Puisi-Puisi Alfin Rizal

Puisi-Puisi Alfin Rizal

no credit image

Januari

 

Sejak kapan kita mulai suka berpuisi

Jika bukan sejak januari

Puisi bertebaran,

Doa berpanjatan

entah sampai kemana

entah hilang dimana

Sejak kapan kita mulai suka berharap

Jika bukan sejak januari

Cita-cita tetiba akrab

Keinginan segera menyergap,

entah sumpah atau sampah,

entah janji atau jeruji

 

2017

 


Hari Kemerdekaan

 

Hari ini tidak seperti hari kemarin

Bendera kampung kibar warna digoyang angin

Minggu ini tidak pula seperti minggu yang lalu

Bendera lelayu sudah diganti dengan merah putih itu

Nenek bertanya lagi seperti semalam

Tentang keramaian,

 

dalam pidato pak Lurah:

“Hari ini kita memperingati Kemerdekaan!”

Belum sempat kujelaskan, nenek menggandengku

Kami berjalan menyusuri setapak sawah

 

Mercon beradu teriak dengan suara masyarakat

Berlomba memakan kerupuk dan balap karung

Pak Lurah masih terdengar berkomentar

Pertandingan siang itu kusaksikan dalam bayangan,

 

dalam perjalanan nenek berbisik lagi:

“Kakek dulu ikut perang,

Kita akan menemui kakek.”

Aku tak menolak

 

Sesampai di rumah kakek,

Di samping batu nisan yang dikelilingi anggrek

Nenek berbisik lagi:

“Beruntunglah kau di surga,

Sebab di sini, penjajah datang lagi,

Kali ini saudara kita sendiri.”

 

Agustus 2016

 


Sajak Biru

-Mark Zuckerberg

 

“Hot or Not?”

Katamu waktu itu

Ribuan wajah memunculkanmu

Tali temali kehidupan mengikat jiwa

Kata bersulam dana, tegur sapa

Dalam otak birumu itu,

Terselipkah pikiran merayu?

 

Catatan perjalanan cintamu

Memenuhi jendela kamar sosial

Dunia kedua untuk saling kenal

Tanpa bertemu,

Bahkan bisa sembunyi di balik bantal

 

Sejak sajak biru

Yang kau tangkap lewat matamu ..

Bung! Sederet lelakumu, menyadarkanku.

 

2016

 


Aku adalah Tunas

 

Berawal darimana manusia

Jika bukan atas kehendak-Nya

Dan hasil rayuan cinta manusia

 

Berawal darimana nafas

Jika bukan atas ijin-Nya

Pemilik semesta luas

 

Aku adalah tunas,

Mengeja nama penuh batas

Maka digiring ke cakrawala bias

Agar tumbuh menjadi pencari yang jelas

 

Aku adalah tunas,

Di tanah subur sabar ilmu

Di karang kering kurang tahu

Yang berharap segera tahu

 

Aku adalah tunas,

Yang ditanam penuh doa

Disiram penuh makna

Dididik penuh panen merdeka

 

Maret 2017

 


Dies Mortalis

Andre Tanama[1]

 

Kau setengah berlari

memakai cawat sendiri

bilalah aku ada bersamamu

waktu itu,

kuingin tahu gerus jiwamu!

 

kau serupa penyihir, Ndre!

gemetar, sajak yang kau baca

tentang pak Jangkis yang menangis,

boleh jadi sebab haru atau teriris

menyapu debu-debu, kampus magis

 

saat itulah, tanpa kenal

kau membuat memoriku kekal

tentang gerak yang tak berlagak

atau gerik yang tak menghardik

 

barangkali kau bermimpi

dalam lelap gadis tak punya senyum

atau bocah naga,

yang keluar dari dada kecilnya?

 

Saat kutulis sajak ini,

selanjutnya hujan turun dengan deras,

kisahmu termaktub,

dalam memori, menggantung

di antara langit dan bumi!

 

Kemudian kutemui kau, Ndre!

bersama hitam kopi dan belaian waktu

dongeng tuhan membumi,

sepersekian masa bernyawa

mencari,

mencari,

dan mencari.

 

2015

 


[1] Albertus Charles Andre Tanama adalah seorang seniman, dosen di ISI Yogyakarta, penulis buku N, SAN

 


Sewon

 

Bau cat minyak bekas pelukis

menusuk-nusuk hidungku yang tipis,

menghapus aroma ayam goreng tetangga

yang dipamerkan,

tanpa perayaan seperti kawan-kawanku

 

Jangan pamer! Kata ibuku,

Hanya ketika di Sewon

aku disuruh pamer,

oleh dosen tentu saja.

 

2016

 

DIPUBLIKASI

Alfin Rizal

Mahasiswa seni rupa yang juga menyukai sastra. Saat ini tercatat sebagai mahasiswa aktif di Fakultas Seni Rupa (Murni: Seni Lukis) Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Karyanya telah dibukukan dan juga dimuat dalam beberapa judul buku.