Bagaimana Film Studio Ghibli Membantuku Atasi Quarter Life Crisis

Bagaimana Film Studio Ghibli Membantuku Atasi Quarter Life Crisis

quarter life crisis

Sebenarnya, film-film ini memiliki benang merah. Yaitu percaya pada diri sendiri. Quarter life crisis memang menjadi momok terbesar, seolah-olah hidup bakal berakhir apabila kita tidak memenuhi ekspektasi sosial.

Permasalahan quarter life crisis memang tidak jauh-jauh dari urusan dunia kerja, percintaan, passion dalam berkarier, atau sekadar memilih jurusan kuliah. Setiap orang mengalaminya, pun juga saya. Yang penting adalah bagaimana kita mengatasinya.

Bagi saya, yang menolong saya ‘selamat’ dalam menghadapi quarter life crisis bukanlah buku-buku motivasi, melainkan beberapa film produksi Studio Ghibli yang menurut saya bisa jadi referensi untuk menyikapi quarter life crisis.

Spirited Away: Lewat Chihiro Kita Belajar Untuk Tidak Manja

Mari kita mulai dari yang pertama: Spirited Away. Well, siapa yang tidak mengenal film yang satu ini? Sang sutradara Hayao Miyazaki ini memang layak mendapat Oscar pada tahun 2003 silam. Pasalnya nih, film ini adalah salah satu animasi ‘luar’ yang mampu berkompetisi dan berhasil menyabet piala bergengsi itu.

Namun fokus tulisan ini bukan mengenai prestasinya, melainkan isi cerita film itu. Tanpa perlu basa-basi, saya ingin membahas langsung bagaimana tokoh utama Chihiro membantu saya menghadapi ‘momok’ quarter life crisis.

Film dibuka dengan scene Chihiro duduk di bangku belakang mobil. Wajahnya begitu muram karena ia tidak begitu suka dengan perpisahan dan hal-hal baru yang mana segalanya belum pasti. Terdengar seperti proses dalam beranjak dewasa, ya. Di tengah perjalanan, Chihiro dan kedua orang tuanya menemukan sebuah terowongan.

Mereka bertiga lalu masuk dan bereskplorasi, yang mana tempat itu ternyata adalah dunia roh. Chihiro yang saat itu kaget ketika mengetahui orangtuanya berubah menjadi seekor babi akhirnya harus bekerja untuk Yubaaba sebagai pelayan tempat pemandian. Chihiro yang awalnya hanyalah anak perempuan manja, kini mau tidak mau harus menghadapi situasi hidup yang serba tidak enak.

Bekerja sebagai pelayan pemandian air panas, Cihiro harus bersusah payah. Menyapa pelanggan yang tubuhnya berkeringat, banyak maunya, dan terlebih yang memiliki bau badan parah. Pernah Chihiro harus melayani seorang pelanggan yang dikenal sebagai Dewa Busuk, dengan tubuh seperti lumpur dan jalannya begitu lambat sehingga bau tubuhnya tak tertahankan. Yubaaba pun dengan liciknya menyuruh Chihiro untuk melayani Dewa Bau Busuk.

Sebagai pekerja, Chihiro harus tetap patuh pada apa yang sudah menjadi tanggung jawabnya. Scene ini seharusnya mendapat standing applause sebab banyak karyawan Yubabaa yang enggan untuk melayani Dewa Busuk. Sampai-sampai gadis berusia 10 tahun seperti Chihiro-lah yang harus turun tangan. Yubaaba bakal kena KPAI nih, kalau ketahuan mempekerjakan anak di bawah umur.

Kembali lagi ke inti cerita, Chihiro begitu gigih menyirami tubuh Dewa Bau Busuk itu. Siapa sangka di akhir adegan itu Chihiro justru menemukan bahwa sebenarnya itu bukanlah Dewa Busuk, melainkan Dewa Sungai yang tercemar karena sampah manusia yang begitu banyak dan parah.

Well, yang saya dapat pelajari dari Chihiro saat menghadapi quarter life crisis adalah berhenti bersikap manja. Chihiro yang pada awalnya hanyalah gadis yang senang merengek-rengek ke orang tuanya karena permintaannya tidak dituruti justru berubah menjadi perempuan yang Tangguh, bijaksana, dan mampu menyelesaikan masalahnya.

Kalau saya di posisi Chihiro waktu itu, saya juga akan bingung dan terus menangis karena tersesat di dunia gaib.

Itulah kenapa untuk tumbuh dewasa, kita tidak bisa terus-menerus merengek dan menangis saat hidup kita mulai hilang arah dan tidak tahu hidup ini mau dibawa ke mana. Menangis perlu, tapi tidak sampai berlarut-larut. Kita tetap perlu yakin akan apa yang kita kerjakan saat ini.

Kiki Delivery’s Service: Sadari Potensi Diri dan Hilangkan Insecure Seperti Kiki

Kiki Delivery’s Service menduduki posisi kedua. Menurut saya, film ini memiliki cerita yang sederhana namun sarat makna. Kiki memang belum menginjak kepala dua. Ia hanya gadis berusia 13 tahun yang harus menjalani kehidupannya sebagai penyihir.

Bayangkan saja, di usia yang begitu belia harus hidup mandiri dan tidak bergantung pada orang tuanya. Kiki harus berjuang sendiri di kota orang. Akui saja, kita pernah di posisi Kiki: memilih hidup merantau dan jauh dari orang tua.

Seiring perjalanan, Kiki bertemu dengan rekan-rekannya yang juga melakukan perantauannya, yang justru membuatnya merasa insecure dengan kemampuan sihirnya. Ia hanya mampu terbang ke sana-sini saja.

Namun, Kiki bukan penyihir yang mudah menyerah. Ia kreatif dan cerdas. Ia sadar bahwa ia memiliki potensi. Kenapa sapu terbangnya tidak ia gunakan saja untuk berbisnis? Gadis berambut pendek itu akhirnya membuka layanan antar kirim—seperti jasa ojek online saat ini.

Meski ia telah menemukan pekerjaan kecilnya, selalu ada proses pergulatan yang perlu dilalui. Bahkan ia sempat kehilangan kekuatan sihirnya. Keraguan dalam dirinya merenggut segala potensinya.

Kiki secara implisit ingin menunjukkan pada kita bahwa masing-masing dari kita punya potensi, hanya saja kita terlalu khawatir dengan pikiran orang lain. Saat Kiki kehilangan kekuatannya, bukankah pernah kita alami juga? Secara personal, saya pernah lupa dan bingung bahwa kemampuan saya adalah menulis.

Bagi saya, Kiki Delivery’s Service adalah film yang sederhana namun mampu menunjukkan pada penontonnya untuk selalu yakin dan percaya akan kemampuan yang kita miliki. Kalau Kiki saja bisa memanfaatkan sapu terbangnya, seharusnya kita bisa melihat potensi dan bakat kita, bukan?

Whisper of the Heart: Jangan Pendam Perasaan untuk Seseorang yang Spesial

Coba angkat tangan, berapa banyak dari kalian yang memendam perasaan spesial untuk seseorang, tapi malu untuk mengungkapkannya? Urusan asmara memang bukan perkara yang mudah. Misalnya dalam film Whisper of the Heart, Ocean Waves, dan Howl’s Moving Castle, yang temanya tidak jauh-jauh dari pembahasan soal cinta.

Di antara tiga judul tersebut, saya ingin meng-highlight film yang menurut saya paling relevan, Whisper of the Heart. Sekilas, film satu ini memang terlihat bucin, namun jika diperhatikan lebih dekat, sama sekali engga kok. Film ini justru mengajarkan soal bagaimana kita mengejar mimpi dan asmara, terutama untuk bersikap lebih asertif soal perasaan.

Cerita gampangnya, Amasawa menyatakan perasaan kepada Shizuku dan akhirnya mereka jadian. Di sini saya belajar, kalau memang punya perasaan sebaiknya langsung katakan saja pada yang bersangkutan dan jangan menunggu terlalu lama.

Kebanyakan orang percaya bahwa ‘cinta bakal datang di waktu yang tepat’. Namun, tidak ada salahnya untuk menyatakan perasaan dengan segera. Urusan ditolak ya wajar, toh hidup memang penuh dengan kejutan. Jadi, urusan ditolak adalah wajar-wajar saja.

***

Saya rasa, ketika memasuki usia 20-an menjadi bingung adalah hal yang wajar. Toh, tidak pernah ada yang memberitahu kita bahwa ‘Hey, berhati-hati di usia 20 tahun, hidupmu bakal berubah’ kan tidak? Sama seperti Chihiro saat ia melintasi terowongan misterius, tidak ada yang tahu bahwa itu akan mengantarnya ke dunia roh dan mengubah hidupnya.

Sebenarnya, film-film yang saya sebutkan tadi memiliki benang merah. Yaitu percaya pada diri sendiri. Quarter life crisis memang menjadi momok terbesar dalam hidup. Seolah-olah hidup bakal berakhir apabila kita tidak memenuhi ekspektasi sosial.

Dibanding mengenyangkan ekspektasi masyarakat, mengapa kita tidak fokus pada diri sendiri dan terus berkembang seperti Chihiro, Kiki, dan juga Shizuku?

Penulis

Yosua Diapras Pirera

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp