skala 0-100, skor untuk minat penelusuran kata “Syahrini” adalah 32. Berbanding terbalik dengan penelusuran tentang “komunis” dan “komunisme” yang secara berturut-turut rata-rata berjumlah 5 dan 2. Lantas, dengan data-data demikian, bukan hal berlebihan apabila mengatakan bahwa Syahrini dapat menyelematkan bangsa Indonesia selama ia masih gemar membuat sensasi.

Maka pemerintah dan aparat, atau mereka-mereka yang takut akan kebangkitan komunisme di Indonesia, bisa segera merapatkan barisan ke kubu Syahrini. Pun dengan warganet, yang lebih senang berkomentar asal-asalan dibandingkan menulis di Sediksi. Dukung Syahrini untuk terus membuat sensasi.

Syahrini Mengancam Pancasila?

Saya sangsi, apakah aparat akan benar-benar melindungi Syahrini? Secara, hasil riset santai Sediksi, melalui akun official IG Sediksi dan Omahdiksi menghasilkan bahwa Syahrini lebih banyak diperbincangkan daripada Pancasila. Selama kurang lebih lima jam, saya mencoba mengajukan polling kepada followers akun Omah Diksi dan Sediksi.

Bunyi pertanyaannya: “Menurutmu, apa yang paling banyak diperbincangkan orang?” Sebagaimana fitur dari IG yang hanya bisa membuat dua opsi, maka hanya ada dua opsi yang bisa saya tawarkan. Pertama, Pancasila. Kedua, Syahrini. Hasilnya, sebagian besar memilih Syahrini, dibandingkan Pancasila.

Dari dua akun tersebut, irisan hanya berjumlah dua orang. Itu pun masing-masing memiliki jawaban yang berbeda, satu orang menjawab Syahrini, satunya lagi menjawab Pancasila. Pada akun Omah Diksi sendiri, perbandingan jawaban antara keduanya 42% untuk Pancasila dan 58% untuk Syahrini.

Survei di Sediksi pun, menghasilkan jawaban serupa. Namun, dengan selisih yang lebih jauh. Hasilnya, 27% pemilih menjawab Pancasila, 73% sisanya menjawab Syahrini. Itu berarti, survei dari kedua akun (dengan meleburkan 2 orang yang memberikan jawaban untuk kedua akun), menghasilkan angka 33% untuk Pancasila dan 67 persen untuk Syahrini.

Menggunakan logika yang sama dengan bagaimana Syahrini dapat menyelamatkan Indonesia dari gempuran isu komunisme. Maka, andai kata survei Sediksi tentang anggapan orang-orang bahwa Syahrini lebih populer daripada Pancasila itu benar, itu berarti Syahrini lebih mengancam Pancasila. Sebegitu berbahaya kah Syahrini?

Tenang saja, karena nyatanya survei lima jam melalui IG yang dilakukan Sediksi itu hasilnya bertolak belakang dengan riset kecil-kecilan yang juga saya gunakan untuk mengukur sejauh mana Syahrini dan Komunisme dibicarakan di forum-forum komunikasi dunia maya.

Tools pertama yang saya gunakan, menyebutkan bahwa kata “Pancasila” disebutkan sebanyak 1,156 kali dalam sebulan dan total kata-kata itu disebutkan dalam forum-forum komunikasi dunia maya, mencapai 10.406 kali. Jumlah dapat dipastikan, mengalahkan penyebutan kata Syahrini (989 dan 8,674 kali), dan bahkan mengalahkan pula penyebutan kata Komunis (709 dan 6,380 kali) dan Komunisme (183 dan 1,462 kali).

Begitu pun dengan analisa minat penelusuran terhadap kata Pancasila. Agar terlihat perbandingannya, di bawah akan turut saya lampirkan hasil perbandingan analisa google trend tentang Syahrini, Pancasila, Komunis dan Komunisme.


Begini lur, sebelum Timnas U-16 Indonesia menjuarai piala AFF U-16 beberapa hari lalu, tentu ada semacam rembukan strategi. Dan, meski bukan pecinta sepak bola, saya yakin sebelum pertandingannya melawan Thailand dimulai, si pelatih Fakhri Husain berusaha mencari tahu tentang bagaimana taktik dan strategi yang akan digunakan lawan dalam pertandingan.

Betul! Pemain yang baik adalah pemain yang memahami betul siapa lawannya. Dan dalam hal ini, Indonesia nampaknya juga perlu memahami lawannya baik-baik. Karena musuh sesungguhnya negara ini, bukanlah Komunisme atau Syahrini, melainkan garis ungu pada diagram di bawah ini.


CMIIW!

Muhamad Erza Wansyah
Belum selesai berobat jalan, tapi sudah terlanjur lulus dari jurusan psikologi di Universitas Brawijaya.