Merasa “Garing”? Ketahui Tetek Bengek Lelucon Ini

(credit/tufts.edu)

Yang namanya manusia, sejak dulu pasti butuh tertawa. Itu mengapa humor, komedi , guyonan, atau kita sebut saja lelucon, tetap terpelihara kelestariannya hingga sekarang.

Lelucon bisa dilihat dan dirasakan dalam berbagai bentuk dan media. Bisa dalam percakapan sehari-hari, televisi, radio, atau bahkan saat ini, lelucon juga semakin mudah kita dapat berkat perkembangan internet yang melaju pesat.

Itulah mengapa kami berniat mengupas lebih jauh mengenai tetek-bengek lelucon. Jangan khawatir, karena kami pun akan menyisipkan sedikit contoh lelucon yang bisa kalian nikmati. Karena tidak lucu, kalau tulisan tentang lelucon ini, dibaca sambil menekuk-cemberut.

Baca Dulu: Yang Janggal dari Lelucon Selangkangan

Karakteristik Lelucon

Kamus Besar Bahasa Indonesia versi Daring menjelaskan bahwa lelucon termasuk kata benda yang artinya hasil melucu; tindak (perkataan) yang lucu; penggeli hati; percakapan yang jenaka. Lelucon biasanya berbentuk kata-kata singkat, namun menarasikan sesuatu yang cukup luas. Adapun lelucon yang cukup panjang, biasanya memiliki klimaks atau punchline dibagian akhir.

Karakteristik Lelucon
sumber: internet

Itu mengapa, pertunjukan-pertunjukan komedi seperti standup comedy, reality show di televisi, maupun pertunjukan-pertunjukan lain yang sering kita jumpai, dapat disebut sebagai kumpulan lelucon yang diskenariokan.

Adapun secara teoritis, ahli Bahasa Victor Raskin and Salvatore Attardo juga mengklasifikasikan beberapa karakteristik lelucon, serta bagaimana lelucon itu bisa membuat orang lain tertawa. Adapun poin-poin yang dimaksud antara lain:

  • Skrip Oposisi: Yang dimaksud dengan poin ini, bahwa lelucon mengandung referensi skrip yang bersifat oposisi. Satu lelucon, dapat memuat sebuah tema yang nyata dan nyata sekaligus. Atau, dalam sebuah lelucon, juga terdapat narasi yang normal dan tidak normal, dalam satu waktu.
  • Mekanisme Logika: Tentunya, untuk membuat gelak tawa, dibutuhkan sebuah mekanisme¬† logic. Artinya, terdapat koneksi antara narasi satu, dengan narasi yang lain, pada sebuah lelucon. Tanpa adanya koneksi tersebut, maka lelucon bisa berujung pada keheningan alias garing.
  • Situasi dan Kondisi: Lelucon juga mengandung situasi dan kondisi yang menyelimutinya. Ini hal umum, namun Sikon juga termasuk syarat bagi sebuah narasi, agar dapat disebut lelucon.
  • Target: Lelucon juga terikat pada target atau sasaran pendengar/pembaca/penonton. Hal ini juga berhubungan dengan jenis lelucon (akan dibahas nanti) yang bersangkutan. Sederhananya, sebuah lelucon tidak akan mengundang tawa apabila mengandung Sikon dan logika yang tidak dapat dipahami oleh para penikmatnya.
  • Narasi: Sebagaimana telah disebut sebelumnya, bahwa lelucon mengandung narasi. Lebih spesifik, kedua ahli bahasa di atas mengistilahkannya sebagai strategi narasi. Hal ini bisa dilihat dari bagaimana pemilihan kata atau majas yang digunakan si pelontar lelucon.
  • Bahasa: Sepertinya, bagian ini tak perlu dijelaskan lebih dalam. Karena toh, tanpa bahasa (verbal, non-verbal), sebuah narasi juga tidak dapat dibentuk bukan?

Jenis-Jenis Lelucon

Terdapat banyak perspektif mengenai lelucon. Ada yang melihat dari genrenya, media yang digunakan, targetnya, atau bahkan juga masa berlakunya. Lain waktu Sediksi akan mengupasnya satu per satu. Untuk sementara ini, kami hanya akan mengupas beberapa jenis lelucon yang umum dikenal oleh masyarakat terlebih dahulu. Berikut penjelasannya:

Lelucon Stereotip

Baca Juga: Mengasihani Warga Jakarta yang Tidak Bahagia

Lelucon model ini berkaitan erat dengan stereotip yang berlaku pada penikmatnya. Apabila dalam sebuah kelompok, terdapat stereotip mengenai bahwa “medok” dalam bahasa Jawa itu lucu, maka seseorang yang memraktekan kemedokan di lingkungan kelompok tersebut akan dianggap lucu. Itu mengapa lelucon stereotip macam ini, berbatasan sangat tipis dengan apa yang biasa kita sebut SARA.

Lelucon Stereotip
Tidak sebatas ekspresi dan gaji. Lelucon meme ini juga mengandung stereotype mengenai masyarakat kulit hitam. (credit: yukepo.com)

 

Lelucon Sarkastik/Sindiran

Adapun lelucon sarkastik atau sindiran, lebih menuntut penikmatnya menggunakan logika dan memahami situasi dan kondisi yang berlaku pada saat lelucon disampaikan. Oleh kenapa, kelucuan dalam lelucon sarkastik ini akan sampai hanya pada orang-orang tertentu dan di momen-momen tertentu saja.

Lelucon Sarkastik
Yang gak ngerti bahasa inggris dan ga pernah terganggu sama lini masa media sosial tetangga sebelah, pasti gak ngerti. (credit/pmslweb.com)

Lelucon Selangkangan

Baca juga: Alternatif Menikmati Belahan Dada setelah KPI Menjadi Tak Asik

Sudah baca opini Rifky Pramadani berjudul Yang Mengganjal dari Lelucon Selangkangan? Kalau sudah, pastinya kamu paham apa yang dimaksud dengan lelucon seperti ini? Ya, lelucon seperti ini kerap dilontarkan oleh masyarakat, bahkan tidak hanya ketika dalam kondisi santai, tapi juga situasi yang serius. Lelucon yang mengandung unsur sexualitas barangkali memang tabu di Indonesia, namun tak dapat dipungkiri kalau ini masih sering dilakukan oleh masyarakat tanpa mengenal batas usia.

Komik Lelucon Selangkangan
instagram.com/okkyandrianlola

Lelucon Teka-Teki

Kamu juga bisa tertawa dari teka-teki singkat yang dilontarkan oleh temanmu. Baik teka-teki yang tidak jelas arahnya, maupun teka-teki plesetan yang belakangan kerap digunakan oleh reality show di televisi Indonesia. Untuk bisa menggunakan lelucon macam ini, tentunya si pelontar dituntut memiliki kosakata yang luas. Kecuali, kalau teka-teki plesetan yang dilontarkan, merupakan hasil copy-paste dari “grup WA sebelah”. Lol.

Lelucon Teka-Teki Plesetan
Teka-teki plesetan (credit/brilio.net)

Lelucon Garing

Jujur saja, kami tidak bisa menemukan sumber referensi mengenai lelucon ini. Namun, kami yakin kita semua memahami apa yang dimaksud dengan lelucon garing. “Garing” yang juga bisa dibilang jayus tersebut, bisa diartikan sebagai “tidak lucu”. Bingung?

Kamu bisa mengamatai di lingkaran pertemananmu, siapa yang menurutmu senang berusaha melucu secara spontan, namun direspon oleh keheningan, atau senyuman palsu dari lawan bicaranya. Sebagai orang ketiga, bisa jadi kamu ilfeel apabila melihat keadaan tersebut. Meskipun, tidak menutup kemungkinan juga kamu juga ikut tertawa atas situasi itu.

Nah, barangkali, saat dimana kamu tertawa itulah, ketidaklucuan tersebut bisa kita anggap sebagai “LELUCON GARING“.

Hal-Hal Lain Mengenai Lelucon

Terdapat hal-hal menarik lain yang bisa kamu ketahui mengenai lelucon. Berdasarkan pengalaman, pengetahuan ataupun cerita dari orang-orang di lingkungan redaksi Sediksi. Hal tersebut kami rangkum dalam beberapa poin sebagaimana berikut:

1. Lucu di sini, belum tentu lucu di sana

Paham lah ya, apa yang saya maksud. Kalau kamu lucu di salah satu kelompok pertemanan, bisa jadi kamu termasuk ke dalam kategori “garing” dalam kelompok pertemanan lainnya. Itu mengapa, baiknya kamu dapat mengamati situasi dan kondisi di masing-masing kelompok pertemananmu, sebelum berusaha untuk melontarkan sebuah lelucon. Kalau tidak, ada label garing dapat melekat pada sosokmu, entah sampai kapan.

2. Figur juga merupakan faktor penting dalam lelucon

Memang ada narasi atau kalimat otentik, yang secara universal bisa dianggap lucu bagi semua orang, terlepas dari siapa yang mengatakanya. Akan tetapi, kalau diamati lebih lanjut, terdapat pula narasi-narasi yang bila disampaikan oleh orang-orang tertentu, bisa menjadi lucu, atau bisa pula dianggap tak lucu. Raditya Dika misalnya. Narasi percintaanya dapat membuat gelak tawa bagi sekelompok anak muda. Tapi, untuk para fakir kasih sayang, mungkin malah terkesan tidak lucu. Kalau figurmu kira-kira seperti apa?

Baca Ini Nih: Memantankan Mantan di Koala Kumal

3. Lelucon dan Kebutuhan untuk Tertawa

Kami 70% yakin, kamu sebagai pembaca tulisan ini pasti mengikuti 2 s/d 3 akun humor di Instagram. Kami juga yakin, entah berapa persen, kalau kamu juga gemar menonton video youtube yang kerap membuat gelak tawa. Tentu saja kami yakin, karena saat ini, lelucon sudah seakan menjadi hal wajib yang harus ada di setiap lini masa media sosial kamu, entah karena kebutuhan, maupun alasan lain yang lebih berkualitas.

Itu mengapa stasiun televisi, dari waktu ke waktu, akan terus menghadirkan tontonan-tontonan yang sifatnya menghibur. Itu pula mengapa, akun IG Dagelan yang isinya cuma hasil repost akun IG orang lain, menguasai 30% pengguna Instagram di Indonesia (13 juta follower Dagelan/45 juta pengguna instagram di Indonesia x 100%). Dan itu pula mengapa lelucon menjadi menu wajib bagi setiap film, bahkan yang bergenre Super Hero sekalipun.

Bagaimana Caranya Membuat Lelucon?

Kami bukan ahli humor yang secara spontan mampu membuat lelucon untuk menghibur kamu. Juga bukan guru yang dapat mengajarkan kamu bagaimana cara membuat lelucon. Akan tetapi, apabila kamu bertanya mengenai bagaimana membuat sebuah lelucon, paling tidak tulisan ini adalah sedikit jawaban yang dapat kami berikan. Atau, apabila dengan membaca tulisan ini kamu masih belum dapat membuat sebuah lelucon, bisa juga kamu datangi Omah Diksi di Kota Malang, untuk mencari referensi tentang lelucon. Di tempat ini, kamu bisa dapati berbagai lelucon, mulai yang porno, bikin merinding, atau yang garing sekalipun.

Redaksi Sediksi

Redaksi Sediksi

Hirukpikuk merupakan rubrik Sediksi yang banyak mengulas tentang informasi yang berseliweran dengan cepat dan menghabiskan banyak kuota.

Lihat Semua Artikel Hirukpikuk