Mengenang Yellow Pages: Mulai Tukang Ledeng, Sampai Toko Mesum

Mengenang Yellow Pages: Mulai Tukang Ledeng, Sampai Toko Mesum

Yellow Pages

Baru saya mahfum, ternyata yellow pages pun menyediakan informasi berbau mesum.

Kapan terakhir kali Anda membuka buku telepon? Atau kapan terakhir kali Anda membuka yellow pages dalam buku itu? Atau jangan-jangan memegang buku telepon pun sama sekali tak pernah? Atau bahkan sama sekali tak tahu-menahu apa itu buku telepon dan yellow pages?

Bagi generasi yang hidup di tahun 1980 – 1990-an, di masa keemasan telepon kabel, memiliki buku telepon adalah keniscayaan. Buku telepon adalah kitab primbon yang bisa digunakan untuk menemukan hampir semua informasi. Mulai dari nomor polisi, pemadam kebakaran, tukang ledeng, sedot tinja, pembesar payudara, bahkan nomor telepon rumah gebetan. Terlebih lagi di tahun segitu, saat telepon kabel masih menjadi barang mewah, kegiatan menelepon antar mereka yang punya pesawat telepon dianggap sebentuk eksklusivitas.

Demikian juga dengan buku teleponya. Baik telepon rumah dan bukunya adalah sepaket variabel yang menggambarkan strata kaum borjuis dan melek teknologi. Punya telepon otomatis dianggap punya akses pada informasi yang lebih luas. Kalau sekarang mungkin analog dengan kepemilikan wifi pribadi.

Zaman belum ada Google, menghubungi 108 atau membuka buku telepon adalah sebaik-baiknya kegiatan mencari informasi. Anda bisa menanyakan, minimal, nomor telepon dan alamat kantor atau tempat usaha tertentu. Misal, Anda butuh tukang ledeng. Ada banyak pilihan penyedia jasa perbaikan saluran air yang mencantumkan nomor telepon dan alamat di yellow pages. Tinggal pilih saja.

Cara lain adalah, dengan menghubungi 108 itu tadi dan menanyakan penyedia jasa reparasi ledeng yang terdekat dengan tempat tinggal Anda. Pihak operator akan dengan senang hati menunjukkannya. Kalau beruntung, telepon Anda akan dijawab oleh operator wanita bernama Peronica.

Tentu saja Telkom zaman old tidak menggunakan algoritma pencari lokasi seperti Google yang bisa mereferensikan informasi yang paling dekat dengan lokasi Anda. Meski demikian, ada saja orang yang heran saat menelepon operator dan menanyakan penyedia jasa tertentu, kemudian diarahkan ke suatu tempat yang lokasinya tak jauh dari tempat tinggalnya. Barangkali inilah cikal bakal algoritma “what’s near you” yang digunakan sekarang.

Telkom zaman dulu mungkin menjadi satu-satunya penyedia jasa telekomunikasi yang memonopoli arus informasi dalam jaringan, sehingga kita bisa menanyakan hampir semua informasi yang dibutuhkan selama memiliki pesawat telepon.

Menghubungi nomor 108 itu gratis. Melalui telkom 108, kita juga bisa mendapatkan informasi nomor telepon dan alamat tertentu. Tentu saja nomor telepon sudah cukup. Menghubungi seseorang di masa itu belum memerlukan instant message apalagi email.

Dinamakan yellow pages karena memang entitasnya adalah setumpuk halaman dalam buku telepon yang dicetak dengan kertas berwarna kuning. Bedanya dengan yang dicetak menggunakan warna putih (white pages), yellow pages khusus mencantumkan nomor telepon dan alamat perusahaan, jenis usaha, atau profesi, sedangkan white pages mencantumkan nomor telepon pengguna aktif jaringan telepon kabel yang berlangganan ke Telkom.

Seperti fungsinya, yellow pages memuat bidang usaha tertentu yang bersifat komersil. Artinya, dalam yellow pages, jika ingin nama usaha anda muncul disitu, anda harus membayar sejumlah biaya advertensi. Sedangkan dalam white pages, nama anda akan tetap berada di sana selama masih berlangganan telepon kabel.

Pernah suatu saat keluarga kami memasang telepon kabel baru. Diperlukan waktu hampir dua bulan sejak datangnya pesawat telepon hingga telepon benar-benar berfungsi dan bisa digunakan menghubungi sanak kerabat. Girang bukan main, saya gunakan untuk menelpon teman-teman satu kelas. Karena dalam benak saya penggunaan telepon rumah adalah ‘bebas biaya’, asyik saja ngobrol lama dengan seorang teman.

Sampai suatu saat ayah saya marah-marah di akhir bulan karena tagihan telepon mencapai Rp 150.000,-. Angka yang sangat besar di masa itu untuk sebuah pembiayaan kebutuhan sekunder. Sejak itulah saya paham kalau memakai telepon harus bayar.

Saya pernah menggunakan yellow pages untuk suatu keperluan. Waktu itu sumur rumah kami keruh. Sedangkan, ayah sedang bekerja. Saya disuruh ibu untuk nge-bell tukang sumur, lalu mengajari saya untuk membuka yellow pages.

Persis seperti proses pencarian Google di masa sekarang. Anda memerlukan kata kunci tertentu. Waktu itu kata kunci yang saya gunakan untuk melacak tukang sumur adalah “tukang sumur/yogyakarta”. Pencarian berhasil, tukang sumur pun datang.

Pernah pula saya menggunakan yellow pages bersama seorang kawan, kami adalah partner in crime, sebut saja Abdul. Karena dia anak orang ‘berada’, mahalnya biaya telepon bukan masalah. Suatu ketika, Abdul membuka yellow pages dan menemukan sesuatu, saya mengamati. Tak lama, Abdul mulai memutar angka. Saya tak paham apa yang dilakukan, sampai dia bicara dengan seseorang diujung sana:

“Selamat sore, disini jual boneka vagina getar?”

Baru saya mahfum yellow pages menyediakan informasi berbau mesum. Lain hari saya mencobanya sendiri.

Seperti yang telah saya jelaskan, dekade 1980 – 1990-an, memiliki pesawat telepo dapat membuat seseorang dianggap ‘berpunya. Dan, kepada siapa dia menelepon akan lebih menegaskan status priyayinya. Seperti cerita saat saya sedang main ke rumah seorang kawan lainnya, kali ini sebut saja Dicky, dari siang sampai malam.

Orang tua Dicky pergi saat malam. Karena tak punya pembantu dan tidak bisa masak, kami kelaparan. Dicky menelepon seseorang. Tentu belum ada ponsel waktu itu dan tidak mungkin Dicky mengadu kelaparan pada ibunya. Selesai menelepon Dicky kembali nonton TV.

Tak lama kemudian datanglah mas-mas dengan sepeda motor. Mas-mas itu membawa sebuah kotak kardus persegi pipih dan sebuah kantong kresek. Dicky menerima kemudian membayar. Saat dibuka, ternyata dalam kotak kardus pipih itu berisi pizza, dan dalam kantong kresek itu terdapat dua gelas besar jus melon. Terbebaslah kami dari kelaparan.

Selesai makan saya bertanya, “ini harganya berapa?”

“Sama minum Rp 30.000,” jawab Dicky enteng.

“Alamaaak, mahalnya…” saya mbatin.

Di masa BBM masih Rp 700,-/liter dan beras Rp 1000,-/kg, mengeluarkan uang Rp 30.000 untuk seporsi makanan tentu sangat mahal. Itulah kenapa memiliki pesawat telepon dan siapa yang anda telepon bisa membuat status ningrat makin kokoh. Dan Rp 30.000 untuk seporsi makanan hanya bisa dibayarkan oleh orang yang benar-benar ‘longgar’ finansialnya. Yang paling penting, memesan makanan melalui jasa delivery order adalah bentuk layanan yang masih langka di zamannya.

Saya sih enjoy aja, orang dibayarin. Hehehe…

Akhir kata, saya mengajak segenap saudara mengheningkan cipta sejenak untuk mengenang jasa-jasa buku telepon beserta yellow pages-nya. Karena daripadanya kita semua bisa selamat dari WC mampet, keran bocor, dan juga gebetan yang ngambek minta ditelpon..

Mengheningkan cipta… Mulai…

Penulis

Rahman Alboneh

Alumni Fakultas Pertanian UGM, penikmat kopi seribu maratusan, dan seni kontemporer. Pengagum Pram, dan selalu jatuh cinta dengan Annelis Mellema.
Opini Terkait
Ilustrasi Peringkat Media Online di Malang
Studio Musik: Nasibnya Kini
opini cara terbaik menghadapi netizen min optimized
opini whisper dan dakwah min min optimized
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp