Dilarang Membuat Pohon Bahagia

Ilustrasi/Rizqi Ramadhani Ali

Cerita ini datang dari sebuah kota di ujung timur sebuah pulau yang bernama Java. Kota itu bernama Sendu. Nama yang memang cukup aneh untuk sebuah kota. Sebenarnya sang pendiri kota konon ingin menamai kota itu dengan sebuah kata yang menggambarkan suasana yang muram, sedih dan mengharukan. Ada banyak kata sebenarnya untuk mewakilinya seperti Sendu, Galau, dan juga Malang. Tapiakhirnya ia memutuskan untuk memakai nama Sendu.

Tak pentinglah soal nama kota, apapun maksudnya,terserah ia yang menamainya. Sebenarnya ini tentang cerita seorang bocah yang memiliki sebuah keajaiban luar biasa. Di kota Sendu, hiduplah bocah laki-laki bernama Anto. Ia adalah keturunan dari Raja yang masyhur. Namun tak diketahui apa nama kerajaan itu, kapan, dan di mana pernah ada. Pokoknya seorang Raja.

Si bocah ini memiliki sebuah keajaiban yang tak mungkin dapat dimiliki oleh bocah seumurannya, dan bahkan orang dewasa sekalipun. Keajaiban itu ialah ketika ia menginginkan sesuatu maka tak ada yang bisa menghalanginya. Bagaimana? luar biasa bukan keajabainya.

Keajaiban itu tidak datang dari langit. Anto percaya itu. Keajaiban tidak datang semisterius tongkat Musa yang membelah lautan atau kaki bayi yang tiba-tiba mengeluarkan mata air. Anto percaya jika semua itu ada tips dan triknya yang bisa dipelajari semua orang, termasuk dirinya. Maka ia mulai belajar dari buku-buku tentang kiat sukses membuat keajaiban. Salah satu yang ia baca ialah cerita tentang seorang raja dari negeri mesir dengan gelar Fir’aun. Menurutnya, cerita tentang Fir’aun adalah cerita yang mampu mebuat kepalanya pecah menjadi berkeping-keping. Cerita yang begitu menginspirasi!

Mulailah ia bertingkah, ketika jalan-jalan sore ke Alun-alun kota Sendu, ia melihat-lihat suasana sekelilingnya. Bermacam orang ada di alun-alun itu. Sampai pada akhirnya matanya berhenti pada sebuah pohon beringin tua yang berada sudut alun-alun itu. Ia terdiam sejenak, memperhatikan detail beringin tua dengan akar-akar yang menggelantung pada batangnya.

“Itu mirip rambut si Bro. Sedikit lusuh dan mengerikan,” gumamnya.

Seorang gadis dengan topi kuning tiba-tiba membuyarkan lamunan Anto. Ia berjalan mengendap-ngendap dari belakang Anto, lalu, “hayooo.. apa yang kau lihat? pasti lihat orang pacaran. Itu tak pantas, Anto, kan kamu masih bocah.”

Gadis itu membuka pembicaraan. Anto kaget bukan kepalang, lamunannya buyar seketika. Tapi kekagatennya segera mereda karena geli mendengar basa-basi murahan dari si gadis. Dalam hati ia menggerutu, “apa yang ia lihat! bahkan tak ada manusia pun kearahku melamun.”

“Aku sedang melihat-lihat pohon itu”, sambil menunjuk ke arah beringin tua.

“Memang, ada apa dengan pohonnya? kok kamu lihatin. Kamu gak sedang kesurupan Jin pohon beringin itu kan?”

“Siapa pun Jin yang berani memasuki tubuhku, mereka harus berhadapan dengan para sesepuhku,” Anto tersenyum kecil.

“Setelah mengamati Pohon itu, aku merasa kasihan dengannya, paling tidak aku ingin membuatnya bahagia.”

Merasa aneh dengan sikap Anto, si perempuan bertopi kuning mulai mengelurkan siasat agar segera pergi.

Eh Anto, aku tadi terpisah dari rombongan keluargaku yang berjalan-jalan di  sekitar sini, aku pergi dulu ya untuk segera menyusul mereka.”

“Oh, baguslah.”

“Apa tadi kau bilang, baguslah?”

“Ah, tidak-tidak, lupakan,”Anto cepat-cepat berkelit.

Perempuan itu pun segera pergi. Anto kembali mengamati beringin tua itu, kemudian menghampirinya. Pohon beringin tua berdiri kokoh di pojok taman Alun-alun, akar bagian bawahnya dikelilingi oleh bangunan melingkar yang dapat dimanfaatkan pengunjung untuk duduk dan berteduh. Tak jarang sebagai pengunjung menjadikanya tempat untuk memadu kasih.

Ia duduk di bawah pohon tua itu. Anto mulai mengajak beringin bicara. “Hai Pohon, berapa usiamu?”.

“Rupanya ada juga yang tahu aku bisa bicara, sejak 200 tahun aku tumbuh hanya kau anak muda yang mendengarkan aku bicara,” jawab Beringin. Sebelumnya, Beringin tak mengira ada orang yang mengerti ia bisa bicara.

Lalu Anto pun mulai banyak bertanya. “Sepanjang waktu itu tak ada yang mangajakmu bicara? Sungguh malang nasibmu, ya.”

“Sebenarnya di masa penjajahan dulu pernah ada Londo yang mengajakku bicara. Aku masih kecil waktu itu, dan tak tahu kalau Londo itu mengajakku bicara. Aku pikir ia gila.”

Ia kemudian melanjutkan, ketika tumbuh dewasa di tempat ini, ia mulai kesepian, maka ia beranikan untuk berbicara pada manusia.

Saat itu ketika hari telah petang dan jalanan mulai sepi. Ia melihat seorang laki-laki tua yang sedang menyapu di bagian bawah tubuhnya, dan mulai mengajaknya bicara. Sial baginya, baru beberapa patah kata, mereka justru lari tunggang-langgang. Seminggu setelah kejadian itu ia merasa dijauhi oleh para manusia. Anak-anak kecil yang biasa main disekitarnya pun tak lagi terlihat batang hidungnya. Dari kabar burung-burung yang tiap pagi hinggap di batangnya, para manusia itu ketakutkan.

“Mereka mengira jika ada setan di dalam diriku dan aku membuat mereka merasa sial. Sejak saat itu,aku menganggap manusia itu gila. Aku ini pohon, bukan setan!”

“Lantas, kenapa kau mau bicara denganku?” Anto terus saja bertanya.

“Dasar bocah! kau sendiri mengapa mengajaku bicara? aku tak mungkin bicara kalau aku tau kau sama dengan mereka.”

“Baiklah, baiklah, aku lupa aku yang mengajakmu bicara. Ngomong-ngomong kau terlihat begitu tua ya, tubuhmu kelihatan angker sekali. Kukira, tak salah kalau orang-orang takut.”

“Seandainya aku hidup di zaman nenek moyangku dulu,” tandas Beringin tiba-tiba.

“Memang kenapa di jaman nenek moyangmu?”

“Konon, orang-orang begitu memuja mereka, kau tahu, orang-orang sepertimu meyembah dan melayani kami. Tapi itu dulu. Aku sendiri juga tidak tahu.”

Dari cerita itu si Anto tiba-tiba berfikir untuk melakukan sesuatu, ia ingin mebuat sang pohon merasa bahagia.

“Pohon, karena aku kasihan melihatmu dirimu, bolehkah aku membuatmu bahagia?” Anto mengajukan tawarannya. Mendegar tawaran si bocah, Beringin pun tentu senang bukan main. Ia mengebas-ngebaskan semua ranting yang ada di ujung batang-batang tubuhnya hingga burung-burung keluar dari sarangnya.

“Benarkah? Aku sangat berterimakasih. Dari dulu aku ingin sekali merubah warna tubuhku.”

Beringin merasa warna tubuhnya tak pernah berubah sejak dulu, dan tentu saja tak sedap dipandang. Ia tampak seperti barang usang yang tak pernah diperhatikan. Dengan warna ini, ia yakin oran-orang akan ketakutan.

“Aku ingin seperti bunga warna-warni. Dapatkah kau memberikan warna baru pada tubuhku?”

Sejenak Anto terdiam untuk memikirkan cara dan ia menjawab, “jadi itu saja? baiklah kalau begitu, aku akan memberikan warna baru untukmu.”

Setelah beberapa hari, datanglah  segerombolan orang menuju beringin tua itu. Orang-orang datang atas perintah si bocah. Mereka membawa barang-barang yang tak ia ketahui namanya. Lagipula, apa pentingnya pohon tahu macam-macam  barang manusia.

Orang-orang itu mulai mangaduk cairan berwarna-warni dan mulailah mereka mengecat setiap sisi batang pohon beringin tua itu. Batang-batang dan setiap akar yang menjuntai ke bawah tak luput dari semprotan dan kuas yang digunakan oleh orang-orang. Mereka mewarnai pohon dengan beberapa macam warna. Ada kuning, hijau, biru dan merah.

Setelah orang-orang itu selesai, si bocah menghampiri beringin tua itu. Lalu ia bertanya, “bagaimana Pohon, sudahkan aku mebuatmu bahagia?”

Tapi pohon tua itu tak lagi menjawab. Sehari setelah pembicaraan itu, sekelompok orang mendatangi rumah si bocah, sambil bernyanyi dan berteriak di depan rumah si bocah mereka membawa sebuah kain lebar bertuliskan “Dilarang membuat Pohon Bahagia.”

Iqbal F. Randa
Tukang tulis keliling. Kuat dalam duel udara, lemah pada penyelesaian akhir.