10 Hal yang Bisa Kita Lakukan Setelah Menonton The Social Dilemma

Share on whatsapp
Share on twitter
Share on facebook
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on email
Yang saya lakukan setelah menonton the social dilemma

Kita tidak bisa mengubah kerja Big Tech dalam semalam, tapi kita dapat meminimalisasi dampaknya. Saya melakukan 10 cara ini.

Pada suatu kali, saya pernah bertekad mengurangi aktivitas di Instagram untuk membaca buku. Belum tuntas satu halaman, muncul sebuah pemberitahuan. Saya membukanya, dan dua jam kemudian saya telah kehilangan minat untuk membaca.

Saya menghabiskan banyak waktu menggulir feed Explore di Instagram. Padahal saya tahu, akitivitas ini hanya membuang waktu belaka, dan saya tak memperoleh pengetahuan yang saya perlukan. Ini membuat saya curiga dan perlu bertanya pada diri sendiri, “Apa benar saya telah kecanduan media sosial (medsos)?”

The Social Dilemma, dokudrama yang awal September lalu rilis di Netflix, kurang lebih, membenarkan kecurigaan itu. Banyak orang juga mengalaminya. Tapi yang membikin saya tercengang ialah kecanduan medsos bukannya tidak disengaja, melainkan tujuan yang dipikirkan dengan matang. Ternyata selama ini, The Big Tech (Perusahaan teknologi besar macam Facebook, Twitter, Google dll) telah memanipulasi kita dan kita tidak menyadarinya.

Dokudrama The Social Dilemma menawarkan pandangan yang membuka mata kita ke dunia yang sangat sedikit kita pahami. Film ini menjelaskan bagaimana Big Tech memanipulasi pengguna mereka melalui berbagai fitur, misalnya tombol “Suka” hingga sistem notifikasi. Ihwal ini dijelaskan melalui serangkaian wawancara dengan teknisi-teknisi Silicon Valley maupun pakar teknologi, akuntansi, dan psikologi.

Sutradara Jeff Orlowski mengilustrasikan poin-poin penting The Social Dilemma melalui sebuah drama. Ia mengisahkan sebuah keluarga yang nyaris koyak akibat pengaruh medsos dan pemahaman mereka soal perlunya terhubung ke seluruh dunia, meskipun itu berarti mengorbankan hubungan bermakna dengan orang terdekat. Kisah tersebut barangkali terlalu dramatis, tapi relevan jika kita menyadari pengaruh medsos beberapa tahun belakangan.

Polarisasi politik yang kian tajam dan keruh tercipta berkat algoritma medsos. Pemilu Presiden tahun 2014 barangkali merupakan contoh terdekat dengan masyarakat kita. Ajang politik lima tahunan itu membuat masyarakat terbelah dan dampaknya masih tersisa hingga sekarang. Saya mengalami hal ini di grup WhatsApp keluarga.

Algoritma medsos juga punya andil menyesatkan penggunanya. Selain berita palsu, ia memfasilitasi berbagai teori konspirasi. Contoh paling anyar ialah berkembangnya teori konspirasi tentang COVID-19. Barangkali kita akan tahu bagaimana Jerinx ngotot menyuarakan pendapatnya soal Covid-19 jika ia berkenan memperlihatkan riwayat pencarian Googlenya, riwayat video Youtube yang ia tonton, maupun unggahan mana saja yang ia “sukai’.

The Social Dilemma sempat membuat saya ingin menyingkirkan semua akun medsos saya, mematikan gawai, dan membuangnya ke luar jendela. Meski sedikit dramatis, The Social Dillema kemungkinan besar akan memiliki efek yang sama pada penonton lainnya. Warganet, anda perlu berhati-hati.

Beruntung ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk meminimalkan dampak buruk dari medsos. Disadur dari The Quint, ada setidaknya 10 cara yang bisa kita praktikkan untuk keluar dari ‘gelembung’ medsos,

1. Matikan Notifikasi Media Sosialmu

Mematikan notifikasi media sosial adalah hal pertama yang saya lakukan setelah menonton dokudrama tersebut. Notifikasi merupakan cara Big Tech untuk membuat pengguna tetap terpaku pada gawai mereka. Dalam The Social Dilemma, para teknisi menjelaskan bagaimana notifikasi telah menjadi alat untuk meningkatkan aktivitas dan membuatmu tetap terkoneksi.

Beberapa pemberitahuan yang kiranya perlu dimatikan seperti: tagging photo, trending topics, user in area, dll.

2. Hapus Akun-Akun Tak Perlu

The Social Dilemma memuat poin penting tentang betapa banyaknya informasi berlebih yang ada di luar sana. Ini menjelaskan bahwa, sementara informasi yang tersedia telah meningkat dalam beberapa dekade terakhir, otak kita kesulitan memproses banjir informasi. Hal ini berpeluang membuat kita tidak fokus jika tak bisa memilih dan memilah informasi sesuai keperluan.

Ketimbang dibanjiri informasi yang tak relevan, coba jawab pertanyaan ini: Apa saya perlu mengikuti influencer dan pembuat konten ini di media sosial? Apa saya perlu menerima pembaruan kehidupan Facebook dari orang yang tidak saya temui dalam 3 tahun? Tidak semuanya. Menghapus beberapa akun yang tak penting untukmu saat ini adalah langkah yang besar, dan saya rasa kita siap untuk mewujudkannya.

3. Hentikan Scrolling!

The Social Dilemma menjelaskan bagaimana kita diprogram untuk menghabiskan berjam-jam hanya untuk menggulir di berbagai aplikasi media sosial. Dengan ribuan teman di Facebook dan pembuat konten di Instagram, tak ada cara alami untuk membuat konten habis, bukan?

Sekarang, istilah ‘scrolling‘ dapat berubah menjadi ‘doomscrolling’ jika kamu tak bisa menghentikannya sekarang juga!

4. Lupakan Datamu, Tapi Khawatirlah Pada Perhatianmu

“Jika Anda tidak membayar untuk produknya, maka Anda adalah produknya,”

The Social Dilemma

Skandal kebocoran data seperti Facebook-Cambridge Analytica membuat publik lebih mudah untuk berasumsi bahwa kerja Big Tech adalah tentang data pribadi dan preferensi kita.  

The Social Dilemma membuat saya menyadari bahwa bukan hanya itu. Lebih dari sekedar data saya, perusahaan-perusahaan teknologi ini bersaing untuk mendapatkan perhatian saya yang terbatas. Jadi itulah yang akan saya khawatirkan mulai sekarang.

Pada akhirnya, perhatian saya adalah produk yang dijual kepada pengiklan. Saya tidak membayar untuk jam-jam yang saya habiskan untuk menggulir tanpa batas di Twitter karena … seseorang telah membeli saya. Argumen yang juga berlaku untuk saluran TV dan pengiklannya.

Baca Juga: Wahai Data Yang Mahakuasa….

5. Berhenti Melihat Gawai Di Pagi Hari

Saya akan jujur, tak melihat gawai setelah bangun tidur atau saat sedang pup di pagi hari amat sulit dilakukan. Selama bertahun-tahun, saya secara sadar berusaha menghindari medsos sebelum tidur dan setelah bangun tidur di pagi hari, dan itu susah sekali.

Saya kembali memotivasi diri saya sendiri agar melaksanakan pembatasan waktu secara mandiri. Keyakinan saya berlipat ganda setelah mendengar mantan teknisi-teknisi Big Tech mengungkapkan bagaimana mereka memberi izin anak-anak mereka mengoperasikan gawai dalam waktu yang terbatas.

Semoga aku bisa, pun kamu!

6. Mulai Pilih Video Youtubemu Sendiri

Intinya, jangan klik video di kolom Rekomendasi. Jangan sekali pun.

Kenyataan yang menakutkan saat ini ialah algoritma medsos berkembang pesat dan mampu “berpikir”. Mereka memantau aktivitas kita dengan sangat cermat. Kita bisa menghindarinya dengan mencari informasi yang kita perlukan secara mandiri hingga kamu dapat memegang kendali atas jenis konten yang kamu inginkan.

7. Cobalah Memulai Hobi Yang Tak Berkaitan Dengan Gawai

Pandemi Covid-19 membuat kita mengalami kendala untuk bersosialisasi secara langsung, dan layar gawai berperan penting dalam pekerjaan, kehidupan sosial dan pembelajaran sekolah. Meskipun tidak mudah, The Social Dilemma meyakinkan saya untuk mencoba ini lagi dan saya bertekad.

Jika saya tak aktif dalam medsos, kemungkinan saya sedang membaca buku, membuat kolase dari majalah atau koran bekas, atau menjahit buku kulit. Terkadang, berhenti sejenak dan sedikit ketinggalan apa yang trendi di medsos itu tidak buruk.

8. Cek Fakta Sebelum Sebar

“…that fake news on Twitter spreads six times faster than true news,” ucap Tristan Harris, mantan teknisi Google. Kini, Harris fokus pada Center for Humane Technology (sebelumnya dikenal sebagai Time Well Spent) untuk berkampanye agar Big Tech menghormati perhatian, privasi pengguna, dan yang terpenting, kehendak bebas.

Algoritma dapat membantu menyebarkan informasi yang keliru. The Social Dilemma membuka mata dan mengingatkan pentingnya memeriksa fakta peroleh di internet. Hanya karena ada di internet, bukan berarti itu benar. Sekali lagi, Google maupun peramban lain mungkin memiliki semua jawaban, tetapi belum tentu jawaban yang benar.

Kebenaran objektif hilang dengan mudah dalam semesta yang dipenuhi teori konspirasi dan hiburan. Mari kita memulainya dengan memeriksa fakta sebelum kita menekan tombol suka, retweet atau bahkan bagikan.

9. Ajak Orang-Orang Di Sekitarmu Untuk Menontonnya

Sejauh yang saya tahu, semua orang sudah mempunyai akun media sosialnya sendiri tanpa memandang usia. Ini termasuk orang tua saya, adik saya atau kakak-kakak saya yang pernah ribut karena gelembung media sosial mereka berbeda.

Menulis panduan ini pun adalah ikhtiar saya agar kamu sudi melihat film tersebut.

10. Saya Tidak Berencana Menghapus Media Sosial

Saya tidak berbohong ketika saya sempat ingin menghapus semua medsos yang saya punya. The Social Dilemma mengingatkan diri kita sendiri bahwa medsos tidak sepenuhnya jahat. Tapi model bisnis yang digunakan Big Tech membuatnya sangat merusak.

Jadi, menghapus aplikasi medsos bukanlah solusi. Bukankah lebih baik mencari jalan keluar untuk melindungi diri sendiri dan mulai dari hal kecil? Kita tak bisa mengubah Big Tech dalam semalam, tapi kita bisa meminimalkan dampanya. Itu yang kita butuhkan dan perlu kita lanjutkan.

Baca Juga

A. Arfrian

Menjadi Liverpudlian yang kaffah di bola-balik.tumblr.com
Terkini
25 Oktober 2020
Ramai-ramai berharap naskah UU Ciptakerja-Fix-Paling-Fix ini tidak direvisi lagi.
Redaksi
3 Menit
23 Oktober 2020
Emily in Paris berhasil membuktikan bahwa kelucuan dalam sebuah film komedi romantis tidak hanya dapat ditampilkan melalui tingkah laku sepasang kekasih saja.
Anatasia Anjani
4 Menit
21 Oktober 2020
Reina, Raja dan Cipta Kerja: tiga latar mengapa di bulan Oktober 2020 ini 3 negara ASEAN kompak melakukan kampanye sipil yang tidak lain dipantik oleh penguasa.
Redaksi
3 Menit
20 Oktober 2020
Tidakkah uji materi produk legislasi bermasalah itu terkesan seperti menguji apakah air selokan layak diminum?
Redaksi
3 Menit
18 Oktober 2020
Dengan suaranya berat-berat-pasrah, pasti anda ingin segera mengingat Tuhan, segera mengambil air wudhu, atau setidaknya mengucap istighfar.
Irfan R. Darajat
7 Menit
14 Oktober 2020
Memungkinkah kita membandingkan slogan kerja, kerja, kerja dengan tiga tahun kolonialisme Daendels?
Redaksi
3 Menit
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp