Hijrah dan Cari Kerja di Jakarta? Berat Ma Beroh!

Oleh: Ahmad Yani Ali Ramdan

Ilustrasi Kerja di Jakarta

Ilustrator/Rizqi Ramadhani Ali

Karena bayang-bayang ketika ‘basah’ bermandikan uang hasil keringat sendiri itu rasanya segeerrrr bukan main.

Suka membayangkan nikmatnya kerja di perusahaan BUMN, multinasional, atau setidaknya menjadi personalia di perusahaan menengah? Wew, itu sudah seperti agenda wajib bagi fresh graduate yang baru saja menyelesaikan urusan kuliah 4-7 tahun: fase yang menjembatani manusia ke fase sesungguhnya dalam kehidupan. Katanya sih begitu.

Tentu saja, karena bayang-bayang ketika ‘basah’ bermandikan uang hasil keringat sendiri itu rasanya segeerrrr bukan main. Meski pada akhirnya, semua itu cuma berada di level khayalan. Zat yang lebih tabu dari sekadar guyonan selangkangan.

Khayalan itu juga akhirnya membuat saya sadar, bahwa paska lulus, ratusan lamaran yang sudah saya apply ke beragam bentuk perusahaan tak kunjung mendapat balasan. Adalah satu-dua panggilan, namun tetap tak berakhir dengan ucapan “selamat anda diterima di perusahaan keren ini”. 

Tak menyerah, saya sebar lamaran lebih banyak lagi. Marketing, buruh pabrik, CPNS, desainer, dan peluang-peluang kerja lainnya. Semua disikat. Motifnya satu, gak mau tau, bagaimanapun caranya, pokoknya, saya harus bisa mandi dari duit hasil keringat sendiri. Kalau bisa, cebok pun juga pakai duit. Sayang, lagi-lagi belum ada pekerjaan berjodoh. Huft.

Hingga pada suatu hari, berkat tali persaudaraan, akhirnya saya bisa mendapat kerja di sana, Jakarta. Hell yeah kerja boskuh! Kebetulan saya diterima bekerja di salah satu perusahaan media dan akan menjalani hidup sebagai wartawan ibu kota.

Terbayang sudah guweh bakalan jadi AGJ (Anak Gaul Jakarta)  yang nongkeh di PGC (Pusat Grosir Cililitan). Guweh emang gak lepel nongkeh di PIM (Pondok Indah Mall), Senayan City, atau minimal Citos (Cilandak Town Square).  Itu  sudah mainstream ma beroh.

Namun khayalan memang tak senikmat kenyataan. Sebagai orang daerah yang baru hidup di Jakarta, bekerja di sana rasanya sungguh berat bukan main. Tidak sedikit tenaga atau materi untuk tetap bisa survive hidup di Jakarta. Setiap hari, harus bertarung dengan kemacetan, biaya hidup terlampau mahal, ritme hidup serba cepat, sampai godaan dedek celana gemes mulus-mulus. Duh. Maka dari itu, daripada kamu ikut terjerumus di kehidupan Jakarta, lebih baik kamu pikir ulang dengan matang.

Baca Juga: Dua Syarat Kerja Paling Jancuk

Biaya Hidup Tidak Sebanding Gaji?

JIka diterima kerja dengan gaji relatif kecil, jangan coba-coba nekad hijrah ke sana. Sebab kalian hanya akan mengalami tombokan biaya hidup dengan lilitan hutang Bank Emok dimana-mana. Bunga kreditnya bukan main. Atau, kalian tertabrak dengan dalih perusahaan terkait penyesuaian karyawan baru dengan gaji yang juga ‘disesuaikan’? Jangan juga mencoba nekad kerja di sana. Bah, pahit kali.

Saya pernah mengalami hal ini. Ketika kerja satu bulan dengan gaji penyesuaian, di akhir bulan saya malah terserang penyakit tifus dengan biaya pengobatan rawat inap diatas gaji yang didapat. Bah, sial betul. Niat untung malah bunting, eh, buntung. Jadi coba pikirkan matang-matang genks.

Transportasi Umum yang Mengerikan

Enaknya hidup di Jakarta, kita tidak usah bingung mau pergi kemana dengan trasportasi umum. Ada Transjakarta, KRL, Taksi, Bajaj, Mikrolet, Ojol, Opang, dll. Cuma oplet Si Doel yang saya rasa sudah tidak ada. Sayangnya, semua itu juga berbarengan dengan situasi-kondisi yang mengerikan. Mungkin kalian pernah mendengar atau mengalami sendiri bagaimana transportasi publik di Jakarta sungguh berjejal sesak jika di jam-jam kantor. Atau, tentang jahilnya sopir taksi yang nakal naikin argo seenaknya sendiri. Atau lagi, tentang pria brengsek tukang gesek penumpang lain yang memiliki tonjolan di belakang.

Ngeri memang. Meski begitu, saya pernah mengalami yang lebih mengerikan dan hingga kini masih terbayang kuat dalam ingatan saya. Kejadian itu saya alami ketika naik bus umum di Jakarta. Ceritanya ada seseorang masuk ke dalam bus yang saya tumpangi. Sepintas terlihat seperti pengamen tanpa gitar. Awalnya saya pikir dia mau ngamen hanya dengan kecrikan tutup botol di kantong.

Ternyata salah, orang tersebut malah mengancam kepada seluruh penumpang akan menyilet nadinya jika para penumpang tak memberinya uang. Sontak saya kaget, sekaligus takut (karena baru pertama kali saya mengalami hal tersebut). Saya membayangkan ngerinya jika orang tersebut benar-benar menyilet nadinya dengan silet. Tentu akan ada berita tentang bus bersimbah darah. Dan orang itu tidak akan selamat untuk ditolong karena darah yang becucuran dari nadi karena jalanan macet. Sedangkan penumpang lain hanya  berkata “bodo amat ah, bukan urusan guweh!”. Hiiiii ngeri beut dah!

Baca Dongz Kaka: Mengasihani Orang Jakarta yang Tidak Bahagia

Rute Jakarta seperti Labirin

Selanjutnya, kenapa saya menganjurkan untuk kalian mengurungkan niat hijrah kerja ke Jakarta karena rute jalan di Jakarta seperti sebuah labirin besar dengan banyak jalan di jalannya. Tahu labirin kan? Iya itu, biasanya abis puasaan kita kan merayakan hari raya labirin. Hahaha.

Yapsi, rute jalan di Jakarta itu cukup lumayan njelimet kayak labirin. Jika salah belokan saja, mungkin kita akan tersesat jauh, atau bahkan hanya akan berputar-putar. Akan tersesat jauh dihatimu dan berputar-putar dibenakmu. Ihiiiirr. Sejauh pengalaman saya yang bekerja mencari berita dari tempat ke tempat lainnya, rute di Jakarta ibarat memecahkan kode ‘terserah’ perempuan. Kemana-kemana harus ada GPS yang terus menyala. Salah sedikit atau jaringan hilang, kita akan tersesat. Khususnya bagi kalian yang membawa kendaraan pribadi dengan pekerjaan mobilitas tingggi. Mungkin butuh bertahun-tahun untuk menjadi tahfiz pada rute di Jakarta. Hmm.

Parkir di Jakarta Bikin Kantong Kering

Bagi kalian yang ingin membawa kendaraan pribadi, percayalah bahwa Jakarta tidak akan ramah pada kendaraan pribadi. Karena lahan di Jakarta sudah semakin sempit untuk parkir dan harga parkir dengan sistem jam-jam-an juga makin menghimpit. Selain itu, berjubelnya jumlah kendaraan di Jakarta, juga kendaraan pribadimu, hanya akan menambah polusi saja.

Yang terasa saat saya bekerja di Jakarta dengan membawa motor pribadi adalah parkir. Berangkat dari rumah ke kantor harus bayar parkir jam-jam-an, pindah liputan ke hotel bayar parkir jam-jam-an, pindah ke mall, sama aja begitu juga. Kelihatannya remeh hanya dua ribu perak sejam sekali parkir, tapi terasa benar-benar menguras. Maka dari itu, silahkan kalian pikir ulang kenapa harus kerja di Jakarta dengan pengeluaran parkir yang tidak sedikit juga. Panasnya aja udah bikin kering, tetek bengek kayak parkir gini juga kerasa bikin kantong kering beroh.

Baca Ini Deh: Mobil-Mobil Jakarta Mampu Tenggelamkan Jogja

Kalian Pengguna Kendaraan Antik?

Saya sarankan untuk tidak membawa kendaraan antik seperti vespa congo kalian ke Jakarta. Kecuali, kalian yang sedang membentuk otot bisep di bagian lengan, tentu cocok. Tapi, bagi kalian yang tidak punya tenaga ekstra: berangkat kerja harus tarik ulur kopling, mogok, sampai menahan bobot vespa di tengah kemacetan, saya sarankan jangan. Itu cukup melelahkan. Kendaraan antik cukup jadi hobi. Jangan dipakai kerja di Jakarta.

Apalagi, di sana juga banyak warga, khusunya laki-laki, tidak ramah terhadap pemilik kendaraan antik. Mereka bertanya seolah-olah saya ini laki-laki jadi-jadian, padahal jelas-jelas laki tulen. Jijik beut dah. Mata melihat tajam melirik-lirik sambil senyum-senyum menggoda. “Cakep nih bang! Berapa?”. Kadang saya melotot kaget, “Gila aja dikira cowok mangkal stasiun apa!”. Jadi coba kalian pikir ulang jika ingin kerja di Jakarta dengan motor antik kesayangan kalian.

Karawang Alternatifnya!

Disini saya akan memberikan alternatif kota yang bisa kalian jadikan rujukan untuk bekerja selain Jakarta. Suasana yang tidak berbeda jauh, masih tergolong panas (masih panas Jakarta) dan biaya hidup pun tidak terlalu semahal Jakarta. Kota yang beranjak menjadi kota metropolitan. Ya, Karawang. Kota kelahiran saya dengan tingkat pertumbuhan industri yang cukup signifikan. Gaji buruh disana pun terbilang cukup fantastis dan masih terbilang besar dibanding Jakarta. Gaji petugas keamanan di sana saja, bisa mencapai Rp 6 juta. Fantastica!

Namun, sekali lagi, kalian juga harus tahu kalau bekerja di Karawang itu tak murah. Ibarat buka warung kopi, butuh modal cukup buat sekadar cari lahan, beli meja, perkakas dapur, sampai bahan baku. Pun di Karawang, ada kerja, ada harga! Begitu ma beroh!

sodik dan merantau ke jakarta1
Ahmad Yani Ali Ramdan
Mantan wartawan ibukota yang kini bermukim di Omah Diksi dan berkarya di Sediksi. Merintis Simple Project dan tengah sibuk membesarkannya.