Main-Main ke Gili Genting

Oleh: Rizqi Nurhuda Ramadhani Ali

Main Main ke Gili Genting

Ilustrator/Oky Dwi Prasetyo

Jika ingin melihat seperti apa penduduk sebuah kota, lihatlah pasarnya.

Untuk para tongkrongers Diksi dan para pembaca Sediksi.com yang budiman dan pengangguran. Mo tanya. Bagaimana cara kalian menghabiskan waktu liburan ? Pulang kampung ? Tenggelam di Omah Diksi sambil menekuri nasib sial bersama secangkir kopi? Atau mengurung diri di kamar sambil memelototi drakor di laptop dan bolak-balik men-scroll berita politik di media sosial?

Mo cerita nih. Ramadhan tahun lalu, saya menemani ibu mengunjungi Pulau Gili Genting. Sebuah pulau yang masih masuk wilayah Sumenep, Madura, di mana ibu saya akan bertemu kangen dengan induk semangnya. Saya tidak akan membicarakan keindahan pantainya. Yang benar saja, saya lahir dan besar di rumah yang berjarak satu kilo dari pantai. Kalau boleh puitis, kaki saya tumbuh dibelai pasir-pasir asin dan buih-buih ombak. Tobuk, kata orang Madura.

Jadi yang akan saya ceritakan adalah kondisi masyarakatnya. Pulau Gili Genting terdiri dari empat desa, yang di tiap desanya memilki logat bicara masing-masing. Unik. Beberapa bahkan tercampur dengan bahasa dari luar Jawa seperti Kalimantan, Bali, dan Sulawesi. Tentu saja, dari sejarahnya, kota-kota pelabuhan lebih mudah bertukar kebudayaan (dan jodoh) daripada pemukiman di gunung.

Per harinya, hanya ada dua kapal yang berangkat dari pelabuhan Cangkarman, Sumenep. Selama satu setengah jam perjalanan, saya sibuk menggenggam gajet; membaca berita dan membuka media sosial. Saat itu polemik penistaan agama sedang saling sengkarut di dunia maya, dan saya jengah.

Suasana terasa berbeda saat sampai di pelabuhan pulau. Hampir separuh kuli angkutnya adalah wanita. Tidak ada petugas pemerintahan, tidak ada loket pemeriksaan, dan tidak ada angkutan umum. Di balik minimnya fasilitas umum di pulau ini, begitu banyak sepeda motor berkelas impor: Ducati, Kawasaki Ninja, atau Yamaha R1. Dan semuanya tanpa plat nomor. “Tak ada polisi di pulau ini, mas.” Kata paman yang mengantar saya dari pelabuhan.

Tentu saja masih banyak infrastruktur yang belum layak. Listrik pun belum masuk di pulau ini. Meskipun sebagian rumah sudah memasang solar panel untuk memenuhi kebutuhan listrik mereka. Sehingga, adalah pemandangan yang wajar di sana saat ada tetangga  mengetuk pintu rumah untuk sekedar numpang ngecas hape. (Hape lho ya, bukan yang lain) tetapi saat hujan atau mendung, listrik tidak menyala dan antena televisi tidak dapat menangkap gelombang siaran.

Kata  pepatah kuno Tiongkok, jika ingin melihat seperti apa penduduk sebuah kota, lihatlah pasarnya. Hampir semua perempuan yang saya temui di pasar berpakaian senada: kaos atau daster lengan pendek dengan kerudung yang disematkan seadanya di kepala. Tak ada tuh, urusan syar’i atau tidak, hijab yang harus berlogo halal, atau saling tuding bid’ah. Tetapi untuk masalah harga kebutuhan di pulau masih cenderung mahal. Misalnya ternyata harga ikan di sana dua kali lipat dari harga ikan di pulau utama. Padahal mayoritas penduduk Gili Genting adalah nelayan. Ini masih di wilayah Jawa Timur, lho. Belum ribuan pulau-pulau lain yang jauh dan aksesnya sulit di luar Jawa sana.

Juga tidak ada cerita tentang warung-warung makan yang diobrak-abrik karena berjualan saat ramadhan. Meskipun saat itu ramadhan dan semua warung buka, sebagian besar anak-anak kecil minum es dan ngemil dengan bebas. Meskipun ada beberapa pemuda yang bekerja di pelabuhaan sedang menikmati makan siang. Tapi tak ada tuh, yang merasa keimanannya terganggu. Saat saya menanyakan apakah ada yang memprotes, induk semang ibu saya hanya tertawa.“Ya nggak papa, pekerjaan mereka berat. Nanti kalau sudah menikah juga bakal tobat. Justru kalau dilarang makan nanti mereka malah nggak mau kerja, tapi tetap rokokan di rumah.”

Tiba-tiba segala kericuhan yang saya lihat di kota terasa jauh. Nyatanya segala fasilitas dan kenyamanan tidak berbanding lurus dengan moralitas. Jika boleh menyimpulkan, mungkin bagi orang-orang di Gili Genting, negara hanyalah ilusi. Kalaupun terdengar hiruk pikuknya, mungkin terdengar jauh, seperti datangnya angin laut yang akan pergi menjelang fajar.

Misalnya soal politik. Saat saya mencoba mengobrol soal kebijakan pengadaan kapal yang belum memadai, bapak-bapak di sana cenderung berhusnudzon. “Ya kan saya nggak sekolah, mas. Di sini orang mau makan saja susah. Apalagi urusan politik. Saya nggak ngerti urusan kayak gitu. Percaya sama bapak-bapak pemerintah sajalah. Soalnya mereka lebih pinter. Kita hidup di dunia kan sudah diberi tugas masing-masing.”

Di warung-warung kopi di pulau, koran terlipat rapi di sudut gelap. Biasanya  tertanggal dua hari lalu. Di pulau, koran baru datang sehari setelahnya. Itupun jika ada yang memesan.

Hal ini berbeda dengan kondisi di forum-forum diskusi politik mahasiswa, obrolan-obrolan politik di warung kopi, perdebatan-perdebatan politik di media sosial, sampai acara-acara debat di televisi yang masuk ke kamar-kamar pribadi dimana semua orang saling tuding dan merasa benar. Segalanya serba cepat dan instan. Termasuk pola pikir menyikapi hidup. Maha benar netijen dengan segala komen-nya.

Satu hal lagi kebijaksanaan orang-orang kepulauan adalah bagaimana memaknai pagar. Iya, pagar. Pagar selalu menceritakan tentang keterbukaan penduduknya.

Di Gili Genting, pagar rumah penduduk hanya ruas-ruas bambu yang diikat rendah. Dengan pintu bambu kecil tanpa kunci. Sedangkan lahan dan kebun hanya diberi patok bambu sebagai pembatas lahan. Tidak ada pagar besi yang tinggi dengan ujung-ujung yang mencuat tajam. Karena bagi orang-orang desa, pagar bukan berfungsi sebagai pelindung. Tetapi sebagai batas: ini tanahku, dan ini tanahmu. Sederhananya itu.

Bagi mereka yang lebih mampu, pagarnya dibangun dari batu yang disemen rendah berbentuk kubus. Saat sore hari sering terlihat pemandangan perempuan-perempuan yang sekadar duduk beristirahat ataupun bapak-bapak yang nongkrong dan saling menyapa. “Ya karena jalan depan sering dilalui orang-orang ke pasar, kebanyakan pagar di rumah-rumah sekitar sini dibangun seperti ini.” Maka di desa-desalah pagar menjelma hidup dan berfungsi sosial. Satu-satunya pagar yang tinggi di sini cuma pagar sekolah. “Biar anak-anak nggak bolos.”

Last but not least, bagi saya pribadi, setiap orang yang kau temui adalah guru, dan setiap tempat yang kau singgahi adalah sekolah. Maka belajarlah. Belajarlah dari mereka. Mereka yang tak tahu-menahu soal konsep kenegaraan ideal ala Aristotelian seperti di ruang-ruang diskusi mahasiswa. Mereka yang buta soal pasal-pasal pidana ala argumen-argumen di panggung-panggung mewah studio Televisi.

Saya pikir, benarlah kata Tan Malaka, “Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali”

Wahai kaum millenial urban, pernahkah kalian mengasingkan diri dengan berkendara sendiri, jauh dari hiruk pikuk kampus dan suasana bosan kuliah-kuliah siang, letakkan gawai pintar dalam tas, lalu pergi ke lingkungan asing yang nyaman? Mungkin pergi ke kampung di kaki gunung atau tepi pantai. Atau bahkan yang dekat sajalah: sepanjang jalanan pasar maling di belakang kangkangan raksasa mall Tunjungan Plaza misalnya. Duduklah di salah satu warung kopinya, lalu mengobrol santai dengan pekerja kasar yang kebetulan duduk di sebelahmu, atau gadis penjaga warung kopi. Kalau belum, saya sarankan cobalah. Wassalam.

sodik dan kakek goku ke Gili Genting
Rizqi Nurhuda Ramadhani Ali
Ilustrator Sediksi